Konten dari Pengguna

Merawat Akar, Menjaga Tradisi: Eksistensi Keturunan Portugis di Gereja Tugu

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Aurelle Jean Azarel tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Gereja Tugu (19/09/2026). Foto: Dok. Pribadi
zoom-in-whitePerbesar
Gereja Tugu (19/09/2026). Foto: Dok. Pribadi

Di tengah hiruk-pikuk modernitas Jakarta Utara, berdiri kokoh bangunan bersejarah yang menjadi simbol hidup bahwa identitas kultural mampu bertahan melintasi ruang dan waktu. Gereja Tugu yang dibangun pada abad ke-18 menjadi saksi bisu ketahanan hidup komunitas keturunan Portugis asli Batavia, Mardijkers. Bukan hanya sebagai tempat ibadah umat Kristiani, gereja ini juga dikenal dengan konsistensinya dalam melestarikan subbudaya khas warisan leluhur.

Kampung Tugu secara historis tidak dapat lepas dari sejarah kaum Mardijkers, kelompok masyarakat bekas tawanan perang atau budak yang berhasil dimerdekakan pemerintah kolonial Belanda (VOC). Setelah bebas, komunitas ini mendiami sebuah pemukiman yang hingga saat ini dikenal dengan Kampung Tugu. Komunitas Mardijkers tidak hanya membangun pemukiman dan tempat ibadah, tetapi juga secara aktif menumbuhkan subbudaya baru yang unik, yaitu perpaduan antara elemen Portugis dan lokal Nusantara. Di sekitar lingkungan gereja inilah tradisi musik krontjong tugu lahir dan berkembang sebagai media ekspresi kultural, berpadu dengan tradisi lisan, dialek khas, hingga ritual tahunan seperti Mandi-Mandi dan Rabo-Rabo.

Gereja ini memiliki ciri khas unik, yaitu sebuah lonceng tua peninggalan budaya Portugis selalu dibunyikan setiap kali ibadah akan dimulai. Di dalam kompleks gereja terdapat pula area pemakaman masyarakat keturunan Portugis. Pemakaman ini berisi makam-makam tua yang masih mencantumkan nama-nama keluarga Portugis sejak ratusan tahun lalu.

“Gereja Tugu punya sejarah yang kaya. Siapa sangka keturunan Portugis masih solid dan hidup berdampingan di sini. Suasananya sangat hangat dan komunitasnya welcoming bikin saya semakin tertarik setelah melihat langsung salah satu gereja tertua di Indonesia,” ucap Bapak Surya, salah satu pengunjung Gereja Tugu.

Meskipun dikelilingi oleh modernisasi kota Jakarta, kehidupan masyarakat di sekitar Kampung Tugu tetap mempertahankan kehangatan dan ikatan kekeluargaan yang erat. Para keturunan Mardijkers hidup berdampingan secara harmonis dengan pendatang baru, menjadikan tradisi leluhur, ritual keagamaan, dan denyut kehidupan sehari-hari berpadu selaras di pinggiran ibu kota.