Penumpukan Sampah Sisa Makanan di Kantin Sekolah

Pelajar di SMA Santa Ursula Jakarta
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Jasmine Zetira Setiawan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Jasmine Zetira Setiawan

Kantin sekolah yang seharusnya menjadi tempat yang nyaman dan bersih untuk makan, justru menjadi kurang nyaman akibat adanya penumpukan sampah sisa makanan. Sisa makanan yang tidak dihabiskan dan dibuang oleh siswa menyebabkan sampah makanan terus menumpuk, terutama pada tempat sampah di sekitar wilayah kantin. Permasalahan ini sering dijumpai di berbagai sekolah. Salah satunya di lingkungan sekolah SMA Santa Ursula Jakarta, khususnya pada tempat sampah yang berada di depan area kantin. Penumpukan sampah yang terjadi setiap hari menunjukkan bahwa masalah sisa makanan bukan hanya berkaitan dengan banyaknya sampah, tetapi juga dengan kebiasaan siswa dalam membeli, mengambil, dan menghabiskan makanan.
Penumpukan sampah sisa makanan di kantin sekolah tidak terjadi begitu saja. Namun, kejadian tersebut terus terulang karena kebiasaan-kebiasaan siswa. Salah satunya adalah membeli makanan dalam jumlah yang terlalu banyak sehingga tidak dapat dihabiskan. Ketika membeli makanan, siswa terkadang membeli porsi berdasarkan keinginan tanpa mempertimbangkan apakah makanan tersebut mampu dihabiskan. Akibatnya, sebagian makanan tersisa dan akhirnya dibuang ke tempat sampah.
Selain jumlah makanan yang terlalu banyak, pilihan makanan yang kurang sesuai dengan selera juga dapat menjadi penyebab munculnya sisa makanan. Siswa membeli makanan karena terlihat menarik atau karena ingin mencoba sesuatu yang baru, tetapi setelah makanan tersebut dicoba, rasanya tidak sesuai dengan yang diharapkan. Akibatnya, makanan tersebut tidak dihabiskan dan langsung dibuang ke tempat sampah. Kebiasaan tersebut apabila terjadi secara berulang dapat menyebabkan jumlah sampah makanan di kantin semakin banyak.
Permasalahan tersebut juga dapat terjadi karena kurangnya kesadaran oleh siswa mengenai dampak membuang makanan. Sebagian siswa mungkin menganggap sisa makanan dalam jumlah sedikit tidak akan memberikan pengaruh besar. Namun, apabila dilakukan oleh banyak siswa setiap hari, sisa makanan yang sedikit tersebut akan menumpuk menjadi sampah dalam jumlah yang cukup besar. Oleh karena itu, kebiasaan setiap individu memiliki peran dalam menyebabkan ataupun mengurangi penumpukan sampah makanan.
Jika kebiasaan-kebiasaan tersebut terus dibiarkan tanpa adanya kesadaran, penumpukan sampah sisa makanan akan terus mengganggu kebersihan dan kenyamanan lingkungan kantin. Sampah sisa makanan yang terus menumpuk akan menimbulkan bau yang menyengat dan memancing datangnya serangga. Akibatnya, para siswa ataupun orang yang ingin makan di kantin merasa terganggu akan suasana kantin saat ingin membeli ataupun menikmati makanan mereka.
Selain menimbulkan bau, sampah makanan yang menumpuk juga dapat mengundang lalat dan serangga lainnya. Adanya lalat ataupun serangga di sekitar kantin tentu dapat membuat lingkungan kantin terlihat kurang bersih dan menimbulkan rasa tidak nyaman. Tidak hanya itu, proses pembusukan sampah makanan juga dapat menghasilkan berbagai gas, seperti metana, hidrogen sulfida, amonia, dan karbon dioksida, yang dapat memengaruhi kualitas udara di sekitar kantin. Kondisi tersebut pada akhirnya mengurangi kenyamanan dan kualitas lingkungan kantin sebagai tempat untuk makan dan beristirahat. Kantin yang seharusnya menjadi tempat yang bersih, nyaman, dan aman justru dapat terasa kurang menyenangkan ketika sampah makanan dibiarkan menumpuk dan menimbulkan bau.
Hal ini memang terkesan sepele. Namun, hal ini memiliki dampak yang besar terhadap kenyamanan, kebersihan, dan kesehatan komunitas sekolah. Oleh karena itu, upaya dalam mencegah penumpukan sampah sisa makanan di kantin harus dimulai dari kesadaran tiap siswa. siswa perlu membiasakan diri untuk membeli makanan sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan untuk menghabiskannya. Dengan mempertimbangkan porsi makanan sebelum dibeli, siswa dapat mengurangi jumlah makanan yang dapat terbuang dan melatih tanggung jawabnya terhadap makanan yang dikonsumsi.
Pihak kantin juga berperan dalam mengurangi jumlah sisa makanan. Penjual dapat menyediakan beberapa pilihan ukuran porsi sehingga siswa dapat memilih sesuai dengan kebutuhan mereka. Dengan adanya pilihan porsi yang lebih fleksibel, siswa tidak harus membeli makanan dalam jumlah yang terlalu banyak. Selain itu, penjual dapat membantu mengingatkan pembeli untuk memilih makanan sesuai dengan kebutuhan agar makanan yang dibeli tidak berakhir sebagai sampah.
Selain peran siswa dan penjual kantin, pihak sekolah juga dapat memberikan edukasi mengenai pentingnya mengurangi food waste. Edukasi dapat dilakukan melalui poster, pengumuman, kegiatan kelas, ataupun kampanye lingkungan sekolah. Sekolah juga dapat menyediakan tempat sampah yang sesuai dan mudah dijangkau agar sampah makanan dapat dibuang serta dikelola dengan lebih baik.
Dengan adanya kerja sama antara siswa, penjual kantin, dan pihak sekolah, upaya mengurangi penumpukan sampah sisa makanan dapat dilakukan secara lebih konsisten sehingga kebersihan dan kenyamanan kantin dapat dijaga bersama.
