Film Home Sweet Loan: Ketika Rumah Menjadi Impian Sekaligus Beban

Mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Sebelas Maret (UNS)
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Jasmina Fathiya Khansa tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Judul: Home Sweet Loan
Sutradara: Sabrina Rochelle Kalangie
Tahun rilis: 2024
Genre: Drama, keluarga
Durasi: ±112 menit
Resensi:
Home Sweet Loan merupakan film drama keluarga yang diadaptasi dari novel karya Almira Bastari. Film ini mengikuti perjuangan Kaluna (Yunita Siregar), seorang pekerja dengan kondisi ekonomi terbatas yang ingin memiliki rumah sendiri. Sebagai bagian dari sandwich generation, Kaluna harus membagi penghasilannya untuk membantu kebutuhan keluarga, sehingga impiannya memiliki rumah terasa semakin sulit diwujudkan.
Akting Yunita Siregar sebagai Kaluna mampu menggambarkan dilema, kelelahan, sekaligus keteguhan seorang perempuan yang berusaha memperjuangkan hidupnya sendiri. Kehadiran Derby Romero sebagai Danan juga memberikan warna yang lebih ringan di tengah konflik keluarga dan masalah finansial yang dihadapi Kaluna.
Film ini menarik karena mengangkat persoalan yang dekat dengan kehidupan anak muda, tentang sandwich generation. Kaluna digambarkan sebagai anak bungsu yang masih tinggal bersama keluarga dan merupakan seorang perempuan pekerja yang berusaha mewujudkan keinginannya untuk memiliki rumah sendiri di tengah berbagai persoalan keluarga. Meskipun sudah memiliki pekerjaan dan penghasilan sendiri, kehidupannya tidak sepenuhnya menjadi miliknya. Ia masih harus membantu berbagai kebutuhan keluarga, mengurus pekerjaan rumah, bahkan mengorbankan kenyamanan pribadinya.
Bahkan, ketika masalah utang kakaknya muncul, tabungan yang selama ini dikumpulkan Kaluna untuk membeli rumah ikut terancam. Konflik tersebut terlihat jelas dalam percakapan antara Kaluna dan kakaknya. Ketika kakaknya meminta bantuan karena keluarga terancam kehilangan rumah, Kaluna akhirnya meluapkan rasa kecewanya:
“Gue juga udah gak punya tempat di rumah ini, udah kalian gusur kan sampai ke belakang. Hidup gue di sini juga udah kayak pembantu, terus sekarang gara-gara kebodohan lu, masih harus gue juga yang nanggung?!”.
Dialog tersebut menjadi salah satu bagian penting karena memperlihatkan bahwa persoalan Kaluna bukan hanya mengenai uang. Ada akumulasi rasa lelah, tidak dihargai, dan perasaan bahwa dirinya selalu menjadi pihak yang harus berkorban. Dari perspektif komunikasi keluarga, konflik ini menunjukkan adanya ketimpangan dalam pembagian peran dan tanggung jawab. Masalah yang seharusnya menjadi tanggung jawab satu anggota keluarga akhirnya berdampak pada anggota lainnya.
Film ini juga memperlihatkan bahwa komunikasi dalam keluarga tidak selalu berlangsung secara terbuka. Banyak kebutuhan Kaluna dianggap sebagai sesuatu yang sudah sewajarnya ia lakukan. Ketika anggota keluarga membutuhkan bantuan, namanya sering kali menjadi salah satu yang pertama disebut. Akibatnya, beban tersebut seperti menjadi rutinitas yang tidak lagi dipertanyakan.
Secara teknis, Home Sweet Loan memiliki sinematografi yang sederhana tetapi efektif dalam menggambarkan keseharian Kaluna. Tata artistik pada rumah dan lingkungan kerja terasa realistis sehingga mendukung latar kehidupan kelas menengah. Akting para pemain, terutama Yunita Siregar, juga terasa natural dan mampu menyampaikan emosi melalui ekspresi serta gestur. Penggunaan musik dan soundtrack turut memperkuat suasana emosional dalam beberapa adegan.
Meski demikian, film ini masih memiliki beberapa kekurangan teknis. Pada beberapa bagian, tempo cerita terasa cukup lambat sehingga membuat alurnya kurang dinamis. Penggunaan musik yang cukup dominan juga terkadang membuat beberapa adegan terasa terlalu diarahkan secara emosional. Selain itu, terdapat beberapa adegan dengan banyak karakter yang membuat fokus visual dan emosi penonton sedikit terbagi.
Home Sweet Loan bukan sekadar film tentang seseorang yang ingin membeli rumah. Film ini berbicara tentang keluarga, uang, pengorbanan, kemandirian, dan proses menjadi dewasa. Rumah yang pada awalnya terlihat sebagai tujuan sederhana berubah menjadi simbol dari perjuangan Kaluna untuk memiliki kehidupan yang lebih mandiri.
Film ini juga menunjukkan bahwa menjadi dewasa tidak selalu berarti mampu memenuhi semua kebutuhan orang lain. Ada saat ketika seseorang perlu memikirkan dirinya sendiri dan berani menentukan batas. Melalui perjalanan Kaluna, Home Sweet Loan mengajak penonton melihat bahwa di balik keinginan untuk memiliki rumah, terdapat perjuangan yang jauh lebih besar yaitu perjuangan untuk memiliki ruang bagi diri sendiri.
