Ruang Bertemu yang Semakin Sempit: Tantangan Multikulturalisme di Era Digital

Mahasiswi Ilmu Komunikasi,Universitas Medan Area
ยทwaktu baca 3 menit
Tulisan dari Azzahra Putri Sari tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Indonesia sejak lama dikenal sebagai negara yang berdiri di atas keberagaman. Dari Sabang hingga Merauke, masyarakat hidup dengan bahasa, adat, agama, dan budaya yang berbeda-beda. Keberagaman itu sering disebut sebagai kekuatan bangsa. Namun, di tengah perkembangan teknologi yang membuat komunikasi semakin mudah, muncul pertanyaan yang patut dipikirkan bersama: mengapa kita justru semakin mudah terpecah?
Jawabannya mungkin tidak sesederhana perbedaan itu sendiri. Tantangan terbesar multikulturalisme hari ini bukan lagi karena masyarakat tidak hidup berdampingan, melainkan karena ruang untuk benar-benar saling mengenal semakin sempit.
Media sosial telah mengubah cara manusia berinteraksi. Informasi datang begitu cepat, tetapi pemahaman sering kali tertinggal. Kita mengenal seseorang melalui unggahan singkat, potongan video, atau komentar yang belum tentu menggambarkan kenyataan. Tidak jarang, penilaian terhadap kelompok tertentu dibentuk oleh stereotip yang terus berulang di ruang digital.
Akibatnya, perbedaan yang seharusnya menjadi kesempatan untuk belajar justru berubah menjadi alasan untuk saling mencurigai. Diskusi berubah menjadi perdebatan, kritik berubah menjadi serangan pribadi, dan identitas sering kali lebih diperhatikan daripada isi pembicaraan. Fenomena ini menunjukkan bahwa keberagaman saja tidak cukup. Yang dibutuhkan adalah kemampuan untuk menghargai manusia di balik setiap perbedaan.
Karakter egaliter tumbuh ketika seseorang melihat orang lain sebagai sesama yang memiliki hak dan martabat yang sama. Sikap ini tidak lahir begitu saja, tetapi dibentuk melalui pengalaman hidup. Berteman dengan orang dari daerah lain, bekerja sama dalam kelompok yang anggotanya beragam, atau mendengarkan cerita dari mereka yang memiliki pengalaman berbeda dapat mengurangi prasangka yang selama ini terbentuk.
Kampus menjadi salah satu tempat yang memperlihatkan proses tersebut. Mahasiswa datang dari berbagai kota, membawa bahasa, kebiasaan, dan cara berpikir yang tidak selalu sama. Perbedaan itu memang kadang menimbulkan kesalahpahaman, tetapi justru di situlah proses belajar terjadi. Ketika mahasiswa mampu berdiskusi, bekerja sama, dan saling menghormati, mereka sedang membangun karakter egaliter yang akan berguna ketika terjun ke masyarakat.
Sayangnya, ruang perjumpaan seperti ini sering kalah oleh kebiasaan membangun kelompok yang seragam. Kita cenderung berteman dengan orang yang memiliki latar belakang yang sama karena terasa lebih nyaman. Padahal, kenyamanan tidak selalu menghasilkan pemahaman. Justru melalui perjumpaan dengan orang yang berbeda, seseorang belajar melihat dunia dari sudut pandang yang lebih luas.
Multikulturalisme tidak meminta semua orang menjadi sama. Yang diminta adalah kesediaan untuk menerima bahwa setiap orang memiliki pengalaman hidup yang berbeda dan tetap layak diperlakukan dengan hormat. Menghargai perbedaan bukan berarti harus selalu setuju, tetapi mampu berdialog tanpa merendahkan pihak lain.
Karakter egaliter juga dibangun melalui tindakan sederhana. Menyapa teman tanpa melihat asal daerahnya, tidak menjadikan logat sebagai bahan ejekan, menghormati pilihan agama orang lain, serta memberikan kesempatan yang sama kepada setiap orang merupakan bentuk nyata dari nilai tersebut. Perubahan besar sering kali berawal dari kebiasaan kecil yang dilakukan secara konsisten.
Indonesia memiliki modal yang kuat untuk membangun masyarakat yang egaliter. Nilai gotong royong, musyawarah, dan saling menghormati telah menjadi bagian dari berbagai budaya di Nusantara. Tantangannya adalah bagaimana nilai-nilai itu tetap hidup di tengah perkembangan teknologi yang terus mengubah cara manusia berkomunikasi.
Pada akhirnya, keberagaman tidak akan berarti apabila hanya menjadi slogan. Ia baru memiliki makna ketika diwujudkan dalam cara kita memperlakukan orang lain setiap hari. Masa depan Indonesia tidak hanya ditentukan oleh kecanggihan teknologi atau pertumbuhan ekonomi, tetapi juga oleh kemampuan masyarakatnya untuk tetap membuka ruang dialog, membangun rasa saling percaya, dan menghormati setiap manusia tanpa memandang latar belakangnya. Di situlah karakter egaliter menemukan bentuknya, bukan dalam pidato yang indah, melainkan dalam tindakan yang sederhana dan nyata.
