Generasi yang Sibuk Mendokumentasikan Momen, tetapi Lupa Menikmatinya

Mahasiswi Aktif Ilmu Komunikasi Universitas Medan Area.Aktif menulis opini mengenai isu sosial, komunikasi, dan pembangunan sebagai bentuk kontribusi melalui karya tulis.
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari Jasmine Annisa Rizki Dalimunthe tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pernahkah kita melihat pemandangan yang sama hampir di setiap tempat? Saat konser dimulai, puluhan bahkan ratusan ponsel langsung terangkat. Ketika makanan datang, banyak orang lebih dulu mengambil foto daripada mencicipinya. Saat matahari terbenam menyuguhkan pemandangan indah, sebagian orang justru lebih sibuk mencari sudut terbaik untuk merekam daripada menikmati keindahan itu sendiri.
Teknologi telah memberikan kemudahan untuk mengabadikan setiap momen. Hanya dalam hitungan detik, foto dan video dapat dibagikan kepada ratusan bahkan ribuan orang melalui media sosial. Tidak ada yang salah dengan mendokumentasikan kenangan. Masalahnya muncul ketika keinginan untuk membagikan momen lebih besar daripada keinginan untuk benar-benar mengalaminya.
Perlahan, pengalaman hidup berubah menjadi konten. Banyak orang merasa sebuah perjalanan belum lengkap jika belum diunggah ke media sosial. Sebuah acara dianggap kurang berkesan jika tidak menghasilkan foto yang menarik. Akibatnya, perhatian yang seharusnya tertuju pada pengalaman justru terbagi dengan keinginan memperoleh tanggapan dari orang lain.
Fenomena ini juga memengaruhi cara kita memandang kebahagiaan. Tidak sedikit orang yang tanpa sadar mengukur nilai sebuah momen dari jumlah tanda suka, komentar, atau jumlah penonton video. Padahal, kebahagiaan sejatinya tidak selalu membutuhkan pengakuan dari dunia maya. Ada kenangan yang justru terasa lebih bermakna ketika hanya dinikmati bersama orang-orang terdekat.
Di sisi lain, kebiasaan mendokumentasikan segala sesuatu membuat kita mudah kehilangan fokus pada apa yang sedang terjadi. Saat menghadiri pertunjukan musik, misalnya, kita lebih sering menatap layar ponsel daripada menyaksikan penampilan secara langsung. Ketika berkumpul bersama keluarga atau sahabat, percakapan kadang terhenti hanya karena semua orang sibuk mengambil gambar untuk diunggah.
Bukan berarti media sosial harus dijauhi. Platform digital telah membuka banyak peluang untuk berbagi inspirasi, informasi, dan cerita. Namun, penting untuk menyadari bahwa tidak semua momen harus dipublikasikan. Ada saatnya kita meletakkan ponsel sejenak dan memberi ruang bagi diri sendiri untuk benar-benar hadir.
Mungkin kenangan terbaik bukanlah yang memperoleh ribuan tanda suka, melainkan yang mampu menghadirkan rasa syukur dan kebahagiaan ketika dikenang bertahun-tahun kemudian. Sebab, momen yang paling berharga sering kali tidak tersimpan di linimasa, melainkan di ingatan dan hati.
Pada akhirnya, teknologi seharusnya membantu manusia menikmati hidup, bukan membuat manusia lupa menjalaninya. Sesekali, tidak ada salahnya menikmati secangkir kopi tanpa memotretnya, menyaksikan konser tanpa terus-menerus merekam, atau menikmati senja tanpa merasa harus mengunggahnya. Karena beberapa momen memang diciptakan bukan untuk menjadi konten, melainkan untuk benar-benar dirasakan.
