Konten dari Pengguna

Kita Memang Bukan Monyet, Tapi Bisakah Kita Hidup Tanpa Mereka?

Janzuar Ramadhany

Janzuar Ramadhany

Alumni UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, profesional di bidang finansial. Di sela pekerjaan, aktif menulis lepas seputar isu sosial, lingkungan, dan budaya populer.

·waktu baca 6 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Janzuar Ramadhany tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sepasang monyet ekor panjang. Kredit foto: TheOtherKev/Pixabay https://pixabay.com/id/photos/sepasang-long-tailed-macaque-4493902/
zoom-in-whitePerbesar
Sepasang monyet ekor panjang. Kredit foto: TheOtherKev/Pixabay https://pixabay.com/id/photos/sepasang-long-tailed-macaque-4493902/

Pernahkah Anda terjebak macet di jalur menuju Puncak atau menunggu giliran masuk ke lokasi wisata, lalu mendadak melihat sosok abu-abu berkelebat di atap mobil? Atau sekelompok satwa duduk santai di pinggir jalan, memperhatikan lalu lintas seakan sedang menonton pertunjukkan? Itulah monyet ekor panjang, bersama kerabatnya yang bertubuh lebih besar, si beruk.

Interaksi dengan mereka kerap memunculkan dua reaksi: terkagum karena tingkahnya yang menghibur atau menyebalkan karena mereka mencuri makanan. Mereka hadir di sekitar kita, menjadi bagian dari lanskap kehidupan sehari-hari dan sering kali tanpa kita sadari, peran mereka begitu penting. Namun, coba bayangkan: bagaimana jika suatu hari kehadiran mereka benar-benar lenyap? Apa akibatnya jika hutan dan lingkungan kita tiba-tiba kehilangan makhluk yang selama ini dianggap sekadar latar?

Pertanyaan ini mungkin terdengar berlebihan. Toh, masa depan manusia tidak sepenuhnya bergantung pada monyet, bukan? Tapi setelah mendengar penuturan para pegiat konservasi dan melihat data di lapangan, pandangan itu mulai goyah. Persoalannya bukan sebatas "apakah kita bisa hidup tanpa mereka", melainkan "seperti apa rupa dunia yang akan kita huni jika mereka hilang".

Kita kerap menilai mereka hanya dari apa yang tampak: pengganggu, pencuri makanan, atau perusuh atap rumah. Namun, sebenarnya monyet memainkan peran penting yang jarang terlihat. Mereka ibarat tukang kebun sekaligus arsitek bagi hutan tropis. Setiap hari mereka menjelajah jauh, memakan buah-buahan, lalu menyebarkan bijinya melalui pencernaan. Proses yang disebut seed dispersal ini adalah jasa ekologi yang tak ternilai: memastikan hutan tetap bisa beregenerasi, terus muda, dan tetap hijau. Tanpa mereka, banyak pohon besar—terutama beringin (Ficus spp.) yang menjadi penopang ekosistem—akan kesulitan memperluas persebarannya.

Hutan perlahan menua, rapuh, dan kehilangan kemampuan memulihkan diri. Dampaknya langsung terasa pada kita: berkurangnya sumber air, kualitas udara menurun, hingga meningkatnya risiko banjir dan longsor.

Ilustrasi monyet rhesus pemakan biji kopi Foto: Dok.Shutterstock

Konflik manusia dengan monyet menjadi isu yang sering kita dengar. Ladang dirusak, panen dicuri, dan rumah diterobos. Emosi manusia mudah tersulut dan manusia sangat cepat untuk memberi label “hama” kepada monyet. Namun jika kita tarik mundur ke beberapa dekade lalu, kawasan yang kini menjadi jalan tol, permukiman, atau perkebunan dulunya adalah habitat mereka. Manusialah yang mempersempit ruang hidup mereka dan memutus koridor pergerakan antarpopulasi.

Dalam kondisi terjepit, sumber makanan alami menyusut sehingga pilihan mereka terbatas. Maka mereka belajar beradaptasi: mencari makanan di sekitar manusia. Apa yang kita anggap “nakal” sesungguhnya adalah strategi bertahan hidup dari invasi besar-besaran yang kita lakukan.

Data dari Yayasan International Animal Rescue Indonesia (YIARI) menegaskan terkait kerumitan persoalan ini. Sejak 2013, Pusat Rehabilitasi Primata di Bogor telah menampung lebih dari 460 primata hasil penyelamatan. Di balik angka itu terselip kisah nyata: bayi primata yang jadi korban perdagangan ilegal, primata dewasa yang terluka oleh jerat, hingga yang kehilangan rasa takut pada manusia karena terlalu sering berinteraksi. Konflik manusia-satwa dan perdagangan ilegal menjadi penyumbang utama masuknya mereka ke pusat rehabilitasi. Pada dasarnya, mereka yang ada di sana adalah korban dari hubungan timpang yang kita ciptakan.

Secara biologis, manusia mungkin masih bisa bertahan hidup tanpa monyet. Namun, dunia yang kita tinggali akan jauh lebih rapuh dan miskin. Hilangnya mereka bagaikan mencabut satu kartu dari rumah kartu: efek domino yang tak terhindarkan. Hutan kehilangan kemampuan regenerasi, beberapa jenis pohon menurun populasinya, satwa lain ikut terancam, dan ujung-ujungnya kehidupan manusia terguncang—mulai dari kekeringan, gagal panen, hingga dampak krisis iklim. Maka, pertanyaan yang ada seharusnya bukan lagi “bisakah kita hidup tanpa mereka?”, melainkan “apakah kita mau hidup di dunia yang rapuh tanpa mereka?”

Masa depan konservasi monyet ekor panjang dan beruk sangat ditentukan oleh cara kita mengambil keputusan hari ini. Ada proyeksi yang optimistis: jika habitat mereka dijaga dan koridor hutan dipulihkan, populasi bisa stabil, hutan tetap sehat, dan risiko konflik berkurang. Tetapi ada pula proyeksi muram: jika deforestasi terus berjalan dan perdagangan satwa liar tidak terkendali, spesies ini perlahan akan menyusut hingga hanya tersisa di pusat-pusat rehabilitasi. Pilihan yang kita buat sekarang akan menentukan skenario mana yang akan terjadi.

Salah satu kunci adalah mengembalikan ruang hidup mereka. Langkah yang sangat penting untuk dilakukan yaitu pemulihan habitat, penanaman kembali pohon-pohon pakan, dan pembangunan koridor hutan untuk menghubungkan populasi yang terfragmentasi. Tanpa hal itu, upaya penyelamatan dan pelepasliaran hanya akan menjadi tambal sulam. Selain itu, penegakan hukum terhadap perdagangan ilegal harus diperkuat. Selama permintaan terhadap bayi monyet peliharaan masih tinggi, rantai kekerasan terhadap satwa ini akan terus berulang.

Ilustrasi monyet ekor panjang. Foto: Patrik Lumintu/Shutterstock

Masyarakat di sekitar habitat juga perlu dilibatkan secara lebih aktif. Program-program konservasi yang sukses biasanya bukan hanya soal satwa, tetapi juga soal manusia. Edukasi tentang pentingnya peran monyet dalam menjaga hutan, harus dikombinasikan dengan insentif ekonomi seperti ekowisata berbasis komunitas sehingga bisa menciptakan situasi di mana masyarakat justru menjadi garda terdepan pelindung satwa. Bayangkan jika kita melihat monyet liar bukan sekadar tontonan atau ancaman, melainkan aset ekologi dan budaya yang memberi manfaat jangka panjang.

Teknologi juga membuka peluang baru. Dengan sistem pemantauan berbasis trap camera, drone, hingga analisis DNA lingkungan, kita bisa mengetahui kondisi populasi monyet dengan lebih akurat. Data yang kuat akan membantu perencanaan konservasi yang lebih tepat sasaran. Jika didukung oleh kebijakan pemerintah yang berpihak pada lingkungan, kita akan melihat model pengelolaan hutan yang lebih seimbang antara kebutuhan manusia dan kelestarian satwa.

Lebih jauh lagi, konservasi monyet ekor panjang dan beruk pada akhirnya juga berkaitan erat dengan kualitas hidup manusia di kota. Hutan yang sehat menghasilkan oksigen, menyerap karbon, menjaga ketersediaan air bersih, dan mengurangi dampak bencana alam. Artinya, setiap langkah untuk melindungi mereka sebenarnya adalah investasi jangka panjang bagi kesehatan masyarakat, ketahanan pangan, dan stabilitas iklim. Dengan kata lain, menyelamatkan mereka berarti menyelamatkan diri kita sendiri.

Namun semua proyeksi itu kembali pada satu hal sederhana yaitu kesadaran. Selama kita masih memandang monyet hanya sebagai pengganggu, langkah-langkah konservasi akan berjalan setengah hati. Sebaliknya, jika kita melihat mereka sebagai bagian penting dari sistem yang menjaga kehidupan kita sendiri, maka setiap upaya kecil—tidak memberi makan satwa liar, menolak atraksi foto dengan monyet, mendukung organisasi konservasi—akan menjadi batu pijakan bagi masa depan yang lebih lestari.

Melindungi monyet ekor panjang dan beruk bukan sekadar soal menyayangi satwa. Ini adalah pengakuan bahwa manusia bukan satu-satunya penghuni planet dengan hak untuk hidup. Bahwa kita semua terhubung dalam jejaring kehidupan yang rapuh sekaligus indah. Kita memang bukan monyet. Namun, masa depan kita turut ditulis oleh bisik angin di antara pepohonan, kepakan sayap kupu-kupu, dan suara monyet yang masih bergema di hutan lestari. Pertanyaannya: Akankah kita menjaganya atau hanya menceritakan tentang mereka sebagai dongeng masa lalu kepada anak cucu kita?