Konten dari Pengguna

AI Cerdas, tetapi Tidak Memiliki Nilai Keimanan

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Jazzlyn Lie Sugiarto tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

"Banyak orang keheranan dan terkaget-kaget karena AI dianggap telah menggantikan peran-peran pemuka agama. Banyak pemuka agama hari ini mengambil jalan pintas. Ada yang menggunakannya untuk menggantikan kitab kuning, menggantikan sanad keilmuan, hingga menggantikan aspek spiritualitas dan etika dalam bimbingan keagamaan" ujar Cak Udin. Hal ini disampaikan Cak Udin dalam forum warga yang berjudul “Ruang Temu AI dan Agama: Menyongsong Masa Depan Kehidupan Beragama di Era Artificial Intelligence (AI)” yang dilaksanakan di Kantor DPP PKB, Jakarta, yang menjadi bagian dari rangkaian peringatan Hari Lahir ke-28 PKB.

Diskusi publik PKB tentang AI dan Agama dikutip dari Adhfar Aulia
zoom-in-whitePerbesar
Diskusi publik PKB tentang AI dan Agama dikutip dari Adhfar Aulia

Di era yang sekarang, segala sesuatu dilakukan pada dunia digital dan perkembangan AI di dunia semakin pesat. Indonesia tak lepas dari pengaruh era digital ini, menteri komunikasi dan digital Meutya Hafid menyampaikan bahwa tingkat adopsi AI di Indonesia telah mencapai 92 persen. Hal ini berarti, sebagian besar masyarakat atau pekerja di Indonesia sudah menggunakan teknologi kecerdasan buatan dan masyarakat Indonesia termasuk sangat cepat dalam beradaptasi dengan teknologi baru. Saat ini penggunaan AI telah dimanfaatkan dalam berbagai bidang kehidupan. Sebagai contoh pada bidang kesehatan AI digunakan untuk membantu dalam diagnosis penyakit, analisis hasil MRI, percepatan riset obat, dan pemantauan kesehatan melalui perangkat wearable.

Tak hanya itu, bahkan, pemanfaatan AI juga telah digunakan dalam bidang keagamaan. AI dapat digunakan untuk mencari informasi keagamaan, menjawab pertanyaan seputar agama, serta membantu masyarakat untuk mempelajari berbagai pengetahuan keagamaan. Teknologi tersebut membuat akses terhadap informasi agama menjadi lebih cepat dan mudah.

Adanya AI tersebut lama-lama membuat masyarakat merasa bahwa AI mulai menggantikan peran pemuka agama. Dengan hanya mengetik sebuah pertanyaan, AI dapat memberi jawaban tentang keagamaan dalam waktu yang sangat singkat. Hal ini menimbulkan kekhawatiran, karena masyarakat mulai menjadikan AI sebagai sumber utama untuk mengambil keputusan dalam bidang keagamaan.

Padahal, AI seharusnya menjadi alat bantu, bukan sebagai pengganti pemuka agama secara keseluruhan. Kiai Cholil mengatakan, “Meskipun artificial intelligence secerdas apa pun dan memberi informasi yang banyak tapi ia adalah mesin yang tak berakal dan tak punya rasa. Maka jangan pernah menganggapnya seperti mujtahid dan meminta fatwa dalam masalah keagamaan.” Perkataan tersebut menjelaskan bahwa kecerdasan AI tidak sama dengan kemampuan pemuka agama dalam membimbing umat.

AI tentu mampu memberikan jawaban tentang agama berdasarkan berbagai informasi yang telah dipelajarinya. Akan tetapi, kemampuan AI terbatas karena hanya berbasis pengolahan data dan informasi. AI tidak memiliki iman, niat, pengalaman spiritual, maupun tanggung jawab moral yang seharusnya dimiliki manusia. Oleh karena itu, jawaban AI tidak dapat selalu dianggap benar. AI juga dapat memberikan informasi yang tidak akurat atau melenceng dari ajaran yang seharusnya.

Sebuah studi mengatakan bahwa sistem AI dapat memberikan penjelasan mengenai informasi keagamaan, tetapi tidak benar-benar menghayati iman. Penelitian tersebut juga menemukan bahwa dalam beberapa kasus AI dapat mengabaikan cara pandang agama ketika memberikan jawaban atas pertanyaan tertentu. Maka dari itu, masyarakat tidak bisa menerima jawaban AI secara langsung tanpa melakukan konfirmasi pada sumber keagamaan yang terpercaya.

Namun bukan berarti AI tidak boleh digunakan, akan tetapi AI perlu disikapi dengan bijaksana. AI memberikan hasil secara instan dan serba cepat. Di satu sisi, sangat membantu masyarakat mengetahui informasi. Namun, apabila diterapkan secara berlebihan, hal tersebut dapat membuat seseorang menjalani proses belajar agama secara tergesa-gesa. Padahal, iman tidak tumbuh melalui kecepatan memperoleh informasi, tetapi melalui kesabaran, ketekunan, dan pengalaman.

Pemuka agama memiliki peran tidak untuk sekedar memberikan informasi. Pemuka agama juga memberikan teladan, membimbing umat, membantu memahami nilai-nilai agama, serta memberikan pendampingan dalam membangun keimanan. Hal-hal tersebut membutuhkan empati, pengalaman, keteladanan, dan hubungan antarmanusia yang tidak dapat dimiliki oleh AI.

Perkembangan AI tentu membawa banyak perubahan besar dalam berbagai aspek kehidupan, termasuk dalam aspek keagamaan. AI dapat membantu masyarakat mengakses informasi keagamaan secara cepat dan praktis, sehingga teknologi ini dapat menjadi sarana untuk memperluas pengetahuan. Akan tetapi, kemampuan tersebut tidak menjadikan AI sebagai pengganti pemuka agama. AI bekerja berdasarkan data dan algoritma sehingga tidak memiliki iman, hati nurani, pengalaman spiritual, ataupun tanggung jawab moral yang menjadi bagian penting dalam kehidupan beragama.

Oleh karena itu, kehadiran AI perlu disikapi secara bijaksana. AI sebaiknya digunakan sebagai alat bantu untuk mendukung proses belajar dan penyebaran informasi keagamaan, sedangkan peran pemuka agama tetap diperlukan karena adanya kebutuhan akan keteladanan, bimbingan, dan pendampingan spiritual. Dengan menempatkan AI sebagai pelengkap, bukan pengganti, masyarakat dapat memanfaatkan kemajuan teknologi secara bijak tanpa kehilangan makna dan nilai dalam kehidupan beragama.