Konten dari Pengguna

Dinasti Qing: Sejarah Kekaisaran Terakhir Tiongkok

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Jejak Sejarah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi Dinasti Qing. Foto: Unsplash.
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Dinasti Qing. Foto: Unsplash.

Dinasti Qing menjadi penanda akhir era kekaisaran di Tiongkok yang berlangsung selama ribuan tahun. Periode pemerintahannya dimulai tahun 1616 hingga 1912, menjadikannya dinasti terakhir sebelum Tiongkok bertransformasi menjadi republik.

Yang menarik, Dinasti Qing didirikan oleh suku Manchu, bukan etnis Han yang mayoritas di Tiongkok. Meski demikian, mereka berhasil memperluas wilayah kekuasaan hingga menjadi yang terluas dalam sejarah Tiongkok, mencakup Mongolia, Tibet, dan Xinjiang.

Awal Mula dan Masa Kejayaan Dinasti Qing

Berdasarkan buku Dinasti Qing: Sejarah Para Kaisar Berkuncir (1616–1850) oleh Michael Wicaksono, Pendirian Dinasti Qing berawal dari Nurhaci, pemimpin suku Manchu yang mendirikan negara Later Jin pada tahun 1616 sebagai cikal bakal Dinasti Qing. Setelah Nurhaci wafat, Huang Taiji melanjutkan perjuangan ayahnya dan pada tahun 1636 mengganti nama kerajaannya menjadi Qing. Beberapa tahun kemudian, pasukan Manchu berhasil memasuki Beijing pada tahun 1644 sehingga Dinasti Qing mulai memerintah seluruh Tiongkok.

Pada awal pemerintahannya, Dinasti Qing menerapkan berbagai kebijakan untuk memperkuat kekuasaan, termasuk mewajibkan rakyat Han mengenakan gaya rambut berkuncir (queue) sebagai lambang kesetiaan kepada pemerintahan Manchu.

Masa kejayaan Dinasti Qing berlangsung pada pemerintahan tiga kaisar besar, yaitu Kangxi (1661–1722), Yongzheng (1722–1735), dan Qianlong (1735–1795). Periode ini dikenal sebagai Masa Kemakmuran Kangxi–Qianlong, ditandai dengan stabilitas politik, pertumbuhan ekonomi, pemerintahan yang efektif, perkembangan kebudayaan, serta keberhasilan memperluas dan mempertahankan wilayah kekaisaran.

Kaisar Yongzheng melakukan berbagai reformasi administrasi dan keuangan, memperketat pengawasan terhadap pejabat, memberantas korupsi, serta memperkuat kontrol pemerintah pusat atas daerah. Reformasi tersebut menjadi landasan penting bagi kemakmuran yang berlanjut pada masa Qianlong.

Kemunduran Dinasti Qing

Menjelang akhir pemerintahan Qianlong, Dinasti Qing mulai mengalami berbagai persoalan. Korupsi semakin meluas di kalangan pejabat sehingga pengawasan pemerintah pusat melemah. Praktik jual beli jabatan dan penyalahgunaan kekuasaan membebani rakyat serta mengurangi efektivitas pemerintahan. Kondisi tersebut kemudian menjadi salah satu faktor yang memicu berbagai gejolak pada masa-masa berikutnya.

Pada masa Kaisar Daoguang, Dinasti Qing menghadapi persoalan perdagangan candu dengan Inggris yang akhirnya memicu Perang Candu Pertama (1839–1842). Kekalahan dalam perang tersebut menjadi awal melemahnya posisi Dinasti Qing dalam menghadapi kekuatan Barat dan menandai dimulainya periode kemunduran yang semakin nyata.

Reviewed by Melody Aria Putri, M.Hum., Gr.

Baca Juga: Sejarah Kota dan Jejak Peradabannya di Indonesia