Kampus Bukan Pabrik CV: Mengapa Mahasiswa Tidak Harus Selalu Berprestasi

Javier Lilo Mahardika, mahasiswa Universitas Airlangga, aktif dalam kepemudaan, kepemimpinan, pendidikan, dan pengembangan pariwisata Indonesia.
·waktu baca 5 menit
Tulisan dari javierlilomahardikaa tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

“Sudah ikut lomba apa?”
“Organisasi di mana?”
“Sudah punya berapa sertifikat?”
Bagi sebagian mahasiswa, pertanyaan seperti itu mungkin terdengar biasa. Namun, jika dipikirkan lebih jauh, pertanyaan tersebut menunjukkan bagaimana keberhasilan mahasiswa semakin sering dikaitkan dengan daftar pencapaian yang mereka miliki.
Kuliah seakan tidak lagi cukup hanya dengan datang ke kelas, memahami materi, berdiskusi, dan mendapatkan pengalaman baru. Mahasiswa dituntut untuk aktif di organisasi, mengikuti perlombaan, menjadi delegasi, memperoleh beasiswa, mengikuti berbagai program, hingga mengumpulkan sertifikat sebanyak mungkin. Semua pengalaman itu kemudian dirangkum dalam satu dokumen yang dianggap penting untuk masa depan: curriculum vitae atau CV.
Tidak ada yang salah dengan keinginan untuk berprestasi. Masalahnya muncul ketika prestasi mulai dianggap sebagai kewajiban, bukan lagi sebagai salah satu pilihan untuk berkembang.
Di tengah budaya digital, tekanan tersebut semakin mudah muncul. Media sosial membuat kita setiap hari berhadapan dengan pencapaian orang lain. Ada teman yang memenangkan kompetisi, mendapatkan beasiswa, menjadi delegasi ke luar negeri, diterima magang di perusahaan besar, atau memperoleh posisi penting dalam organisasi.
Kita mungkin benar-benar ikut bahagia melihat keberhasilan mereka. Tetapi setelah itu, tidak jarang muncul pertanyaan dalam diri sendiri: “Kalau mereka sudah sejauh itu, saya sudah melakukan apa?”
Perbandingan pun dimulai.
Ketika pengalaman hanya dianggap bernilai jika masuk CV
Saya melihat ada kecenderungan di kalangan mahasiswa untuk memilih kegiatan berdasarkan seberapa menarik kegiatan tersebut ketika ditulis di CV.
Mengikuti kompetisi karena ingin menguji kemampuan tentu merupakan hal yang baik. Bergabung dengan organisasi karena ingin belajar bekerja sama juga merupakan keputusan yang positif. Namun, ketika seseorang mengikuti berbagai kegiatan hanya karena takut CV-nya kalah panjang dari milik orang lain, kita perlu mempertanyakan kembali tujuan dari semua kesibukan tersebut.
Organisasi akhirnya hanya dilihat sebagai jabatan. Seminar menjadi sekadar sertifikat. Kepanitiaan berubah menjadi satu baris tambahan dalam CV. Bahkan kegiatan sosial pun berisiko kehilangan makna apabila tujuan utamanya hanya untuk mendapatkan pengalaman yang bisa dipamerkan.
Kita akhirnya terlalu sibuk mengumpulkan bukti bahwa kita produktif, sampai lupa bertanya apakah semua yang kita lakukan benar-benar membuat kita berkembang.
Padahal, kehidupan mahasiswa seharusnya tidak hanya tentang seberapa banyak aktivitas yang berhasil dikumpulkan.
Ada pertumbuhan yang tidak bisa difoto
Persoalannya, CV memang hanya mampu menunjukkan sebagian kecil dari perjalanan seseorang.
Kita bisa menulis bahwa seorang mahasiswa pernah menjadi ketua organisasi. Kita bisa mencantumkan jumlah kompetisi yang dimenangkan atau program internasional yang pernah diikuti. Tetapi CV tidak bisa menjelaskan seluruh proses di balik pencapaian tersebut.
Ia tidak bisa menceritakan bagaimana seseorang yang awalnya takut berbicara akhirnya berani menyampaikan pendapat.
Ia juga tidak bisa mencatat kegagalan yang membuat seseorang belajar menjadi lebih dewasa.
Bahkan, ia tidak bisa mengukur keberanian seseorang untuk mengakui bahwa pilihan yang selama ini dijalani ternyata bukan jalan yang ingin ditempuh.
Padahal, hal-hal tersebut juga merupakan bentuk pertumbuhan.
Seorang mahasiswa mungkin tidak memenangkan banyak kompetisi, tetapi menjadi jauh lebih percaya diri dibandingkan ketika pertama kali masuk kuliah. Mahasiswa lain mungkin tidak memiliki banyak jabatan organisasi, tetapi berhasil menemukan bidang yang benar-benar ia sukai.
Sayangnya, perubahan seperti itu tidak selalu terlihat menarik di media sosial.
Tidak ada podium untuk difoto. Tidak ada medali untuk dipajang. Tidak selalu ada sertifikat yang bisa diunggah.
Namun, apakah itu berarti proses tersebut tidak berharga?
Tentu saja tidak.
Berprestasi tetap penting, tetapi bukan satu-satunya ukuran
Mengkritik budaya mengejar CV bukan berarti mengajak mahasiswa untuk berhenti berprestasi.
Justru sebaliknya. Prestasi dapat menjadi bagian penting dari proses pengembangan diri. Kompetisi bisa mengajarkan kegigihan. Organisasi bisa melatih kepemimpinan. Program pertukaran dapat memperluas cara pandang. Penelitian mengajarkan ketelitian dan kemampuan berpikir kritis.
Yang perlu kita evaluasi adalah mengapa kita melakukannya.
Apakah kita mengikuti kompetisi karena benar-benar ingin belajar?
Apakah kita masuk organisasi karena ingin berkontribusi?
Apakah kita mengikuti program tertentu karena memang tertarik dengan pengalaman yang ditawarkan?
Atau kita hanya takut merasa tertinggal?
Keduanya terlihat sama dari luar, tetapi sebenarnya berbeda.
Ambisi membuat seseorang berkata, “Saya ingin mencoba karena saya ingin berkembang.”
Sementara kecemasan membuat seseorang berpikir, “Saya harus melakukan ini karena kalau tidak, saya akan tertinggal.”
Jika semua aktivitas dilakukan karena rasa takut tertinggal, sebanyak apa pun pencapaian yang kita dapatkan mungkin tidak pernah terasa cukup.
Setelah satu prestasi tercapai, kita akan mencari prestasi berikutnya. Setelah mendapat satu sertifikat, kita merasa harus mendapatkan yang lain. Setelah berhasil mencapai sesuatu, kita kembali melihat pencapaian orang lain.
Perlombaan tersebut tidak memiliki garis akhir.
Kampus seharusnya menjadi ruang untuk menemukan diri
Menurut saya, kampus tidak seharusnya hanya menjadi tempat untuk mencetak lulusan yang memiliki CV menarik. Kampus juga harus menjadi ruang bagi mahasiswa untuk mengenali dirinya sendiri.
Mahasiswa perlu diberi kesempatan untuk mencoba dan gagal.
Mereka perlu memiliki ruang untuk mengubah pilihan, menemukan minat baru, berdiskusi dengan orang yang berbeda, atau bahkan menyadari bahwa suatu bidang ternyata bukan untuk mereka.
Sebab, tidak semua proses pendidikan menghasilkan sesuatu yang bisa langsung ditunjukkan.
Ada pelajaran yang manfaatnya baru terasa beberapa tahun kemudian. Ada kegagalan yang baru kita pahami setelah melewatinya. Ada pertemanan yang mengajarkan kita tentang empati. Ada diskusi sederhana di ruang kelas yang mungkin mengubah cara kita melihat sebuah persoalan.
Semua itu merupakan bagian dari pendidikan, meskipun tidak semuanya bisa ditulis dalam CV.
Karena itu, mungkin sudah waktunya kita mengubah pertanyaan kepada mahasiswa.
Bukan hanya, “Apa prestasimu?”
Tetapi juga, “Apa yang kamu pelajari?”
Bukan hanya, “Berapa banyak organisasi yang kamu ikuti?”
Tetapi, “Bagaimana pengalaman itu mengubah dirimu?”
Sebab ketika masa kuliah selesai, yang kita bawa pulang bukan hanya selembar CV. Kita membawa cara berpikir, pengalaman, kegagalan, hubungan dengan orang lain, dan pemahaman yang lebih baik tentang siapa diri kita.
Prestasi tetap layak dikejar. Ambisi juga tidak perlu dimatikan. Namun, kita tidak perlu menjadikan pencapaian orang lain sebagai standar untuk menentukan apakah perjalanan kita sudah cukup.
Kampus bukan pabrik CV. Kampus adalah tempat manusia bertumbuh. Dan tidak semua pertumbuhan harus terlihat untuk menjadi berarti.
