Black Metal: Ketika Kegelapan Menjadi Bahasa Perlawanan

Javier Lilo Mahardika, mahasiswa Universitas Airlangga, aktif dalam kepemudaan, kepemimpinan, pendidikan, dan pengembangan pariwisata Indonesia.
·waktu baca 5 menit
Tulisan dari javierlilomahardikaa tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ketika mendengar istilah black metal, sebagian orang mungkin langsung membayangkan suara gitar yang distorsif, vokal yang kasar, pakaian serba hitam, riasan wajah pucat, serta simbol-simbol yang dianggap gelap dan kontroversial. Tidak sedikit pula yang berhenti pada kesan tersebut dan kemudian menyimpulkan bahwa black metal hanyalah musik yang identik dengan kekerasan, satanisme, atau pemberontakan tanpa arah.
Namun, apakah sebuah kebudayaan dapat dipahami hanya dari apa yang tampak di permukaannya?
Pertanyaan tersebut penting karena black metal tidak semata-mata dapat dibaca sebagai genre musik. Dalam perkembangannya, ia menjadi bagian dari sebuah subkultur yang membangun identitas melalui suara, visual, lirik, serta sikap terhadap lingkungan sosial di sekitarnya. Kegelapan yang ditampilkan bukan selalu tentang kejahatan. Dalam banyak konteks, kegelapan justru menjadi bahasa untuk menyampaikan kegelisahan, keterasingan, kemarahan, bahkan penolakan terhadap sesuatu yang dianggap terlalu seragam.
Di sinilah black metal menarik untuk dibicarakan.
Kegelapan sebagai bahasa
Manusia memiliki berbagai cara untuk menyampaikan perlawanan. Ada yang menggunakan demonstrasi, tulisan, pidato, karya seni, atau gerakan sosial. Dalam dunia musik, perlawanan dapat hadir melalui suara dan estetika.
Black metal memilih bahasa yang tidak selalu nyaman untuk didengar.
Distorsi yang kasar, tempo yang agresif, vokal yang terdengar seperti jeritan, serta atmosfer yang muram menciptakan pengalaman yang jauh dari musik populer yang umumnya menawarkan kenyamanan. Justru ketidaknyamanan tersebut dapat menjadi bagian dari pesan.
Musik tidak selalu harus membuat pendengarnya merasa bahagia. Ia juga dapat membuat seseorang merasa gelisah, mempertanyakan sesuatu, atau berhadapan dengan sisi kehidupan yang selama ini ingin disembunyikan.
Kematian, kesepian, kehampaan, alam, agama, eksistensi, dan keterasingan merupakan tema-tema yang dapat muncul dalam kultur black metal. Tema tersebut mungkin terdengar gelap, tetapi sesungguhnya merupakan bagian dari pengalaman manusia.
Bukankah manusia juga hidup bersama kehilangan, ketakutan, konflik, dan pertanyaan tentang makna kehidupan?
Jika demikian, mengapa ekspresi tentang sisi gelap kehidupan harus selalu dianggap sebagai sesuatu yang negatif?
Melawan keseragaman
Salah satu karakter penting dalam subkultur musik adalah keinginan untuk membangun identitas yang berbeda dari arus utama. Black metal berkembang dengan estetika yang secara sadar mengambil jarak dari budaya populer.
Dalam masyarakat yang semakin dipengaruhi algoritma, tren, dan budaya viral, pilihan untuk tampil berbeda dapat menjadi bentuk pernyataan identitas.
Hari ini seseorang dapat mengetahui lagu yang sedang populer hanya dengan membuka media sosial. Algoritma menentukan apa yang muncul di layar, sementara tren menentukan apa yang dianggap relevan. Dalam situasi semacam ini, subkultur menjadi salah satu ruang tempat individu mempertahankan identitas yang tidak sepenuhnya ditentukan oleh arus utama.
Black metal, dengan segala estetika dan karakter ekstremnya, dapat dibaca dalam kerangka tersebut.
Ia tidak berusaha menjadi musik yang dapat diterima semua orang. Justru eksklusivitas dan ketidaknyamanan estetikanya menjadi bagian dari identitas. Dalam konteks tertentu, sikap tersebut merupakan bentuk penolakan terhadap homogenisasi budaya—keadaan ketika berbagai perbedaan perlahan-lahan diseragamkan oleh selera pasar.
Dengan demikian, perlawanan dalam black metal tidak selalu harus diterjemahkan sebagai perlawanan politik. Ia juga dapat berupa perlawanan kultural: keinginan untuk mengatakan bahwa tidak semua hal harus mengikuti selera mayoritas.
Antara ekspresi dan stigma
Masalah muncul ketika masyarakat menilai sebuah subkultur hanya berdasarkan simbol yang digunakannya.
Pakaian hitam, corpse paint, simbol tengkorak, atau lirik yang berbicara tentang kematian sering kali dianggap cukup untuk menyimpulkan karakter seseorang. Di sinilah stigma bekerja.
Seseorang dapat dianggap berbahaya hanya karena mendengarkan musik tertentu. Padahal, preferensi musik tidak secara otomatis menentukan perilaku seseorang.
Tentu saja, bukan berarti seluruh bentuk atau sejarah black metal harus dibebaskan dari kritik. Sejumlah episode dalam sejarah black metal memang berkaitan dengan tindakan kriminal dan kontroversi serius. Hal tersebut tidak seharusnya disangkal atau romantisasi. Namun, penting untuk membedakan antara tindakan individu tertentu dengan keseluruhan kultur dan jutaan pendengarnya.
Jika satu individu melakukan tindakan kriminal, tidak logis apabila seluruh kelompok dengan identitas musik yang sama dianggap memiliki karakter yang identik.
Persoalannya bukan apakah black metal boleh dikritik. Tentu boleh. Persoalannya adalah apakah kritik tersebut dibangun dari pemahaman atau sekadar prasangka.
Ketika pemberontakan menjadi komoditas
Ada paradoks yang menarik dalam perjalanan musik perlawanan.
Sesuatu yang awalnya muncul sebagai penolakan terhadap arus utama pada akhirnya dapat menjadi bagian dari industri yang sama. Estetika pemberontakan dapat dijual dalam bentuk album, merchandise, konser, hingga identitas komersial.
Black metal pun tidak sepenuhnya berada di luar mekanisme tersebut.
Di satu sisi, ia dapat menjadi ruang untuk mempertahankan identitas alternatif. Di sisi lain, identitas tersebut juga dapat dikomodifikasi. Kegelapan yang dahulu menjadi simbol penolakan dapat berubah menjadi estetika yang dikonsumsi.
Paradoks ini sebenarnya tidak hanya terjadi pada black metal. Hampir setiap bentuk budaya alternatif menghadapi persoalan yang sama. Punk, grunge, hip-hop, bahkan berbagai gerakan seni yang lahir sebagai kritik terhadap kemapanan pada akhirnya dapat masuk ke pasar.
Pertanyaannya kemudian bukan lagi apakah sebuah musik telah menjadi komersial, melainkan apakah semangat kritis di baliknya masih mampu dipertahankan ketika ia telah menjadi bagian dari industri.
Kegelapan tidak selalu berarti kehancuran
Mungkin sudah waktunya kita berhenti melihat kegelapan hanya sebagai lawan dari kebaikan.
Kegelapan juga merupakan bagian dari pengalaman manusia. Kesedihan, kemarahan, kehilangan, keterasingan, dan ketidakpastian adalah realitas yang tidak dapat dihapus hanya dengan mengatakan bahwa semuanya harus positif.
Dalam konteks tersebut, black metal menawarkan satu kemungkinan: bahwa seni tidak harus selalu indah untuk memiliki makna.
Ia boleh kasar. Ia boleh gelap. Ia boleh membuat tidak nyaman.
Sebab, terkadang fungsi seni bukan memberikan jawaban, melainkan mengajukan pertanyaan yang tidak ingin kita dengar.
Black metal pada akhirnya dapat dipahami sebagai salah satu bentuk bahasa budaya. Bagi sebagian orang, ia mungkin hanya terdengar seperti kebisingan. Bagi yang lain, di balik distorsi dan jeritan tersebut terdapat pengalaman tentang identitas, keterasingan, kebebasan, dan penolakan terhadap keseragaman.
Karena itu, persoalannya bukan apakah black metal terlalu gelap.
Mungkin pertanyaan yang lebih relevan adalah: mengapa kita begitu takut ketika seseorang menggunakan kegelapan untuk berbicara?
Sebab, dalam masyarakat yang sering menuntut keseragaman, keberanian untuk terdengar berbeda terkadang merupakan bentuk perlawanan yang paling sederhana.
