Konten dari Pengguna

Indonesia Beragam, Mengapa Masih Sulit Bersikap Setara?

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Jasmine Annisa Rizki Dalimunthe tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

sumber foto.dok pribadi

penulis:Jasmine Annisa Rizki Dalimunthe

Mahasiswi Ilmu Komunikasi

Fakultas Ilmu Sosial Dan Ilmu Politik

Universitas Medan Area 2026

Indonesia sejak lama dikenal sebagai negara yang kaya akan keberagaman. Lebih dari 1.300 suku bangsa, ratusan bahasa daerah, beragam agama, kepercayaan, adat istiadat, hingga budaya hidup berdampingan dalam satu bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia. Keberagaman tersebut menjadi identitas bangsa yang dibanggakan, bahkan dirangkum dalam semboyan Bhinneka Tunggal Ika yang berarti berbeda-beda tetapi tetap satu. Namun, di balik kebanggaan itu, muncul pertanyaan yang patut direnungkan: mengapa masyarakat Indonesia masih sering kesulitan bersikap setara terhadap sesamanya?

Realitas menunjukkan bahwa perbedaan identitas masih menjadi penyebab munculnya diskriminasi, stereotip, dan prasangka. Tidak sedikit seseorang dinilai berdasarkan asal daerah, agama, suku, bahasa, warna kulit, bahkan kondisi ekonomi keluarganya. Dalam kehidupan sehari-hari, candaan yang merendahkan logat daerah atau kebiasaan suatu suku sering dianggap hal biasa, padahal dapat melukai dan memperkuat stigma. Di media sosial, komentar bernada kebencian terhadap kelompok tertentu juga masih mudah ditemukan. Kondisi ini menunjukkan bahwa keberagaman belum sepenuhnya dipahami sebagai kekuatan, melainkan masih dipandang sebagai pembeda yang menciptakan jarak.

Di sinilah pentingnya memahami konsep multikulturalisme. Multikulturalisme bukan sekadar mengakui adanya perbedaan, tetapi mengajarkan bahwa setiap budaya memiliki nilai yang sama untuk dihormati. Tidak ada budaya yang lebih tinggi atau lebih rendah dibanding budaya lainnya. Perbedaan bukan alasan untuk merasa paling benar, melainkan kesempatan untuk belajar, bekerja sama, dan memperkaya wawasan.

Salah satu tujuan utama multikulturalisme adalah membentuk karakter egaliter. Karakter egaliter berarti memandang semua manusia memiliki martabat dan hak yang sama tanpa membedakan latar belakang identitasnya. Sikap ini tercermin melalui perilaku menghargai pendapat orang lain, memberikan kesempatan yang sama kepada setiap individu, serta menolak segala bentuk diskriminasi. Dalam masyarakat yang majemuk seperti Indonesia, karakter egaliter menjadi syarat penting untuk menjaga persatuan dan mencegah konflik sosial.

Sayangnya, membangun karakter egaliter bukan perkara mudah. Tantangan pertama berasal dari pola pikir yang diwariskan sejak kecil. Seseorang yang tumbuh dalam lingkungan yang penuh prasangka terhadap kelompok tertentu cenderung membawa pandangan tersebut hingga dewasa. Akibatnya, seseorang dapat menilai orang lain bukan berdasarkan kemampuan atau kepribadiannya, melainkan berdasarkan identitas yang melekat padanya.

Tantangan berikutnya datang dari perkembangan teknologi informasi. Media sosial memungkinkan setiap orang menyampaikan pendapat secara bebas, tetapi kebebasan tersebut sering disalahgunakan untuk menyebarkan ujaran kebencian, informasi palsu, hingga provokasi yang memanfaatkan isu suku, agama, ras, dan antargolongan. Algoritma media sosial bahkan sering memperkuat polarisasi dengan menampilkan informasi yang sesuai dengan pandangan pengguna. Akibatnya, masyarakat semakin sulit melihat sudut pandang yang berbeda.

Pendidikan memiliki peran yang sangat penting dalam menghadapi tantangan tersebut. Sekolah dan perguruan tinggi bukan hanya tempat memperoleh ilmu pengetahuan, tetapi juga ruang belajar hidup bersama dalam keberagaman. Melalui diskusi, kerja kelompok, organisasi mahasiswa, dan kegiatan sosial, peserta didik belajar menghormati perbedaan pendapat, budaya, maupun keyakinan. Pendidikan karakter harus berjalan seiring dengan pendidikan akademik agar menghasilkan generasi yang cerdas sekaligus berempati.

Selain pendidikan formal, keluarga merupakan lingkungan pertama yang membentuk cara pandang seseorang terhadap keberagaman. Anak yang dibiasakan menghormati tetangga berbeda agama, berteman tanpa memandang suku, dan tidak merendahkan orang lain akan tumbuh menjadi pribadi yang lebih terbuka. Sebaliknya, jika sejak kecil anak diajarkan membenci kelompok tertentu, maka sikap intoleran akan terus berkembang hingga dewasa.

Mahasiswa sebagai generasi muda memiliki tanggung jawab besar dalam membangun masyarakat yang lebih egaliter. Kampus mempertemukan mahasiswa dari berbagai daerah dengan latar belakang budaya yang berbeda. Perbedaan tersebut seharusnya menjadi kesempatan untuk saling memahami, bukan alasan untuk membentuk kelompok berdasarkan identitas masing-masing. Mahasiswa perlu menjadi contoh dalam berdialog secara santun, menghargai keberagaman pendapat, serta menolak diskriminasi dalam bentuk apa pun.

Pemerintah juga memegang peranan penting melalui kebijakan yang menjamin kesetaraan bagi seluruh warga negara. Akses terhadap pendidikan, pelayanan kesehatan, lapangan pekerjaan, serta pelayanan publik harus diberikan secara adil tanpa memandang latar belakang seseorang. Ketika masyarakat merasakan keadilan, rasa saling percaya terhadap negara akan semakin kuat sehingga persatuan bangsa dapat terjaga.

Pada akhirnya, membangun masyarakat yang egaliter tidak cukup hanya melalui slogan toleransi. Nilai tersebut harus diwujudkan dalam tindakan nyata, mulai dari menghargai perbedaan pendapat, tidak menyebarkan ujaran kebencian, memperlakukan setiap orang dengan hormat, hingga membuka diri terhadap budaya lain. Perubahan besar selalu dimulai dari kebiasaan kecil yang dilakukan secara konsisten.

Indonesia telah memiliki modal besar berupa keberagaman budaya yang tidak dimiliki banyak negara lain. Namun, keberagaman hanya akan menjadi kekuatan apabila masyarakat mampu melihat setiap manusia sebagai pribadi yang setara. Oleh karena itu, tantangan terbesar Indonesia saat ini bukan lagi bagaimana hidup di tengah perbedaan, melainkan bagaimana membangun kesadaran bahwa perbedaan adalah alasan untuk saling melengkapi, bukan saling menjauhi. Ketika karakter egaliter tumbuh dalam kehidupan masyarakat, cita-cita Indonesia sebagai bangsa yang adil, inklusif, dan bersatu akan semakin mudah diwujudkan.