Konten dari Pengguna

Generasi Z dan Masa Depan Budaya Indonesia: Masih Bangga atau Sekadar Ikut Tren?

Dio Erlangga

Dio Erlangga

Mahasiswa Ilmu Komunikasi,Universitas Medan Area

·waktu baca 4 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Dio Erlangga tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

SUMBER FOTO DOK PRIBADI DI BALI MILIK SENDIRI
zoom-in-whitePerbesar
SUMBER FOTO DOK PRIBADI DI BALI MILIK SENDIRI

Beberapa tahun terakhir, budaya Indonesia kembali ramai diperbincangkan di media sosial. Video tari tradisional dengan jutaan penonton, lagu daerah yang diaransemen ulang, hingga pakaian adat yang dikenakan oleh para kreator konten menjadi bukti bahwa budaya masih memiliki tempat di hati generasi muda. Sekilas, kondisi ini terlihat menggembirakan. Budaya kembali mendapat perhatian di tengah derasnya arus globalisasi.

Namun, di balik antusiasme tersebut, muncul pertanyaan yang patut direnungkan. Apakah generasi muda benar-benar memahami budaya yang mereka tampilkan, atau budaya hanya menjadi bagian dari tren yang cepat berganti?

Media sosial telah mengubah cara masyarakat mengenal budaya. Dahulu, seseorang mempelajari budaya melalui keluarga, sekolah, atau lingkungan tempat tinggal. Kini, cukup dengan menggulir layar ponsel, berbagai budaya dari seluruh Indonesia dapat dilihat dalam hitungan detik. Perubahan ini membuka peluang besar untuk memperkenalkan kekayaan budaya kepada masyarakat yang lebih luas.

Sayangnya, kecepatan informasi sering kali tidak diikuti dengan pemahaman yang mendalam. Tidak sedikit konten budaya yang hanya menampilkan sisi visualnya, seperti pakaian adat, tarian, atau makanan tradisional, tanpa menjelaskan sejarah maupun nilai yang melatarbelakanginya. Akibatnya, budaya lebih mudah dipandang sebagai hiburan daripada sebagai identitas yang memiliki makna.

Fenomena ini terlihat ketika pakaian adat digunakan hanya untuk kebutuhan konten, sementara makna yang terkandung di dalamnya tidak lagi dikenal. Lagu daerah menjadi viral karena iramanya menarik, tetapi sedikit yang mengetahui pesan yang disampaikan melalui liriknya. Tari tradisional dipelajari untuk mengikuti perlombaan atau tren media sosial, tetapi filosofi gerakannya jarang dipahami.

Padahal, budaya bukan sekadar warisan masa lalu. Budaya merupakan cara masyarakat memandang kehidupan, membangun hubungan sosial, serta mewariskan nilai kepada generasi berikutnya. Ketika makna tersebut mulai terlupakan, yang tersisa hanyalah simbol tanpa cerita.

Di sisi lain, tidak adil jika seluruh perubahan ini dipandang sebagai sesuatu yang negatif. Justru melalui media sosial, banyak anak muda mulai mengenal budaya yang sebelumnya tidak pernah mereka lihat. Berbagai komunitas budaya kini memanfaatkan platform digital untuk mengajarkan bahasa daerah, memperkenalkan musik tradisional, hingga mendokumentasikan upacara adat. Teknologi membuktikan bahwa pelestarian budaya dapat dilakukan dengan cara yang lebih kreatif dan sesuai dengan perkembangan zaman.

Tantangan yang sesungguhnya bukan terletak pada penggunaan media sosial, melainkan pada bagaimana generasi muda memanfaatkannya. Budaya akan kehilangan makna apabila hanya dijadikan konten untuk mengejar jumlah penonton dan tanda suka. Sebaliknya, budaya akan tetap hidup apabila media digital digunakan sebagai ruang belajar, berbagi pengetahuan, dan memperkenalkan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya.

Sebagai negara multikultural, Indonesia membutuhkan generasi yang tidak hanya bangga menunjukkan budayanya sendiri, tetapi juga menghargai budaya milik orang lain. Karakter egaliter tumbuh ketika seseorang mampu melihat bahwa setiap budaya memiliki nilai yang sama berharganya. Tidak ada budaya yang lebih tinggi atau lebih rendah. Perbedaan justru menjadi kekayaan yang memperkuat identitas bangsa.

Sikap menghargai budaya juga dapat dimulai dari hal-hal sederhana. Menghadiri pertunjukan seni lokal, mengunjungi museum, mempelajari bahasa daerah, membeli karya perajin lokal, atau sekadar mencari tahu makna sebuah upacara adat merupakan bentuk kepedulian yang nyata. Langkah kecil seperti ini membantu menjaga agar budaya tidak berhenti sebagai tontonan, tetapi tetap menjadi bagian dari kehidupan.

Kampus memiliki peran penting dalam proses tersebut. Mahasiswa berasal dari berbagai daerah dengan latar belakang budaya yang berbeda. Lingkungan kampus menjadi tempat yang ideal untuk saling bertukar pengalaman, mengenal tradisi daerah lain, dan belajar menghargai keberagaman tanpa harus kehilangan identitas masing-masing. Dari ruang-ruang seperti inilah karakter egaliter dapat tumbuh secara alami.

Pada akhirnya, masa depan budaya Indonesia tidak hanya ditentukan oleh banyaknya festival budaya atau ramainya unggahan di media sosial. Masa depan budaya bergantung pada kesediaan generasi muda untuk memahami, merawat, dan meneruskan nilai-nilai yang diwariskan oleh para pendahulu.

Menjadi generasi yang mencintai budaya tidak cukup dengan mengatakan bangga sebagai orang Indonesia. Kebanggaan itu perlu diwujudkan melalui rasa ingin tahu, kemauan belajar, dan sikap menghargai keberagaman yang dimiliki bangsa ini. Sebab, budaya yang terus dipahami akan tetap hidup, sedangkan budaya yang hanya mengikuti tren akan mudah dilupakan ketika tren berikutnya datang.