Dua Goa, Dua Zaman, Dua Cerita Bersejarah!
Tulisan dari Jeanette Angelica Dahjan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Goa Jepang dan Goa Belanda merupakan peninggalan bersejarah yang berada di kawasan Taman Hutan Raya Ir. H. Djuanda, Bandung Kedua objek tersebut sering dikenal dengan sebutan “goa” namun, sebenarnya kedua goa objek tersebut merupakan jaringan terowongan yang dibuat pada masa penjajahan dan pendudukan asing. Walaupun sama-sama terletak di kawasan perbukitan dan pernah digunakan untuk kepentingan militer, keduanya memiliki latar belakang, pembangunan, dan fungsi yang berbeda. Perbedaan tersebut dapat dilihat dari bentuk bangunan, kondisi bagian dalam, tujuan pembuatannya, hingga pemanfaatannya sebagai fasilitas komunikasi.
Kedua objek tersebut berada di lingkungan hutan yang dipenuhi pepohonan dan memiliki udara yang relatif sejuk. Letaknya yang berada di kawasan perbukitan membuat keberadaan terowongan tidak terlalu terlihat dari luar. Lingkungan seperti ini memberikan keuntungan bagi sisi pertahanan karena bangunan dapat disamarkan oleh keadaan alam di sekitarnya. Saat ini, kawasan tersebut menjadi salah satu tujuan wisata sejarah di Tahura Djuanda dan dapat dikunjungi melalui jalur yang berada di tengah kawasan hutan.
Goa Belanda memiliki sejarah yang lebih tua daripada Goa Jepang karena pembangunannya dimulai pada tahun 1918, jauh sebelum pendudukan Jepang di Indonesia. Pada awalnya, terowongan tersebut tidak dibuat khusus sebagai tempat persembunyian tentara melainkan sebagai terowongan penyadap aliran air Sungai Cikapundung. Goa tersebut digunakan untuk menyokong operasional Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Bengkok yang merupakan salah satu PLTA pertama di Indonesia. Namun, seiring dengan meningkatnya ketegangan menjelang Perang Dunia II khususnya pada tahun 1918, pemerintah Hindia Belanda mulai memanfaatkan terowongan tersebut untuk kepentingan militer. Terowongan tersebut diperluas dengan membangun 15 lorong dan 3 koridor utama. Aliran air dipindahkan ke pipa bawah tanah lain sementara terowongan digunakan sebagai gudang penyimpanan amunisi dan logistik perang.
Seiring perkembangan zaman khususnya pada tahun 1941, terowongan tersebut diubah menjadi Pusat Komunikasi Militer. Pada masa Hindia Belanda, fasilitas radio memiliki peran penting untuk mengirim dan menerima informasi dalam jarak jauh. Stasiun radio yang sebelumnya berada di kawasan Gunung Malabar merupakan stasiun radio nirkabel terkuat yang menghubungkan Bandung langsung ke Belanda. Namun, dikarenakan letaknya yang terbuka di lembah pegunungan, stasiun radio tersebut sangat rentan dihancurkan melalui serangan udara oleh tentara Jepang. Maka, untuk berjaga-jaga militer Belanda membangun jaringan komunikasi cadangan yang jauh lebih aman di dalam Goa Belanda. Selain tempatnya yang tersembunyi, struktur terowongan yang dilapisi beton tebal menjadi alasan dibangunnya Pusat Komunikasi Militer karena sifatnya yang tahan terhadap ledakan bom. Dengan demikian, penggunaan radio di kawasan tersebut bukan seperti radio hiburan yang digunakan masyarakat sekarang, melainkan bagian dari sistem komunikasi strategis untuk kepentingan militer.
Dari segi fisik, terowongan ini memiliki struktur yang relatif kokoh karena dinding yang sebagian besar dilapisi oleh semen dan beton tebal yang menempel pada bukit cadas. Lorong utama terowongan ini memiliki panjang sekitar 144 meter dengan lebar sekitar 1,8 meter dan tinggi sekitar 3,2 meter sehingga para wisatawan dapat menelusuri Goa Belanda dengan leluasa. Bagian dalamnya terdiri atas beberapa ruangan khusus, 15 lorong, dan 3 koridor utama. Di sisi kanan dan kiri lorong, terdapat sekat-sekat ruangan beton yang dulunya digunakan sebagai ruang interogasi, kamar tidur tentara, gudang logistik, hingga ruang instalasi radio komunikasi. Dasar terowongan tersebut dilapisi oleh semen kasar yang cenderung rata dan memiliki rel kereta mini yang tertanam di sepanjang lantai terowongan. Karena cahaya matahari tidak dapat masuk secara langsung ke sebagian besar bagian dalam, pencahayaan di terowongan tersebut menjadi minim dan membutuhkan alat penerang seperti senter untuk melihat area di sekitar terowongan.
Untuk pengamatan lebih lanjut, kami mengunjungi Goa Belanda secara langsung. Di dalamnya terdapat banyak wisatawan lainnya yang sedang mengunjungi terowongan tersebut dan bahkan terdapat pemandu wisata yang siap membawa kalian mengelilingi goa sembari menjelaskan sejarah Goa Belanda. Kami juga melihat banyak ruangan-ruangan kecil dengan pintu masuk yang relatif sempit di sisi-sisi koridor utama. Di sepanjang tembok terowongan tersebut juga terdapat coretan-coretan yang berada di beberapa area di tembok terowongan. Kami juga dapat mendengarkan suara-suara kelelawar yang sering kali hinggap di atas terowongan. Namun, sangat disayangkan di bagian dasar terowongan masih dapat terlihat sampah-sampah plastik yang berserakan.
Uniknya, Taman Hutan Raya rutin mengadakan event yang membuat suasana di Goa Belanda terasa berbeda bernama “Gurilap Guha” yang diambil dari bahasa Sunda dan memiliki arti goa berkilau. Pada tanggal-tanggal festival tertentu (biasanya saat wisata malam akhir pekan atau festival khusus) pengelola Tahura bekerja sama dengan kreator visual untuk memasang instalasi lampu neon fleksibel, proyeksi digital, dan teknologi inframerah. Kamar-kamar beton yang aslinya lembab, gelap, dan terkesan menyeramkan disulap menjadi lorong fantasi visual. Lampu warna-warni dipasang membentuk pola-pola geometris atau membungkus lengkungan pintu terowongan untuk dijadikan spot foto estetik.
Berbeda dengan Goa Belanda, pembangunan Goa Jepang dimulai pada tahun 1942, tepat setelah Angkatan Darat Kekaisaran Jepang ke-16 merebut kekuasaan di Indonesia dari tangan Belanda. Sejak awal, kompleks terowongan ini memang dirancang khusus sebagai benteng pertahanan bawah tanah untuk menunjang pergerakan militer mereka. Jepang memanfaatkan lokasi di Dago Pakar ini karena posisinya yang sangat strategis untuk memantau pergerakan musuh dari ketinggian. Namun, seiring berjalannya waktu selama masa pendudukan yang singkat hingga tahun 1945, proses pengerjaannya menyisakan kisah kelam karena memanfaatkan sistem kerja paksa atau Romusha. Ribuan warga pribumi dipaksa memahat bukit cadas secara manual dengan alat seadanya di bawah tekanan yang berat. Aliran tenaga kerja terus dipaksakan hingga akhirnya proyek militer ini terhenti total pada Agustus 1945 akibat kekalahan Jepang di Perang Dunia II, membuat kompleks terowongan ini terbengkalai dalam kondisi belum selesai sepenuhnya.
Menjelang akhir perang, kompleks terowongan ini dipersiapkan untuk menjadi Markas Komando Wilayah Bawah Tanah yang sangat tertutup. Pada masa itu, memiliki pangkalan militer yang tersembunyi menjadi hal yang sangat krusial bagi tentara Jepang guna melindungi para perwira tinggi dan mengkoordinasikan taktik perang. Pangkalan militer terbuka yang mereka miliki sebelumnya dinilai terlalu berbahaya karena menjadi sasaran empuk serangan udara dari pasukan Sekutu. Oleh karena itu, sebagai langkah antisipasi, Jepang membangun jaringan pertahanan bawah tanah yang kokoh di dalam bukit Tahura. Selain posisinya yang tersembunyi di balik rimbunnya hutan, ketebalan bukit batuan cadas menjadi alasan utama dipilihnya lokasi ini karena mampu menahan getaran dan daya ledak bom udara. Dengan demikian, terowongan ini tidak dirancang untuk jalur transportasi atau logistik biasa, melainkan sebagai pusat pertahanan hidup dan mati bagi militer Jepang.
Selain berfungsi sebagai bagian dari pertahanan, jaringan terowongan tersebut juga berkaitan dengan kegiatan komunikasi militer. Radio pada masa itu merupakan teknologi yang sangat penting karena memungkinkan informasi dikirimkan tanpa harus bergantung pada kurir atau perjalanan fisik. Dalam konteks perang, kemampuan untuk menyampaikan informasi mengenai keadaan wilayah, pergerakan pasukan, dan kebutuhan pertahanan dapat menjadi sangat penting. Oleh karena itu, keberadaan fasilitas komunikasi di kawasan pertahanan menunjukkan bahwa fungsi terowongan tidak hanya sebagai tempat berlindung, tetapi juga sebagai bagian dari sistem koordinasi militer. Namun, informasi mengenai bentuk peralatan radio yang digunakan secara spesifik di dalam goa tidak cukup terdokumentasi untuk memastikan jenis perangkatnya.
Jika ditinjau dari segi fisik, terowongan ini memiliki struktur yang terkesan mentah dan kasar karena dindingnya sama sekali belum dilapisi semen, melainkan masih berupa kerukan tanah dan batu cadas asli. Lorong utamanya memiliki panjang total sekitar 60 meter dengan jaringan cabang lorong yang bervariasi, memungkinkan pergerakan pasukan di dalamnya cukup leluasa. Kompleks bagian dalam terowongan ini terbagi menjadi 4 pintu masuk utama, 2 lubang pengintai, serta 18 ruangan bunker. Di sisi kanan dan kiri lorong utama, terdapat ceruk-ceruk ruangan tanpa pintu yang dahulu difungsikan sebagai gudang senjata, kamar tidur komandan, dapur, hingga ruang rapat pasukan. Dasar terowongan ini berupa permukaan tanah kasar yang tidak rata dan dibiarkan alami tanpa plesteran beton. Akibat tidak adanya celah masuk bagi sinar matahari, bagian dalam terowongan menjadi sangat gelap dan setiap pengunjung wajib menggunakan senter untuk dapat melihat jalan di sekitarnya.
Meskipun suasana terowongan tersebut bagi beberapa orang terasa mistis dan mengerikan, pihak pengelola Taman Hutan Raya berhasil menghidupkan kembali kawasan bersejarah ini menjadi salah satu destinasi wisata edukasi unggulan di Bandung. Pada waktu-waktu liburan atau akhir pekan, pengelola bersama pemandu wisata lokal rutin mengadakan tur sejarah untuk memberikan wawasan mendalam mengenai arsitektur militer masa lampau kepada para pengunjung. Lorong-lorong batuan yang aslinya gelap dan menyimpan kesan misterius kini dikemas menjadi area petualangan sejarah yang ramah untuk semua usia. Mulut terowongan yang berbentuk lengkungan batu alami dan dipadukan dengan pemandangan hijau hutan di sekitarnya kini menjadi cagar budaya yang dirawat dengan baik sekaligus menjadi spot foto favorit wisatawan.
Kami sendiri juga mengunjungi Goa Jepang ini. Udaranya terasa dingin dan lembab serta memiliki aroma khas seperti tanah basah. Goa Jepang juga dipenuhi oleh wisatawan lain yang juga sedang menjelajah Goa Jepang dan di Goa Jepang juga terdapat pemandu wisata. Secara keseluruhan suasana di Goa Jepang terasa sama seperti Goa Belanda seperti banyaknya suara kelelawar, ruangan-ruangan kecil, coretan-coretan di tembok, dan sampah-sampah yang berada di dasar Goa Jepang. Hal yang membedakan adalah di mana Goa Jepang memiliki tekstur tembok yang kasar, luas daerah yang lebih sedikit, dan permukaan dasar yang cenderung lebih tidak rata.
Kalau dilihat dari latar belakangnya, kedua tempat ini sebenarnya punya titik temu yang mirip dalam hal fungsi militer dan pertahanan. Meskipun dibangun di zaman yang berbeda, baik Goa Belanda maupun Goa Jepang pada akhirnya sama-sama dipakai oleh tentara masing-masing negara sebagai bunker persembunyian bawah tanah yang sangat rahasia. Waktu perang berkecamuk, militer kedua negara sengaja memanfaatkan kedalaman terowongan ini untuk mengamankan pasokan logistik penting, menimbun stok persenjataan berat, sampai membuat ruangan khusus untuk menahan para tawanan. Alasan utama mereka memilih tempat tersembunyi di balik bukit cadas ini juga sama, yaitu demi mencari perlindungan total agar markas mereka tidak terdeteksi dan aman dari risiko hancur akibat bom yang dijatuhkan dari pesawat tempur musuh.
Sementara dari sisi bentuk bangunannya, kedua goa ini punya kemiripan struktur yang langsung kelihatan begitu kami masuk ke dalam. Keduanya sama-sama berwujud lorong panjang buatan manusia hasil memahat bukit batu cadas, bukan goa alam yang terbentuk sendiri. Kalau ditelusuri ke bagian dalam, tata ruang lorongnya punya pola yang mirip, yaitu memiliki satu koridor utama yang panjang dan di sepanjang sisi kanan-kirinya terdapat sekat-sekat kamar atau ruangan kecil tanpa pintu. Selain itu, rancangan lorongnya pun sama-sama sudah dipikirkan matang-matang soal kelangsungan hidup orang di dalamnya. Keduanya dilengkapi dengan lubang-lubang ventilasi alami yang menembus keluar bukit, sehingga aliran udara segar dari luar bisa terus masuk dan membuat bagian dalam terowongan tidak terasa pengap meskipun kondisinya gelap gulita.
Namun, kalau kami gali dari sisi sejarahnya, kedua terowongan ini punya latar belakang dan nasib pembangunan yang berbeda jauh. Goa Belanda punya usia yang jauh lebih tua karena sudah mulai dicicil pembangunannya sejak awal abad ke-20 untuk proyek sipil pengairan PLTA, sebelum akhirnya dirombak total menjadi markas militer dan pusat komunikasi rahasia pada tahun 1941. Sebaliknya, Goa Jepang murni lahir dari situasi perang yang mendesak pada tahun 1942 dan sejak awal memang dirancang langsung untuk benteng pertahanan gerilya. Tragedi di balik pembuatannya pun berbeda; jika Goa Belanda dibangun secara bertahap dengan teknologi konstruksi yang matang, Goa Jepang justru menjadi saksi bisu kekejaman Romusha, di mana ribuan warga lokal dipaksa memahat bukit cadas ini secara kilat. Tragisnya lagi, Goa Jepang ini menjadi proyek yang tidak pernah selesai sepenuhnya karena tentara Jepang telanjur menyerah kalah pada tahun 1945.
Kalau melihat kondisi fisiknya sekarang, perbedaan di antara keduanya juga langsung terasa sangat kontras begitu kami melangkah masuk. Struktur di dalam Goa Belanda terlihat jauh lebih rapi, modern pada zamannya, dan teratur dengan dinding serta langit-langit setinggi tiga meter yang semuanya sudah dilapisi cor beton semen halus. Lantainya pun sudah disemen rata dan punya keunikan berupa sisa-sisa rel kereta mini (lori) yang tertanam di sepanjang jalan. Sangat berbeda dengan Goa Jepang yang suasananya terasa jauh lebih mentah, sempit, dan berliku-liku mirip labirin jebakan. Dinding di dalam Goa Jepang sama sekali tidak disentuh semen, melainkan masih berupa guratan batuan cadas kasar bekas pahatan manual,dengan dasar terowongan yang masih berupa tanah berbatu yang tidak rata. Aroma udaranya pun berbeda; jika di Goa Belanda udaranya terasa mengalir seperti angin terowongan, di Goa Jepang hawanya jauh lebih dingin menusuk dengan bau tanah basah yang sangat pekat.
Dari semua perjalanan sejarahnya, ada banyak fakta menarik yang membuktikan kalau fungsi suatu bangunan itu bisa berubah total tergantung situasi zamannya. Contoh paling kelihatan ada pada Goa Belanda, yang awalnya cuma dibangun untuk urusan pengairan sipil biasa, tapi akhirnya disulap menjadi benteng militer dan pusat komunikasi rahasia saat perang mulai mendekat. Sementara itu, cerita di balik pembangunan jaringan Goa Jepang yang memakai tenaga Romusha menjadi pengingat yang sangat jelas tentang sisi kelam masa pendudukan mereka di Indonesia. Keberadaan lorong-lorong rahasia di dalam bukit ini juga memperlihatkan betapa cerdiknya para tentara zaman dulu dalam memanfaatkan kondisi alam dan kontur pegunungan Bandung untuk benteng pertahanan mereka.Terakhir, penggunaan jaringan radio militer di sana menjadi bukti nyata kalau teknologi komunikasi sebenarnya sudah memegang peran yang sangat penting dalam mengatur strategi perang, jauh sebelum teknologi komunikasi modern yang kita pakai sekarang ini lahir.
Di masa sekarang, kedua terowongan ini sudah tidak lagi memegang fungsi militer dan telah berubah sepenuhnya menjadi destinasi wisata sejarah sekaligus cagar budaya unggulan di Bandung. Pihak pengelola Taman Hutan Raya merawat kawasan ini dengan baik untuk dijadikan laboratorium sejarah terbuka bagi para pelajar dan masyarakat umum yang ingin belajar masa lalu secara langsung. Lorong-lorong batu yang dulunya menyeramkan dan tertutup kini dikemas secara kreatif; salah satunya lewat aktivasi wisata malam interaktif seperti instalasi seni cahaya neon warna-warni yang membuat suasana terowongan jadi lebih estetik dan populer untuk tempat berfoto. Dengan perubahan fungsi ini, Goa Jepang dan Goa Belanda tidak hanya menjadi saksi bisu masa penjajahan saja, tetapi juga menjadi ruang edukasi visual yang seru dan ramah untuk dikunjungi semua kalangan di akhir pekan.
Berdasarkan hasil pengamatan dan informasi sejarah yang diperoleh, Goa Jepang dan Goa Belanda di Tahura Djuanda merupakan dua situs bersejarah yang memiliki ikatan kuat dalam strategi militer masa lampau, meskipun keduanya menyimpan latar belakang waktu, proses pembangunan, dan kondisi fisik yang sangat berbeda. Sebagai terowongan buatan manusia yang memahat bukit cadas alami, Goa Belanda menawarkan struktur yang jauh lebih matang, kokoh, dan rapi dengan lapisan cor beton serta sisa rel lori di dalamnya, sedangkan Goa Jepang menyajikan suasana yang jauh lebih mentah, sempit, dan berliku menyerupai labirin tanah asli akibat proyeknya yang terhenti pasca-kekalahan Jepang. Perbedaan fisik ini turut memengaruhi atmosfer di dalam keduanya; Goa Belanda terasa seperti terowongan panjang yang berangin, sementara Goa Jepang mempertahankan hawa dingin yang menusuk dengan aroma tanah basah yang pekat. Meskipun sempat menjadi saksi bisu peralihan fungsi bangunan yang dinamis serta menyimpan rekam jejak kelam masa peperangan, kini kedua terowongan tersebut telah berhasil direvitalisasi sepenuhnya menjadi destinasi wisata edukasi dan cagar budaya yang hidup, bahkan sesekali disulap menjadi ruang seni cahaya modern yang memikat bagi para wisatawan.

