Bayangkan Kalau Sekolah Kayak Gini, Mau Jadi Apa Anak Indonesia?

Siswa kelas 12 di PENABUR Secondary Kelapa Gading
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Jeff Lim tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Apakah kita menginginkan pendidikan yang lebih baik untuk masa depan Indonesia? Dunia pendidikan Indonesia nampaknya menghadapi berbagai tantangan yang tidak ada habisnya. Ini adalah realitas yang cukup menyakitkan. Pendidikan, yang seharusnya menjadi hak semua orang, tampaknya masih menjadi barang mewah di banyak tempat di negeri ini.
Mari kita mulai dengan membayangkan ini: seorang guru di pelosok negeri, seperti Sulawesi Tengah, harus berjalan jauh dan mengajar di ruang kelas yang kondisinya memprihatinkan. Menyedihkan, bukan? Tetapi ini bukan cerita fiksi, ini adalah kenyataan.
Berdasarkan data Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi dari studi yang dilakukan oleh Pusat Standar dan Kebijakan Pendidikan (PSKP) pada tahun 2022, sekitar 21% sekolah di Indonesia masih membutuhkan fasilitas yang lebih memadai, antara lain ruang kelas, laboratorium, dan akses materi pembelajaran yang memadai. Kurangnya pengajar yang kompeten di setiap bidang dapat memperburuk situasi. Pemandangan ruang kelas yang bocor dan fasilitas yang buruk adalah kenyataan . Bagaimana cara mereka bersaing dengan pelajar di perkotaan yang fasilitasnya jauh lebih baik?
Namun, ini bukanlah masalah yang mudah untuk diperbaiki. Kita harus mempertimbangkan kondisi geografis Indonesia yang sangat luas dan beragam. Oleh karena itu, pemerintah perlu menunjukkan komitmen nyata dalam memberikan akses pendidikan yang setara dan berkualitas, tanpa kecuali.
Namun fasilitas bukan satu-satunya masalah. Persoalan lain yang tak kalah pentingnya adalah kompetensi guru. Berdasarkan laporan terakhir, sekitar 30% guru di Indonesia belum memenuhi standar kompetensi minimum yang diharapkan. Guru yang masih kesulitan memanfaatkan teknologi dalam proses pembelajaran menjadi kendala bagi siswa untuk berkembang di era digital ini.
Penting untuk memberikan pelatihan yang intensif kepada guru-guru kita. Mereka harus fokus pada teknologi pendidikan dan metode pembelajaran yang efektif. Tanpa perbaikan yang berkelanjutan, Indonesia hanya akan tertinggal dalam menghasilkan generasi yang mampu bersaing secara global. Melalui inisiatif 'Sekolah Pintar', Tanoto Foundation bekerja sama dengan pemerintah daerah untuk mengadakan lokakarya dan pelatihan bagi para guru tentang praktik pengajaran yang efektif dan berbasis teknologi. Lebih dari 5.000 guru telah dilatih dalam dua tahun terakhir. Fokusnya adalah pada sekolah-sekolah pedesaan yang sebelumnya memiliki akses terbatas terhadap pengembangan profesional.
Di sisi lain, kita tidak bisa selalu menyalahkan pemerintah. Permasalahan pendidikan tidak dapat diselesaikan hanya dengan upaya pemerintah saja. Peran swasta, terutama melalui program Corporate Social Responsibility (CSR), sangat penting untuk mempercepat perbaikan fasilitas pendidikan. Perusahaan-perusahaan besar dapat berkolaborasi untuk menyediakan dana dan fasilitas pendidikan, terutama di daerah-daerah yang sulit dijangkau. Beberapa perusahaan seperti Telkom Indonesia dan Unilever telah melaksanakan program CSR di bidang pendidikan. Namun cakupannya masih belum merata dan perlu diperluas.
Seiring berkembangnya teknologi, pendidikan digital kini menjadi solusi potensial untuk menjangkau daerah-daerah terpencil. Pada tahun 2021, hanya sekitar 45% sekolah di Indonesia yang memiliki akses internet yang memadai untuk mendukung pendidikan berbasis digital. Angka tersebut tentunya jauh dari harapan, mengingat pendidikan digital mampu menyelesaikan permasalahan kita.
Di sekolah modern di Jakarta, seperti Penabur Secondary Kelapa Gading, siswa belajar dengan papan tulis digital. Guru dapat dengan mudah menyajikan materi pelajaran seperti presentasi dan video. Sebaliknya, sebuah sekolah di pedesaan di Sulawesi Tengah menghadapi keterbatasan listrik, apalagi sumber daya digital, sehingga kemajuan tersebut terasa di luar jangkauan. Pemerintah perlu menggalakkan program penyediaan infrastruktur internet di sekolah-sekolah yang aksesnya minim. Perusahaan seperti Telkomsel berperan dalam memperluas akses internet melalui inisiatif seperti program Telkomsel Digital Village.
Sebagai langkah awal, pemerintah perlu fokus pada tiga hal utama: peningkatan fasilitas pendidikan, peningkatan kompetensi guru, dan percepatan infrastruktur digital. Anggaran pendidikan juga perlu ditingkatkan dan dialokasikan secara efisien agar tepat sasaran. Berdasarkan laporan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2022, hanya 20% dari total anggaran yang dialokasikan untuk sektor pendidikan.
Langkah lain yang tidak kalah pentingnya adalah mendengarkan suara masyarakat, terutama dari siswa-siswa yang merasakan langsung kondisi pendidikan yang ada. Baru-baru ini, beberapa provinsi telah melaksanakan forum komunitas di mana guru, orang tua, dan siswa memberikan masukan langsung kepada pimpinan pemerintah daerah. Misalnya saja, inisiatif Pertamina Goes to Campus dan Pertamina Sustainability Academy and Sustainability Center yang diprakarsai oleh Pertamina telah memungkinkan masyarakat pedesaan untuk menyuarakan kebutuhan mereka. Hal ini mempengaruhi di mana dan bagaimana dana dialokasikan untuk sumber daya baru.
Pendidikan adalah fondasi masa depan bangsa. Misalkan kita terus membiarkan kualitas pendidikan tertinggal. Bagaimana mungkin kita bisa bersaing dengan negara lain yang terus maju? Oleh karena itu, peningkatan pendidikan harus menjadi prioritas utama. Dengan komitmen yang kuat dari pemerintah, dukungan pihak swasta, dan partisipasi aktif masyarakat, maka kualitas pendidikan Indonesia dapat ditingkatkan. Mari kita bersinergi untuk memastikan setiap anak Indonesia mendapatkan haknya atas pendidikan yang layak demi masa depan yang lebih baik.
