Tak Cukup Bangun Jalan, Bangun Juga Kesehatan

Seorang Mahasiswi PKN STAN yang masih banyak belajar mengenai kondisi ekonomi
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari jasmine firdaus hermawan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ketika membicarakan ekonomi pembangunan, kita sering terjebak pada narasi besar seperti pembangunan jalan tol, kawasan industri, atau transformasi digital. Padahal, pembangunan sejati dimulai dari hal yang paling mendasar: kesehatan masyarakat.
Investasi pada kesehatan bukan hanya soal moral, tapi juga strategi ekonomi jangka panjang. Negara yang sehat adalah negara yang produktif, inovatif, dan tangguh dalam menghadapi krisis.
Kesehatan Sebagai Pilar Pembangunan
Menurut laporan World Bank (2023), setiap US$ 1 yang diinvestasikan dalam sistem kesehatan dasar akan menghasilkan manfaat ekonomi sebesar US$ 9 dalam jangka panjang. Di Indonesia, pendekatan ini sudah mulai diadopsi dalam berbagai program prioritas.
Salah satunya adalah penurunan angka stunting, yang telah menjadi indikator utama keberhasilan pembangunan manusia. Data BKKBN (2024) menunjukkan prevalensi stunting di Indonesia berhasil ditekan menjadi 21,5%, turun dari 27,6% pada tahun 2019. Pemerintah menargetkan angka tersebut turun di bawah 14% pada 2025.
Prof. Hasbullah Thabrany, pakar kebijakan kesehatan dari Universitas Indonesia, menyatakan:
“Anak-anak yang mengalami stunting bukan hanya lebih rentan terhadap penyakit, tapi juga mengalami penurunan kemampuan belajar dan produktivitas jangka panjang. Ini jelas berdampak pada pertumbuhan ekonomi nasional.”
Jaminan Kesehatan dan Produktivitas
Program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) yang dikelola BPJS Kesehatan telah menjadi game changer dalam pemerataan akses layanan kesehatan. Hingga 2024, cakupan kepesertaan JKN telah mencapai 93,2% dari total penduduk Indonesia (BPJS Kesehatan, 2024). Artinya, mayoritas rakyat Indonesia kini memiliki akses terhadap layanan medis dasar hingga lanjutan tanpa beban biaya berat.
Menurut studi Lembaga Demografi UI (2023), keikutsertaan JKN terbukti menurunkan risiko kemiskinan akibat biaya pengobatan hingga 30%.
Kesehatan Mental: Dimensi yang Semakin Diakui
Selain kesehatan fisik, tantangan pembangunan masa kini juga mencakup kesehatan mental. Pandemi COVID-19 membuka mata banyak pihak tentang pentingnya intervensi psikososial dalam kebijakan pembangunan.
Dr. Ratih Ibrahim, psikolog klinis dan pendiri Personal Growth, mengingatkan:
“Kesehatan mental yang buruk menurunkan kualitas tenaga kerja, memperbesar beban sosial, dan memperlambat inovasi. Ini harus menjadi bagian integral dari agenda ekonomi pembangunan.”
Program seperti Sahabat Perempuan dan Anak dari Kementerian PPPA serta layanan Sehat Jiwa dari Kemkes menjadi awal yang baik untuk membangun ekosistem dukungan psikologis berbasis komunitas.
Menuju Masa Depan Sehat dan Produktif
Pembangunan tanpa manusia yang sehat ibarat rumah tanpa pondasi. Oleh karena itu, fokus pada kesehatan bukan sekadar program sektor kesehatan, tapi bagian tak terpisahkan dari strategi pembangunan ekonomi nasional.
Sebagaimana disampaikan oleh Menteri Kesehatan RI, Budi Gunadi Sadikin:
“Pembangunan bukan tentang beton dan aspal, tapi tentang kualitas manusia. Kita harus geser dari pendekatan kuratif ke preventif. Fokus pada mencegah orang sakit, bukan hanya mengobati.”
Penutup
Ekonomi pembangunan tidak bisa berjalan di atas fondasi masyarakat yang sakit dan rentan. Membangun Indonesia berarti membangun manusianya terlebih dahulu melalui sistem kesehatan yang kuat, inklusif, dan berkelanjutan. Jika kita ingin Indonesia benar-benar menuju Indonesia Emas 2045, maka investasi terbaik adalah pada kesehatan hari ini.
Tag:
#EkonomiPembangunan #Kesehatan #Stunting #JKN #Infrastruktur #BPJS #PembangunanManusia #IndonesiaEmas2045 #KesehatanMental #KumparanEdu
