Konten dari Pengguna

Barongsai: Pengertian dan Asal Usul Barongsai di Semarang

J

Jejak Sejarah

Artikel yang membahas seputar ilmu sejarah dalam maupun luar negeri.

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Jejak Sejarah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi Kostum Barongsai di Semarang. Foto: Pixabay.
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Kostum Barongsai di Semarang. Foto: Pixabay.

Barongsai merupakan bagian dari tradisi budaya yang dikenal luas di Indonesia, khususnya di kalangan masyarakat Tionghoa. Seni ini identik dengan perayaan Imlek dan berbagai acara penting lainnya. Di Semarang, barongsai telah menjadi salah satu simbol kebudayaan yang memperkaya warna kehidupan sosial setempat.

Apa yang Dimaksud dengan Barongsai?

Barongsai merupakan kesenian tradisional masyarakat Tionghoa yang berasal dari Tiongkok dan ditampilkan dalam bentuk seni pertunjukan arak-arakan. Menurut artikel Fungsi dan Makna Kesenian Barongsai bagi Masyarakat Etnis Cina Semarang oleh Bintang Hanggoro Putra, barongsai bukan hanya sekadar hiburan, tetapi juga sarat makna kultural yang kuat dalam kehidupan masyarakat Tionghoa di Semarang.

Definisi dan Makna Barongsai

Nama Barongsai di Indonesia diyakini berasal dari Samsi atau Say, lambang pembaruan dan keselamatan, yang berkaitan dengan makhluk mitologis Ki Lin atau Lung Ma sejak masa Kaisar Hok Hie (±4000 SM). Kisah ini dipercaya membawa perubahan besar melalui pengenalan aksara dan peradaban. Seni Barongsai juga terinspirasi dari cerita klasik Sam Kok (Tiga Kerajaan), sehingga topengnya melambangkan tiga tokoh dengan karakter berbeda: Liu Pei (kuning, tengkuk putih), Kwan Kong (merah, tengkuk hitam), dan Zhang Fei (hitam/biru). Bentuk topeng Barongsai asli berciri telinga seperti kerang, alis seperti ikan, dan pipi seperti ular, sebagai perwujudan binatang dewa.

Sejarah Barongsai di Semarang

Kedatangan Armada Zheng He di Semarang

Asal-usul kesenian Barongsai di Semarang berkaitan erat dengan kedatangan armada Laksamana Zheng He pada pertengahan abad ke-15 atas perintah Kaisar Zhu Di dari Dinasti Ming. Armada sempat singgah di pelabuhan Simongan karena Wang Jinghong, wakil Zheng He, sakit keras. Di tempat itu ditemukan gua yang kemudian dijadikan tempat tinggal sementara dan lokasi pengobatan. Setelah pulih, Wang Jinghong memilih menetap di Semarang, membuka lahan, berdagang, serta berbaur dengan masyarakat pribumi melalui perkawinan dan kegiatan ekonomi.

Awal Tradisi Sam Po Kong dan Kesenian Barongsai

Untuk menghormati Zheng He, Wang Jinghong membuat patung Zheng He dan menempatkannya di gua Sam Po. Sejak itu masyarakat Tionghoa rutin bersembahyang setiap tanggal 1 Imlek dan Cap Go Meh, disertai arak-arakan kesenian Tionghoa seperti Liong dan Samsi (Barongsai). Tradisi ini kemudian berkembang dengan dibangunnya Kelenteng Gedong Batu di kawasan tersebut.

Arak-Arakan Imlek dan Penyebaran Barongsai di Semarang

Setelah Gedong Batu dimiliki Oei Tjie Sien, ayah saudagar Oei Tiong Ham, muncul tradisi baru: setiap Tahun Baru Imlek patung duplikat dari Tay Kak Sie diarak ke Gedong Batu untuk memohon berkah dari patung asli. Arak-arakan ini dimeriahkan oleh Liong dan Barongsai, yang kemudian memperkenalkan dan mempopulerkan kesenian Barongsai di kalangan masyarakat Semarang.

Fungsi dan Makna Barongsai bagi Masyarakat Etnis Tionghoa di Semarang

Barongsai memiliki sejumlah fungsi penting, mulai dari pelestarian budaya, simbol keberuntungan, hingga mempererat hubungan sosial. Menurut jurnal Fungsi dan Makna Kesenian Barongsai bagi Masyarakat Etnis Cina Semarang, pertunjukan barongsai turut memperkuat rasa kebersamaan dan menjadi medium untuk mengekspresikan tradisi secara terbuka di tengah masyarakat majemuk.

Kesimpulan

Barongsai di Semarang bukan hanya sekadar pertunjukan seni, tetapi juga menjadi bagian dari identitas budaya masyarakat Tionghoa setempat. Tradisi ini terus dilestarikan sebagai simbol keberuntungan dan kebersamaan. Melalui barongsai, masyarakat dapat mengenal dan menghargai kekayaan budaya yang berkembang di Semarang.

Reviewed by Melody Aria Putri, S.Hum., Gr.

Baca Juga: Mengenal Budaya Indonesia sebagai Warisan Keragaman dan Identitas Nusantara