Jauh dari Ideal: Ketika Harga dan Logistik Menghalangi Remaja Indonesia Membaca

Seorang pelajar SMA yang bersekolah di SMA Ciputra Kasih Surabaya
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Nadia Nathania Chandra tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Literasi memiliki peran penting dalam meningkatkan kualitas pendidikan dan kemampuan berpikir remaja. Melalui kegiatan membaca, remaja dapat memperoleh pengetahuan baru, memperluas wawasan, serta mengembangkan kemampuan berpikir kritis. Namun, budaya literasi di Indonesia masih menghadapi berbagai kendala. Salah satu penyebab utamanya adalah tingginya harga buku dan terbatasnya akses terhadap bahan bacaan berkualitas. Akibatnya, tidak semua remaja memiliki kesempatan yang sama untuk memperoleh buku yang sesuai dengan kebutuhan mereka. Oleh karena itu, diperlukan upaya bersama dari pemerintah, sekolah, penerbit, dan masyarakat agar buku lebih mudah diperoleh.
Salah satu hambatan utama dalam meningkatkan literasi adalah terbatasnya ketersediaan buku. Menurut data Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (2022), rasio koleksi buku di perpustakaan daerah saat ini hanya sekitar satu buku untuk setiap 90 orang. Angka tersebut masih jauh dari standar UNESCO yang merekomendasikan tiga buku baru untuk setiap orang setiap tahun. Perbedaan yang signifikan ini menunjukkan bahwa ketersediaan buku di Indonesia belum memadai. Kondisi tersebut menyebabkan pilihan bahan bacaan bagi remaja menjadi lebih terbatas sehingga kebiasaan membaca menjadi lebih sulit berkembang. Minimnya variasi bahan bacaan di perpustakaan daerah kerap membuat minat baca remaja surut sebelum sempat berkembang dengan baik. Akibatnya, ketimpangan akses informasi makin meluas antara remaja di kawasan perkotaan dan wilayah pelosok.
Selain jumlah buku yang terbatas, harga buku dan biaya distribusi juga menjadi kendala nyata. Informasi dari Perpustakaan Nasional (Perpusnas, 2024) menunjukkan bahwa biaya pengiriman buku ke berbagai daerah masih tinggi sehingga memengaruhi pemerataan akses terhadap bahan bacaan. Kondisi ini menyebabkan harga buku di beberapa wilayah menjadi lebih mahal dibandingkan wilayah lainnya. Akibatnya, masyarakat, termasuk remaja, menjadi lebih sulit memperoleh buku yang berkualitas. Bahkan, jika dibandingkan secara internasional, harga relatif buku di Indonesia tergolong sangat tinggi akibat beban pajak dan biaya logistik, di mana harga rata-rata satu buku dapat setara dengan pendapatan harian sebagian masyarakat (Direktorat Jenderal Pajak, 2023). Hal ini sangat berbeda dengan negara-negara maju yang memberikan insentif pajak nol persen dan subsidi bebas ongkir untuk pengiriman buku hingga ke daerah terpencil. Padahal, kemudahan akses terhadap buku merupakan salah satu faktor penting dalam mendukung kebiasaan membaca.
Untuk mengatasi permasalahan tersebut, diperlukan kerja sama dari berbagai pihak. Ikatan Penerbit Indonesia (IKAPI, 2022) menyatakan bahwa pemerintah perlu memperkuat kebijakan pengadaan buku, mendukung Gerakan Literasi Sekolah, serta memperluas akses masyarakat terhadap bahan bacaan. Pemerintah juga dapat mengambil langkah konkret melalui pembebasan pajak maupun pemberian subsidi distribusi agar harga jual buku dapat ditekan secara signifikan. Kebijakan semacam ini terbukti efektif di negara lain dalam menurunkan harga pasaran buku sehingga lebih ramah di kantong pelajar. Di samping itu, sekolah perlu mengoptimalkan fungsi perpustakaan sebagai sumber belajar, sedangkan masyarakat dapat mendukung budaya membaca melalui pemanfaatan perpustakaan umum atau taman bacaan. Dengan berbagai upaya tersebut, kesempatan remaja untuk memperoleh buku diharapkan semakin terbuka.
Berdasarkan uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa tingginya harga buku serta keterbatasan akses terhadap bahan bacaan masih menjadi hambatan utama dalam meningkatkan literasi remaja di Indonesia. Oleh karena itu, sinergi antara pemerintah, sekolah, penerbit, dan masyarakat sangat diperlukan untuk menyediakan buku yang terjangkau serta mudah diakses. Dengan meningkatnya akses terhadap buku, budaya literasi remaja diharapkan dapat berkembang sehingga mampu membentuk generasi yang berpengetahuan, kritis, dan siap menghadapi tantangan masa depan.
