Konten dari Pengguna

Masyarakat Berpenghasilan Rendah, Mengapa Kebutuhan Pokok Semakin Mahal?

Jeanice Fanuel

Jeanice Fanuel

Mahasiswi Prodi Akuntansi Universitas Kristen Krida Wacana

ยทwaktu baca 5 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Jeanice Fanuel tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi pembelian kebutuhan pokok yang harganya meningkat foto : pexels
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi pembelian kebutuhan pokok yang harganya meningkat foto : pexels

Bagi masyarakat berpenghasilan rendah, kebutuhan pokok bukanlah pengeluaran yang mudah ditunda. Keluarga tetap membutuhkan makanan setiap hari, biaya transportasi untuk bekerja, serta biaya pendidikan dan kesehatan. Ketika harga pangan naik, mereka tidak selalu memiliki tabungan atau sumber pendapatan tambahan untuk menutup selisih pengeluaran. Akibatnya, kenaikan harga dapat memaksa keluarga mengurangi pembelian lauk-pauk, mengganti bahan pangan dengan pilihan yang lebih murah, menunda pemeriksaan kesehatan, atau mengurangi pengeluaran pendidikan.

Sumber: BPS, Perkembangan Indeks Harga Konsumen Desember 2024, dirilis 2 Januari 2025. Meskipun inflasi umum terlihat relatif rendah, kondisi tersebut tidak otomatis berarti seluruh masyarakat dapat memenuhi kebutuhannya dengan mudah. Inflasi menggambarkan perubahan harga secara agregat berdasarkan pola konsumsi yang diukur. Pengalaman setiap rumah tangga dapat berbeda, bergantung pada jenis barang yang dibeli, lokasi tempat tinggal, jumlah anggota keluarga, dan besarnya pendapatan.

Sebagai contoh, keluarga yang sebagian besar pengeluarannya digunakan untuk membeli beras, telur, minyak goreng, dan sayuran dapat merasakan tekanan yang lebih besar ketika harga komoditas tersebut meningkat. Sebaliknya, rumah tangga dengan pendapatan lebih tinggi umumnya memiliki ruang yang lebih luas untuk menyesuaikan pengeluaran. Dengan demikian, persoalan utama bukan hanya seberapa besar inflasi secara nasional, tetapi juga bagaimana perubahan harga memengaruhi kemampuan masyarakat memenuhi kebutuhan dasar.

Perubahan Cuaca dan Menurunnya Hasil Panen. Perubahan cuaca dan iklim merupakan salah satu faktor yang dapat memengaruhi kenaikan harga kebutuhan pokok. Curah hujan berlebihan dapat menyebabkan banjir dan gagal panen, sedangkan kemarau panjang dapat mengurangi ketersediaan air untuk irigasi. Kondisi tersebut berpotensi menurunkan produksi beras, cabai, sayuran, dan komoditas pertanian lainnya.

Ketika hasil panen menurun, pasokan pangan di pasar dapat berkurang. Jika permintaan masyarakat tetap tinggi, harga berpotensi meningkat. Misalnya, penurunan produksi cabai akibat cuaca buruk dapat mengurangi pasokan ke pasar sehingga harga jual kepada konsumen ikut naik.

Laporan Bank Dunia, Indonesia Economic Prospects: Towards a Secure and Fast Recovery (2021), membahas bahwa perubahan harga pangan di Indonesia berkaitan dengan berbagai faktor, termasuk kondisi cuaca, produksi pertanian, dan permintaan pasar. Oleh karena itu, pemerintah perlu memperkuat sistem irigasi, menyediakan informasi prakiraan cuaca bagi petani, serta meningkatkan teknologi pertanian agar gangguan produksi tidak langsung menyebabkan kelangkaan dan lonjakan harga.

Biaya Distribusi dan Transportasi yang Meningkat. Biaya distribusi juga memengaruhi harga kebutuhan pokok. Tidak semua daerah mampu memenuhi kebutuhan pangannya sendiri sehingga bahan pangan harus dikirim dari daerah produksi ke wilayah konsumen. Proses ini membutuhkan bahan bakar, kendaraan, tenaga kerja, gudang, dan fasilitas penyimpanan.

Ketika biaya transportasi meningkat atau akses jalan mengalami hambatan, biaya pengiriman dapat bertambah. Akibatnya, pedagang berpotensi menaikkan harga jual untuk menutup biaya operasional. Masalah ini semakin terasa pada komoditas yang mudah rusak, seperti sayuran, ikan, dan daging, karena keterlambatan pengiriman dapat mengurangi jumlah barang yang layak dijual.

Publikasi Badan Pusat Statistik (BPS), Harga Konsumen Beberapa Barang Kelompok Makanan, Minuman, dan Tembakau 150 Kabupaten/Kota di Indonesia 2024, menunjukkan pentingnya memperhatikan perbedaan harga konsumen antardaerah. Perbandingan tersebut perlu mempertimbangkan kualitas barang dan kondisi wilayah. Karena itu, perbaikan infrastruktur, fasilitas penyimpanan, dan sistem distribusi diperlukan untuk menjaga kelancaran pasokan serta menekan biaya yang akhirnya ditanggung masyarakat.

Harga Komoditas Dunia dan Nilai Tukar Rupiah. Harga kebutuhan pokok di Indonesia juga dapat dipengaruhi oleh perkembangan ekonomi global, terutama untuk komoditas dan bahan baku yang masih bergantung pada impor. Ketika harga barang di pasar internasional meningkat, biaya pembelian bahan baku dari luar negeri dapat bertambah. Jika rupiah melemah terhadap mata uang asing, biaya impor dalam rupiah juga berpotensi meningkat.

Kenaikan biaya tersebut dapat memengaruhi harga produksi dan harga jual di dalam negeri. Misalnya, meningkatnya biaya bahan baku atau sarana produksi pertanian dapat menambah beban produsen. Apabila kenaikan biaya tidak dapat diserap sepenuhnya, sebagian dampaknya mungkin diteruskan kepada konsumen.

Namun, pengaruh nilai tukar tidak sama pada setiap komoditas karena bergantung pada tingkat ketergantungan terhadap impor, ketersediaan bahan baku lokal, dan persediaan barang. Oleh sebab itu, pemerintah perlu memperkuat produksi pangan dalam negeri, mendukung petani, dan meningkatkan efisiensi pertanian tanpa mengabaikan kebutuhan impor untuk menjaga kestabilan pasokan.

Data statistik membantu menjelaskan bahwa kenaikan harga kebutuhan pokok bukan sekadar persoalan yang dirasakan ketika berbelanja, melainkan perubahan ekonomi yang dapat diukur. BPS mencatat inflasi tahunan Indonesia pada Desember 2024 sebesar 1,57%, sedangkan kelompok makanan, minuman, dan tembakau mengalami inflasi tahunan sebesar 1,90%. Angka ini menunjukkan bahwa perubahan harga berbeda antarkelompok konsumsi dan tidak berarti seluruh komoditas mengalami kenaikan yang sama.

Melalui publikasi harga konsumen di 150 kabupaten/kota pada 2024, BPS juga menyediakan data untuk mengamati perbedaan harga berbagai bahan pangan antardaerah. Perbedaan tersebut perlu dianalisis dengan mempertimbangkan kualitas barang, lokasi, dan kondisi pasokan.

Sementara itu, laporan Bank Dunia (2021) membahas kerentanan rumah tangga berpenghasilan rendah terhadap perubahan harga pangan. Ketika sebagian besar pendapatan digunakan untuk membeli makanan, kenaikan harga dapat mengurangi kemampuan keluarga memenuhi kebutuhan lain, seperti pendidikan dan kesehatan. Hal ini menunjukkan bahwa dampak inflasi tidak hanya ditentukan oleh besarnya kenaikan harga, tetapi juga oleh pendapatan dan pola pengeluaran rumah tangga.

Dengan demikian, data dan penelitian menegaskan pentingnya kebijakan yang tidak hanya mengendalikan inflasi, tetapi juga menjaga ketersediaan pangan, memperbaiki distribusi, dan melindungi daya beli masyarakat berpenghasilan rendah