Strategi RS Mata Undaan Menjaga Keberlanjutan Bisnis

Mahasiswi S2 Manajemen Unesa
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari JASMINE RAMADHANI tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Layanan kesehatan modern saat ini berada dalam lanskap industri yang sangat dinamis dan kompetitif. Pengelolaan rumah sakit tidak lagi cukup hanya mengandalkan manajemen operasional harian, melainkan membutuhkan kepemimpinan strategis yang berfokus pada keberlanjutan jangka panjang dan penciptaan nilai layanan.
Salah satu contoh studi kasus menarik di Indonesia adalah Rumah Sakit Mata Undaan (RSMU) Surabaya. Berdiri sejak tahun 1933 di bawah naungan Perhimpunan Perawatan Penderita Penyakit Mata Undaan (P4MU), rumah sakit ini berawal dari fasilitas cagar budaya. Namun, RSMU sukses bertransformasi menjadi salah satu pusat layanan kesehatan mata paling modern di Indonesia Timur dengan Akreditasi Paripurna.
Menyeimbangkan Bisnis dan Misi Sosial
Keberhasilan RSMU terletak pada kemahmampuannya menyeimbangkan dua fungsi utama: fungsi sosial (melayani pasien BPJS Kesehatan dan bakti sosial) serta fungsi bisnis atau komersial (layanan spesialis VIP dan teknologi modern).
Pimpinan RSMU menerapkan tata kelola dual-structure, yaitu memisahkan unit bisnis profesional (PT Bersama Mata Undaan) dengan misi sosial yayasan (P4MU). Keuntungan dari layanan komersial digunakan untuk memperbarui teknologi medis sekaligus menyokong pelayanan pasien kurang mampu dan operasi katarak gratis.
Adopsi Inovasi dan Teknologi Mutakhir
Untuk menahan gempuran klinik mata swasta modern dan mencegah masyarakat berobat ke luar negeri, pimpinan RSMU secara agresif mengadopsi teknologi bedah refraktif generasi terbaru. Perangkat seperti SMILE Pro (ZEISS Visumax 800) mampu memotong durasi tindakan laser menjadi hanya 8 detik.
Selain itu, RSMU menghadirkan LASIK PresBYOND, Dry Eye Center, hingga integrasi layanan digital melalui Aplikasi BersamaMu untuk memotong waktu tunggu antrean pasien.
Pendekatan Kepemimpinan Partisipatif
Dalam mengarahkan transformasi ini, jajaran pimpinan tidak berlaku otoriter. Perubahan sistem—seperti penerapan Rekam Medis Elektronik (RME)—dijalankan melalui pendekatan dialogis, penyediaan masa transisi (parallel running), serta pembentukan agen perubahan (Change Champions) di setiap unit kerja.
Pendekatan ini sejalan dengan konsep kepemimpinan timbal balik (Reciprocal Leadership), di mana efektivitas pimpinan tumbuh dari tingkat kepercayaan (trust) dan komunikasi dua arah dengan staf medis maupun non-medis.
Tantangan Masa Depan
Tentu saja perjalanan ini bukan tanpa hambatan. RSMU masih menghadapi tantangan seperti tingginya waktu tunggu pada jam puncak layanan BPJS, keterbatasan lahan gedung cagar budaya di pusat kota, hingga tantangan literasi digital bagi pasien lansia.
Meski demikian, strategi kepemimpinan yang progresif dan adaptif terbukti mampu menjaga reputasi cagar budaya RSMU sekaligus mengamankan daya saingnya di era modern.
