Dentuman Lamban: Sejarah dan Aturan Permainan Tradisional Lampung
Artikel yang membahas seputar ilmu sejarah dalam maupun luar negeri.
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Jejak Sejarah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Permainan tradisional tetap menjadi bagian penting dalam kehidupan anak-anak di berbagai daerah, salah satunya adalah dentuman lamban yang berasal dari Lampung. Permainan ini dikenal luas karena mengandalkan kekompakan dan keterampilan fisik. Dentuman lamban memiliki aturan sederhana, namun sarat makna kebersamaan serta nilai-nilai budaya lokal.
Apa Itu Permainan Dentuman Lamban?
Menurut buku Permainan Anak-Anak Daerah Lampung yang diterbitkan oleh Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Dentuman lamban merupakan permainan tradisional yang dimainkan secara berpasangan, biasanya oleh anak-anak di lingkungan perkampungan Lampung. Nama “dentuman lamban” sendiri merujuk pada istilah dentuman yaitu mulut anak-anak menirukan suara dentuman ombak, dan lamban maksudnya adalah rumah-rumahan tempat memainkannya. Dilihat dari cara mainnya, permainan ini memiliki ciri khas berupa interaksi dan strategi sederhana antar pemain.
Sejarah Dentuman Lamban di Lampung
Permainan dentuman lamban sudah dikenal sejak lama dan diwariskan dari generasi ke generasi di Lampung. Keberadaannya tidak lepas dari kehidupan sosial masyarakat yang mengutamakan kebersamaan. Permainan ini sering dijadikan ajang berkumpul bagi anak-anak, sekaligus mempererat ikatan sosial di lingkungan setempat. Selain itu, dentuman lamban menjadi salah satu sarana hiburan yang mengisi waktu luang di tengah aktivitas harian masyarakat Lampung.
Aturan Permainan Dentuman Lamban
Permainan dentuman lamban memiliki tata cara yang mudah dipahami dan dapat dimainkan di berbagai tempat terbuka, biasanya di bawah pohon yang rindang. Mereka menggaris tanah dengan pola seperti permainan congklak. Untuk isian garis-garis yang telah dibuat menggunakan batu kerikil atau buah kemiri dengan jumlah yang sama antar pemain.
Cara Bermain Dentuman Lamban
Dentuman lamban dimainkan secara berpasangan. Pemain mengundi giliran dengan suit, kemudian yang pertama bermain mengisi rumah-rumahan yang kosong itu dengan kerikil yang dibawanya. Jika ia mengisi pada bagian yang masih kosong (belum ada kerikil lain) maka ia dan lawannya akan sama-sama menyuarakan “tum” seperti dentuman. Itu menandakan giliran berpindah kepada lawannya.
Peralatan yang Dibutuhkan
Peralatan utama dalam dentuman lamban biasanya berupa benda sederhana yang mudah dijumpai di lingkungan sekitar, yaitu batu kerikil atau buah kemiri. Pola di tanah cukup digaris menggunakan ranting.
Peran dan Jumlah Pemain
Jumlah pemain biasanya terdiri dari dua orang, jika lebih maka harus dipastikan ada pasangannya. Setiap pemain memiliki peran untuk mengatur strategi untuk mengisi bagian lamban (atau rumah-rumahan) yang telah mereka buat di tanah.
Nilai Budaya dan Manfaat Permainan Dentuman Lamban
Dentuman lamban tidak hanya melatih kecermatan, tetapi juga menanamkan nilai kesabaran saling menghargai. Menurut buku Permainan Anak-Anak Daerah Lampung, permainan ini mendorong interaksi sosial yang positif serta membantu anak-anak belajar mengelola emosi dan strategi sederhana. Selain itu, nilai kebersamaan dan gotong royong menjadi bagian penting yang diwariskan melalui permainan ini.
Kesimpulan
Dentuman lamban merupakan salah satu permainan tradisional Lampung yang kaya akan nilai budaya dan edukasi. Aturan permainan dentuman lamban yang sederhana membuatnya mudah dimainkan oleh berbagai kalangan anak-anak. Melalui permainan ini, generasi muda Lampung belajar pentingnya kebersamaan serta mampu menjaga warisan budaya daerah.
Ditinjau oleh Fakhri Nurzaman