Konten dari Pengguna

Ketika AI Merayap ke Bangku Pendidikan, Bagaimana Nasib Penerus Bangsa?

Jasmine Rofita Siregar

Jasmine Rofita Siregar

Mahasiswi Arkeologi Universitas Jambi

·waktu baca 5 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Jasmine Rofita Siregar tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Penggunaan AI di dalam Pendidikan. Sumber Foto: Unsplash/Hitesh Choudhary
zoom-in-whitePerbesar
Penggunaan AI di dalam Pendidikan. Sumber Foto: Unsplash/Hitesh Choudhary

“Ngapain pusing-pusing? Pakai AI aja!”

Kalimat sederhana yang terdengar dari meja sebelah ketika sedang menyeruput kopi di sebuah kafe tersebut mungkin menjadi gambaran kecil dari perubahan cara generasi muda belajar hari ini.

Berdasarkan survey pengguna internet yang dilakukan oleh Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) pada tahun 2025 terhadap 8.700 responden menghasilkan, generasi Z, yang berusia mulai dari 14 hingga 29 tahun, merupakan generasi yang paling banyak menggunakan artificial intelligence (AI), yaitu sebanyak 43.7% dari total responden. Sedangkan untuk generasi milenial yang berusia antara 30 sampai 45 tahun sebanyak 22.3%.

Sekelompok mahasiswa yang sedang kebingungan mengerjakan kuis atau tugas kuliah tidak lagi harus berlama-lama membuka buku atau berdiskusi untuk mencari jawaban. Dalam beberapa detik, kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) dapat memberikan penjelasan, menyusun jawaban, bahkan membantu menyelesaikan pekerjaan yang sebelumnya membutuhkan waktu berjam-jam.

Fenomena tersebut menjadi salah satu gambaran bagaimana AI dalam pendidikan mulai mengubah cara mahasiswa belajar.

AI juga bukan lagi sesuatu yang asing di ruang kelas.

Tidak sedikit tenaga pendidik yang mulai memanfaatkan AI sebagai alat bantu pembelajaran. Misalnya, ketika sebuah pertanyaan belum dapat dijawab di dalam kelas, AI dapat menjadi salah satu sumber untuk mencari penjelasan.

Di sisi lain, mahasiswa pun semakin terbiasa menjadikan AI sebagai tempat bertanya ketika menemukan kesulitan dalam memahami materi, bahkan untuk sekadar berkeluh kesah.

Di sinilah sebuah pertanyaan muncul: jika jawaban semakin mudah diperoleh, bagaimana ruang untuk berdiskusi, mempertanyakan sesuatu, dan membangun kemampuan berpikir kritis dapat tetap terjaga?

AI dalam Pendidikan: Bukan Musuh, Melainkan Alat

Meskipun ada pro dan kontra dalam penggunaan AI, tidak dapat dipungkiri bahwa teknologi tersebut telah membantu berbagai sisi kehidupan manusia.

Ketika kita membicarakan AI, pemanfaatannya tentu tidak hanya sebatas bertanya mengenai hal-hal remeh, menyelesaikan tugas kuliah, atau menghasilkan gambar berdasarkan perintah tertentu. Di bidang kesehatan, teknologi AI dikembangkan untuk membantu mendeteksi potensi kanker. Di sektor pertanian, teknologi berbasis AI dapat digunakan untuk memantau pertumbuhan tanaman, mendeteksi hama, dan aktivitas lainnya.

Di dalam dunia penelitian pun, AI dapat membantu manusia mengolah informasi dalam jumlah besar, menemukan pola, atau membuka kemungkinan pertanyaan baru yang sebelumnya sulit ditelusuri.

Karena itu, persoalannya bukan lagi tentang apakah AI seharusnya ada atau tidak di dunia pendidikan.

Karena AI memang sudah hadir, dan kemungkinan besar akan terus berkembang.

Persoalannya adalah bagaimana manusia memanfaatkan teknologi tersebut tanpa menyerahkan proses berpikirnya kepada mesin.

Sebab, dua orang yang mengajukan pertanyaan yang sama kepada AI belum tentu memperoleh hasil yang memiliki kedalaman sama. Orang yang memiliki pengetahuan mengenai topik tersebut dapat menggunakan AI dengan cara yang berbeda dibandingkan mereka yang tidak terlalu memahami persoalan yang sedang dihadapi.

Perbedaan pengetahuan dan proses berpikir pada akhirnya dapat menghasilkan pemanfaatan AI yang berbeda pula.

Pengetahuan Membentuk Cara Kita Menggunakan AI

Seseorang yang telah memiliki pengetahuan dasar mengenai suatu bidang tidak akan menelan mentah-mentah jawaban AI sebagai sebuah kebenaran. Ia mulai mempertanyakan sumbernya, menemukan kemungkinan keliru, membandingkan dengan pengetahuan yang telah dimilikinya, atau bahkan meminta AI untuk membantah argumennya.

Pertanyaan tidak berhenti pada “Apa jawabannya?”, tetapi semakin meluas kepada “Mengapa jawabannya seperti itu?”, “Apakah ada sudut pandang lain?”.

Pada titik tersebut, AI justru menjadi sebuah alat bantu untuk memperluas proses berpikir.

Mengapa Pendidikan Penting?

Bangku pendidikan memiliki peran penting dan tanggung jawab yang semakin besar.

Perguruan tinggi tidak semestinya hanya menjadi tempat seseorang memperoleh gelar dengan duduk di bangku kelas. Perguruan tinggi juga menjadi ruang untuk berkoneksi dan berdiskusi, sekaligus tempat mengembangkan cara berpikir yang lebih matang ketika seseorang mulai memasuki kehidupan dewasa.

Karena mahasiswa bukan hanya sedang mempersiapkan diri untuk memasuki dunia kerja, tetapi juga untuk mengambil peran di tengah masyarakat.

Bukan hanya dituntut untuk mengetahui sebuah jawaban, tetapi juga dituntut untuk menjelaskan bagaimana ia memperoleh jawaban tersebut.

Membaca buku yang sulit dipahami, menulis sesuatu yang berkali-kali dikoreksi, dan berdiskusi dengan orang yang memiliki pandangan berbeda bukanlah aktivitas yang mudah dan tidak secepat meminta jawaban ke AI.

Namun, justru proses itulah yang melatih seseorang untuk berpikir.

Pendidikan tidak semestinya hanya menghasilkan orang yang mampu menemukan jawaban, tetapi menghasilkan manusia yang mampu mengajukan pertanyaan yang tepat, memahami persoalan yang kompleks, mempertimbangan bukti, dan mempertanggung jawabkan pemikirannya.

Lalu Bagaimana Nasib Penerus Bangsa?

Pertanyaan mengenai nasib penerus bangsa pada akhirnya bukanlah tentang apakah manusia akan kalah dari AI.

AI hampir pasti akan terus berkembang dengan kemampuan yang bahkan para peneliti tidak dapat memastikan sejauh mana perkembangannya.

Yang perlu kita khawatirkan adalah ketika manusia justru berhenti mengembangkan kemampuan yang dibutuhkan untuk menggunakan AI secara bijak.

Bayangkan jika suatu saat generasi mendatang terbiasa mendapatkan jawaban dengan melompati proses berpikir panjang. Lama-kelamaan, ketergantungan tersebut dapat membuat mereka kesulitan berpikir secara mandiri ketika AI tidak tersedia.

Kita tidak mungkin menghentikan AI untuk masuk ke bangku pendidikan, tetapi memastikan bahwa di tengah kemajuan teknologi, manusia tetap memiliki kemampuan untuk membaca, bertanya, berdiskusi, meragukan, meneliti, dan berpikir.

Jika mahasiswa adalah orang-orang yang sebentar lagi akan mengambil peran di tengah masyarakat, apakah pendidikan masih berhasil melatih kemampuan berpikir mereka ketika teknologi semakin mudah memberikan jawaban?