Konten dari Pengguna

Jatuh Cinta pada Papua

Suatu Pagi di Pantai Jayapura (dokumentasi pribadi)
zoom-in-whitePerbesar
Suatu Pagi di Pantai Jayapura (dokumentasi pribadi)

Refleksi Perjalanan Singkat ke Tanah Papua

"Jatuh cinta memang manis, tak mau waktu ini habis. Apalagi ada kamu di sini."

Lirik lagu itu tiba-tiba terngiang di telinga sejak pertama kali menginjakkan kaki di Tanah Papua. Entah mengapa, lirik sederhana itu terasa begitu tepat. Ada sesuatu yang sulit dijelaskan ketika melihat Papua dari dekat, bukan dari layar televisi, bukan dari berita, bukan pula dari cerita orang.

Sebab, seperti kata orang, seeing is believing.

Papua ternyata jauh dari imajinasi saya. Dan mungkin juga jauh dari bayangan sebagian masyarakat Indonesia yang belum pernah datang ke sana. Di balik segala persoalan yang sering diberitakan, saya menemukan wajah Papua yang lain: manusia-manusia yang ramah, terbuka, bersahabat, dan hangat.

“Pada dasarnya orang Papua itu sangat baik,” tutur salah seorang pemimpin redaksi media setempat dalam sebuah perbincangan.

Saya mengangguk. Setelah bertemu dan berbicara dengan banyak orang Papua, saya semakin memahami kalimat itu.

Barangkali selama ini kita terlalu sering mengenal Papua dari persoalannya, bukan dari manusianya. Kita lebih mudah membicarakan apa yang kurang daripada apa yang dimiliki. Lebih cepat menunjuk masalah daripada mencari jalan keluar.

Salah satu Pantai Jayapura (dokumentasi pribadi)

Padahal Papua bukan sekadar wilayah di ujung timur Indonesia. Papua adalah rumah bagi kekayaan alam, kebudayaan, dan terutama manusia-manusia Indonesia yang memiliki harapan sederhana: hidup aman, sejahtera, dihargai, dan memiliki masa depan yang lebih baik.

Bahkan alam Papua seolah mengajarkan kita tentang betapa istimewanya tanah ini.

Dalam buku Ekologi Papua terbitan 2012 disebutkan bahwa Papua merupakan habitat bagi sekitar 15.000–20.000 jenis tumbuhan, dengan sekitar 55 persen di antaranya endemik. Papua juga memiliki sekitar 602 jenis burung, 52 persen endemik; 125 jenis mamalia, dengan 58 persen endemik; serta 223 jenis reptilia, sekitar 35 persen endemik.

Ada cenderawasih, kangguru pohon, ikan pelangi, kupu-kupu dengan warna yang menakjubkan, serta ribuan flora dan fauna lainnya.

Namun, setelah melihat Papua dari dekat, saya justru merasa bahwa kekayaan terbesar Papua bukan hanya yang tumbuh di hutan atau berenang di sungainya.

Kekayaan terbesar Papua adalah manusianya

Bersama para pemain rugby Papua (dokumentasi pribadi)

Perjalanan itu mempertemukan kami dengan Wakil Gubernur Papua dan jajaran Pemerintah Provinsi Papua, Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB), Badan Pengarah Percepatan Pembangunan Otonomi Khusus Papua (BP3OKP) Papua, Universitas Cenderawasih, para jurnalis dan pemimpin media, Persatuan Rugby Union Indonesia, hingga komunitas sepak bola Heijnes Football School.

Berbeda tempat, berbeda profesi, dan berbeda latar belakang, tetapi saya menangkap satu semangat yang sama:

Papua ingin maju. Dan kita harus bersama Papua untuk maju.

Tentu, tantangan selalu ada. Persoalan sumber daya manusia, tata kelola, pendidikan, ekonomi, infrastruktur, hingga berbagai persoalan sosial tidak boleh ditutup-tutupi. Mencintai seseorang bukan berarti menutup mata terhadap kekurangannya.

Justru karena cinta, kita berani melihat kekurangan dengan jernih, lalu memilih untuk membantu memperbaikinya.

Cinta kepada Papua tidak boleh berhenti pada slogan, pidato, spanduk, atau unggahan di media sosial. Cinta harus berubah menjadi tindakan. Menjadi kunjungan. Menjadi pendidikan. Menjadi penguatan kapasitas. Menjadi kesempatan. Menjadi investasi. Menjadi ruang bagi anak-anak Papua untuk bermimpi setinggi-tingginya dan memiliki kesempatan yang sama untuk mewujudkan mimpi itu.

Saya membayangkan cinta kepada Papua seperti merawat sebuah taman yang kita cintai.

Kita tidak datang hanya ketika bunganya sedang bermekaran. Kita datang pula ketika ada ranting patah, tanah mengering, atau daun mulai menguning. Kita menyiram, membersihkan, memberi pupuk, dan membiarkannya tumbuh dengan karakter alaminya sendiri.

Kita tidak memaksa bunga mawar menjadi anggrek. Kita tidak meminta cenderawasih menjadi burung lain.

Begitu pula Papua. Papua tidak perlu kehilangan jati dirinya untuk menjadi maju. Yang dibutuhkan adalah kesempatan untuk tumbuh, berkembang, dan berdiri sejajar dengan saudara-saudaranya yang lain.

Karena itu, mencari kekurangan semata hanya akan memperpanjang daftar masalah. Sebaliknya, mencari kepentingan bersama, membangun kepercayaan, dan menemukan solusi bersama akan jauh lebih indah dan bermakna.

Kantor Gubernur Papua (dokumentasi pribadi)

Dalam konteks keamanan, kita tentu patut memberikan apresiasi kepada TNI dan Polri yang menjalankan tugas menjaga kedaulatan, keamanan, dan keutuhan NKRI di Papua, dengan risiko dan pengorbanan yang tidak kecil. Namun, ke depan, pendekatan keamanan juga perlu terus berinovasi agar semakin presisi, preventif, dan humanis, tegas ketika kedaulatan dan keselamatan masyarakat terancam, tetapi pada saat yang sama mampu memperkuat dialog, membangun kepercayaan, dan meminimalkan jatuhnya korban di semua pihak. Sebab keamanan pada akhirnya bukan hanya tentang seberapa kuat kita menghadapi ancaman, tetapi juga seberapa mampu kita menghadirkan rasa aman bagi masyarakat.

Dalam konteks diplomasi, Kementerian Luar Negeri bersama Perwakilan RI terutama di kawasan Pasifik telah dan terus membangun komunikasi dan hubungan yang konstruktif dengan negara-negara Pasifik. Sejatinya, diplomasi Pasifik bukan hanya menjelaskan posisi Indonesia tentang Papua. Lebih dari itu, diplomasi adalah membangun jembatan pemahaman dan kepercayaan. Semakin banyak ruang untuk dialog dan kerja sama di bidang pendidikan, kebudayaan, olahraga, serta people-to-people contact, semakin terbuka kesempatan bagi masyarakat Pasifik untuk mengenal Papua dan Indonesia secara lebih utuh.

Papua bukan hanya bagian dari kebijakan dalam negeri. Papua merupakan bagian dari wajah Indonesia di Pasifik. Di sinilah diplomasi memiliki peran: membawa cerita tentang Papua yang lebih lengkap; tentang masyarakatnya, budayanya, potensi dan harapannya, sekaligus mendengarkan perspektif negara-negara Pasifik dengan sikap terbuka dan saling menghormati.

Sebagai ASN yang juga diplomat, saya telah mengunjungi hampir seluruh negara Timur Tengah yang pernah atau sedang mengalami konflik. Di banyak tempat, saya bertemu masyarakat yang hidup di tengah ketegangan dan perang.

Ketika kami bertanya, “Apa yang sebenarnya kalian inginkan?”

Jawabannya hampir selalu sama:

“Kenapa harus ada perang? Kami hanya ingin hidup damai.”

Mereka ingin anak-anaknya dapat bersekolah dengan aman. Para orang tua dapat bekerja dengan tenang. Para pedagang dapat pergi ke pasar tanpa takut bom atau peluru. Mereka ingin malam hari menjadi waktu untuk tidur, bukan waktu untuk bertanya apakah esok masih akan datang.

Konflik yang berkepanjangan hampir selalu meninggalkan luka. Siapa pun yang menang dan siapa pun yang kalah membawa harga yang mahal: kehilangan, trauma, kehancuran, dan generasi yang harus membayar kesalahan masa lalu.

Papua membutuhkan kepercayaan untuk berkembang. Papua membutuhkan saudara-saudaranya untuk hadir, bukan sekadar berbicara tentang Papua, melainkan berjalan bersama Papua.

Dan mungkin di situlah makna “jatuh cinta” kepada Papua. Cinta yang sesungguhnya bukan sekadar rasa kagum ketika melihat sesuatu yang indah. Cinta adalah kesediaan untuk bertahan ketika keadaan tidak selalu indah.

Cinta bukan hanya mengejar ketika belum kita miliki. Cinta justru diuji setelah kita memilikinya: apakah kita mau merawatnya?

Indonesia adalah rumah besar. Papua adalah salah satu ruang penting di dalamnya.

Jangan sampai kita begitu bangga mengatakan Papua adalah bagian dari Indonesia, tetapi lupa memastikan bahwa saudara-saudara kita di Papua benar-benar merasa menjadi bagian yang dicintai dari rumah besar ini.

Kini, saya pulang sebagai seseorang yang jatuh cinta pada Papua. Begitu banyak potensi, keramahan, dan harapan di sana.

Dan cinta itu tentu harus diperjuangkan. Mencintai Indonesia berarti mencintai seluruh bagiannya. Termasuk Papua.

Karena cinta yang sejati bukan hanya berkata, “Aku mencintaimu.”

Cinta yang sejati berkata:

“Aku akan tetap di sini. Aku akan mendengar. Aku akan menjaga. Dan kita akan tumbuh bersama.”