Konten dari Pengguna

Majelis Ta'lim Virtual: Pilihan Baru Gen Z Urban

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Jauhar Maknun tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Dahulu, menghadiri majelis ta’lim berarti mengikat tali sepatu, menembus kemacetan kota, lalu duduk bersimpuh di atas karpet masjid bersama puluhan hingga ratusan jamaah lain. Kehadiran fisik adalah bukti komitmen, dan usapan tangan saat bersalaman dengan sang ustaz kerap diyakini sebagai saluran keberkahan yang nyata.

Gambar ini di ambil dari gemini ai Jamaah muda menghadiri kajian secara langsung di masjid sebagai referensi pada artikel berikut
zoom-in-whitePerbesar
Gambar ini di ambil dari gemini ai Jamaah muda menghadiri kajian secara langsung di masjid sebagai referensi pada artikel berikut

Namun, bagi Generasi Z (Gen Z) yang tumbuh di tengah riuk-pikuk kawasan perkotaan, ritual keagamaan tersebut mengalami pergeseran bentuk yang signifikan.

Cukup bermodalkan koneksi internet, rebahan di kamar, dan membuka aplikasi TikTok, Instagram Live, atau Zoom, materi kajian agama sudah bisa diserap dengan jernih. Fenomena ini memicu pertanyaan mendasar: ketika ruang belajar agama berpindah dari sajadah fisik ke layar sentuh, apakah esensi dan makna majelis ta’lim itu sendiri ikut bergeser?

Kepraktisan di Tengah Hustle Culture

Tidak bisa dimungkiri, mobilitas tinggi dan budaya serba cepat (hustle culture) menjadi pendorong utama Gen Z urban memilih majelis ta’lim virtual. Bagi mahasiswa atau pekerja muda yang waktunya habis di jalan, opsi menyimak kajian secara daring memberikan fleksibilitas luar biasa.

Selain efisiensi waktu, ruang virtual juga menjadi tempat yang ramah bagi mereka yang kerap merasa canggung secara sosial (social anxiety). Tanpa perlu khawatir dinilai dari gaya berpakaian atau cara bersikap oleh jamaah lain, Gen Z bisa menyerap ilmu agama dengan nyaman di ruang pribadinya.

Gambar ini di ambil dari gemini ai Anak muda memperhatikan tayangan kajian/sermon di smartphone sebagai referensi pada artikel berikut

Kehilangan "Rasa" dan Pudarnya Sakralitas?

Meskipun menyajikan kemudahan, majelis ta’lim virtual tidak sepenuhnya tanpa celah. Tantangan terbesar dari format ini adalah hilangnya dimensi emosional dan kedalaman spiritual yang biasanya hadir di ruang fisik.

Suasana hening masjid, gemuruh lantunan zikir bersama, hingga interaksi hangat tatap muka adalah variabel yang sulit direplikasi oleh piksel layar smartphone. Di ruang virtual, batasan antara yang sakral dan yang profan sering kali mengabur. Tidak jarang seseorang menyimak ceramah agama sambil membalas pesan obrolan, menggeser (scrolling) media sosial lain, atau bahkan sambil menyelesaikan pekerjaan kantor.

Akibatnya, materi kajian berisiko hanya menjadi konsumsi informasi semata, bukan lagi pengalaman spiritual yang meresap ke dalam batin.

Redefinisi Keberkahan dan Kehadiran

Bagi Gen Z urban, cara memaknai "keberkahan" dan "kehadiran" kini mengalami redefinisi. Kehadiran tidak lagi melulu diukur dari fisik yang duduk di dalam majelis, melainkan pada keterikatan fokus dan kesungguhan niat saat menyimak.

Komunitas atau ukhuwah pun tidak melenyap, melainkan bertransformasi menjadi virtual ummah. Rasa saling memiliki itu kini diwujudkan melalui interaksi di kolom komentar, saling berbagi potongan video ceramah yang menguatkan, hingga diskusi di grup obrolan komunitas keagamaan.

Majelis Hibrida sebagai Masa Depan

Pada akhirnya, menghadap-hadapkan majelis ta’lim tatap muka dan virtual sebagai dua hal yang bertentangan adalah langkah yang kurang tepat. Keduanya tidak saling meniadakan, melainkan saling melengkapi.

Majelis virtual hadir sebagai pintu masuk yang ramah bagi Gen Z untuk memulai atau menjaga ritme spiritual mereka di tengah kesibukan kota. Sementara itu, majelis ta’lim tatap muka tetap menjadi "oase" yang dicari ketika mereka merindukan ketenangan batin, keheningan, dan ikatan emosional yang lebih mendalam.

Penutup

Pegeseran dari ruang fisik ke layar sentuh bukanlah tanda pudarnya semangat beragama, melainkan adaptasi alami Generasi Z di tengah rimba modernitas. Pada akhirnya, baik melalui kekhusyukan di sudut masjid maupun ruang hibrida di genggaman tangan, nilai utama majelis ta’lim tetap bertumpu pada satu hal: kesungguhan niat untuk terus belajar dan memperbaiki diri.

Di masa depan, format hibrida (hybrid assembly) akan menjadi wajah baru dakwah Islam urban: memadukan keluwesan teknologi tanpa menghilangkan roh spiritualitasnya.