Kisah Pedagang Bakso di Kota Batu Dirikan Sekolah Alam Sobyor

Konten Media Partner
27 Februari 2023 13:15
·
waktu baca 4 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Kisah Pedagang Bakso di Kota Batu Dirikan Sekolah Alam Sobyor (383240)
zoom-in-whitePerbesar
jatimnow.com - Luhur Suseno (26) warga Dusun Kekep, Desa Tulungrejo, Kecamatan Bumiaji nampak seperti para penjual bakso pada umumnya. Bersama istrinya, Bilqies Simay Sinarae (26), dirinya setiap hari melayani pembeli di kedainya yang berada di Dusun Kekep, Desa Tulungrejo.
Setelah mereka berjualan ia menuju sekolah nonformal yang didirikan olehnya yaitu Sekolah Alam Sobyor (SAS). Kegiatan itu sudah berlangsung hampir satu tahun sejak Maret 2022 lalu.
Tujuan ia mendirikan sekolah untuk meningkatkan kemampuan kualitas pendidikan anak-anak di desanya serta ingin memiliki kegiatan sosial yang bermanfaat bagi orang lain.
Luhur sapaannya menceritakan ide mendirikan sekolah ini berasal dari adiknya yang merupakan mahasiswa Jurusan Pendidikan Luar Biasa, Universitas Negeri Malang. Menurutnya, kualitas pendidikan anak-anak di dusunnya masih kalah bersaing dengan dusun lainnya.
"Kami menilai penyebabnya yaitu pengaruh dari kesibukan bekerja dari para orang tua sehingga kurangnya waktu mengajarkan pendidikan ke anak-anaknya," kata dia, Senin (27/2/2023).
Hal itulah yang membuat dirinya bersama adiknya membuat konsep pembelajaran-pembelajaran yang menyenangkan. Hasilnya, kegiatan di Sekolah Alam Sobyor diisi dengan tiga materi penting yakni tentang lingkungan, budi pekerti dan pendidikan formal.
"Terlebih banyak curhatan dari orang tua bila anaknya nampak belum maksimal belajar pasca pembelajaran online saat pandemi kemarin," urainya.
Tidak lama kemudian, Luhur bersama adiknya memutuskan untuk membuka kegiatan Sekolah Alam Sobyor. Dia juga mengajak dua orang lainnya yakni temannya dan saudaranya untuk ikut bergabung menjadi sukarelawan.
"Sekarang total ada sekitar 34 anak kelas 4, 5 dan 6 dari siswa SDN 5 Tulungrejo yang ikut secara bergantian. Pembelajaran dilakukan setiap hari Minggu mulai pukul 10.00-12.00 WIB. Mereka belajar Matematika, IPA, Bahasa Inggris, memang belum semuanya, karena masih terbatas," katanya.
Luhur juga mengungkapkan, dirinya tidak bisa menjamin kepada anak-anak yang ikut dengannya bisa memiliki nilai akademik lebih baik di sekolahnya sesudah mengikuti kegiatan di Sekolah Alam Sobyor. Namun, baginya yang terpenting bagaimana anak-anak memahami dasar-dasar materi pelajaran formal dan tentang etika kehidupan.
Dia bercerita, bagaimana saat awal-awal pertemuan, Luhur sempat kaget dengan kualitas pendidikan anak-anak. Menurutnya, banyak anak yang seharusnya sudah memahami materi dasar beberapa mata pelajaran, tetapi nyatanya masih belum.
"Contoh kecil pelajaran matematika, anak-anak saat awal belum bisa memahami teknik perkalian cepat, seperti tabel perkalian juga, padahal anak itu kelas 6," katanya.
Lebih lanjut, setiap pertemuan kegiatan belajar dan mengajar dilakukan di pendopo rumahnya dengan luas sekitar 3 meter X 6 meter.
Suasana asri dengan pemandangan pertanian dan berdekatan aliran sungai menjadi tempat yang pas bagi anak-anak untuk belajar. Luhur juga tidak memungut biaya atau menggratiskan kegiatan tersebut kepada anak-anak di dusunnya itu.
"Anak-anak yang ikut di sini sifatnya kita tidak memaksa, rata-rata mereka yang tidak les, kita juga tidak memungut biaya, atau gratis semua ini," katanya.
Luhur pun hingga saat ini masih berusaha menyesuaikan waktunya antara berjualan bakso dengan saat berkegiatan di Sekolah Alam Sobyor.
Meski begitu, bagi Luhur meskipun menjadi wirausahawan menguras waktunya saat ini, tetapi kuat keinginannya untuk tetap bisa bermanfaat bagi orang lain melalui kegiatan sosial tersebut.
"Masih susah juga bagi saya menyesuaikan waktu, kadang kalau ada pembeli saya masih melayani, tapi saya tetap mencoba fokus di Sekolah Alam Sobyor," katanya.
Berjalannya waktu, dukungan dari berbagai pihak mengalir dalam kegiatan Sekolah Alam Sobyor. Terutama dari kalangan akademisi kampus seperti Universitas Brawijaya (UB) dan Universitas Negeri Malang (UM).
"Dari teman-teman Sosiologi UB, mereka bermain bersama anak-anak melalui permainan tradisional. Terus dosen UM sampai ada yang kesini, dia mengajarkan tentang edukasi seksual dasar, seperti bagaimana mengajarkan ke anak-anak batas-batas bagian tubuh yang sensitif tidak boleh disentuh, kemudian bagaimana bila terjadi sesuatu," katanya.
Kegiatannya itu juga mendapat respons positif dari masyarakat di desanya. Bahkan, warga dari dusun dan desa lainnya di Kota Batu berminat untuk mengikutsertakan anaknya di Sekolah Alam Sobyor.
"Permintaan dari ibu-ibu dusun lainnya juga banyak, mereka ingin anaknya ikut di sini, ada dari ibu-ibu di Pandanrejo juga," katanya.
Dari kegiatannya di Sekolah Alam Sobyor, dirinya juga mendapat pelajaran hidup yang positif. Luhur kini memahami bagaimana susahnya menjadi guru untuk anak-anak sekolah dasar. Namun, kegiatannya itu juga berdampak positif terhadap anaknya yang masih balita.
"Anak-anak itu macam-macam ketika pertemuan, ada yang nangis, ada yang diem, tapi ini juga menjadi hal yang positif untuk anak saya, karena dia memperhatikan terus kegiatan Sekolah Alam Sobyor," katanya. Ke depan, Luhur berkeinginan untuk terus mengembangkan Sekolah Alam Sobyor. Rencananya dalam waktu dekat, dia juga akan membuka kesempatan bagi siapa saja yang ingin menjadi sukarelawan dalam kegiatannya tersebut.
Selain itu, dia berharap, Sekolah Alam Sobyor kelak dapat memfasilitasi semua jenjang anak-anak sekolah. Sedangkan untuk jangka pendek, Luhur ingin menanamkan ajaran kepada anak-anak tentang flora dan fauna secara langsung dari alam.
"Selama ini mereka belajar di pendopo, kita sebenarnya sudah survei untuk rencananya mengajak jalan-jalan anak-anak menuju Coban Talun, harapannya mereka bisa belajar dan memahami pentingnya lingkungan alam, ini masih menyesuaikan kondisi cuaca juga," tutupnya.