Diruwat: Pengertian, Tujuan, dan Prosesi Tradisi Ruwatan Jawa
Artikel yang membahas seputar ilmu sejarah dalam maupun luar negeri.
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Jejak Sejarah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Diruwat adalah istilah yang merujuk pada ritual pembersihan spiritual dalam tradisi Jawa. Orang yang menjalani ritual ini disebut sebagai sukerta, yaitu orang yang dianggap bernasib sial atau membawa ancaman bencana. Ritual ruwatan bertujuan untuk menghindari malapetaka yang mungkin menimpa seseorang karena kondisi kelahiran tertentu. Menariknya, tradisi ini masih dijalankan hingga kini oleh masyarakat Jawa yang memegang teguh kearifan lokal.
Pengertian dan Tujuan Diruwat dalam Tradisi Jawa
Diruwat atau ruwatan merupakan upacara tradisional masyarakat Jawa yang bertujuan menyucikan dan membebaskan seseorang dari pengaruh buruk, terutama bagi mereka yang termasuk golongan sukerta yang dalam mitologi Jawa diyakini menjadi sasaran Batara Kala. Secara filosofis, ruwatan melambangkan proses penyucian diri dan harapan memperoleh keselamatan dalam hidup.
Pengertian Sukerta
Menurut artikel Tradisi Ruwatan: Sejarah, Prosesi, dan Makna Filosofis (Sebuah Kajian Foklor) oleh Suprapto dkk., dalam tradisi Jawa, sukerta adalah sebutan bagi orang yang dianggap memiliki kondisi kelahiran tertentu atau mengalami gangguan hidup sehingga perlu menjalani ritual ruwatan sebagai bentuk penyucian dan permohonan keselamatan.
Kategori Orang yang Diruwat
Beberapa golongan sukerta yang dikenal dalam tradisi Jawa antara lain ontang-anting (anak tunggal), uger-uger lawang, sendhang kapit pancuran, pancuran kapit sendhang, anak bungkus, anak kembar, pandhawa, pandhawi, hingga anak yang lahir pada waktu tertentu menurut kepercayaan masyarakat Jawa.
Tujuan Ruwatan
Tujuan utama ruwatan adalah menyucikan diri serta memohon perlindungan agar terhindar dari pengaruh buruk dan berbagai kesialan yang dipercaya mengancam golongan sukerta. Secara filosofis, ruwatan menjadi simbol pembebasan menuju kehidupan yang lebih baik.
Relevansi Tradisi Ruwatan Saat Ini
Hingga kini, tradisi ruwatan masih dipertahankan oleh sebagian masyarakat Jawa sebagai bentuk pelestarian budaya sekaligus sarana memperoleh ketenangan batin dan menjaga nilai-nilai kearifan lokal.
Prosesi dan Pelaksanaan Ritual Ruwatan
Penentuan Hari Baik
Pelaksanaan ruwatan disesuaikan dengan kesepakatan keluarga dan dalang. Di Desa Kambeng, upacara umumnya dilaksanakan pada malam hari, meskipun dapat pula dilakukan pada pagi atau siang hari sesuai permintaan pemangku hajat.
Peran Dalang
Dalang memegang peranan sentral dalam ruwatan sebagai pemimpin ritual sekaligus mediator. Dalam prosesi tersebut dipentaskan wayang kulit dengan lakon Murwakala yang mengisahkan asal-usul Batara Kala serta penyelamatan golongan sukerta melalui Dalang Kandhabawana.
Sesaji dan Perlengkapan
Dalam pelaksanaan ruwatan disiapkan berbagai perlengkapan dan sesaji yang sarat makna simbolis, seperti mori putih, janur kembar, gagar mayang, tumpeng, jenang, bunga setaman, ketupat, serta berbagai uba rampe lainnya sebagai bagian dari prosesi penyucian dan permohonan keselamatan.
Tahapan Prosesi
Prosesi ruwatan diawali dengan tirakatan dan mandi wajib sebagai simbol penyucian diri, dilanjutkan slametan, penggunaan pakaian putih, pemotongan rambut dan kuku oleh dalang, jamasan menggunakan gagar mayang, penyendalan ketupat, kemudian ditutup dengan pertunjukan wayang kulit lakon Murwakala.
Penutupan Ritual
Setelah pertunjukan Murwakala selesai, dalang memberikan isyarat berakhirnya prosesi sehingga sesaji dan perlengkapan upacara dapat diambil oleh warga sebagai penanda bahwa ruwatan telah selesai dilaksanakan.
Variasi Pelaksanaan dan Nilai Filosofis
Tradisi ruwatan tidak hanya dipahami sebagai ritual spiritual, tetapi juga sebagai warisan budaya yang mengandung nilai filosofis, memperkuat hubungan sosial, serta menjadi sarana pelestarian kearifan lokal masyarakat Jawa.
Reviewed by Melody Aria Putri, M.Hum., Gr.
Baca Juga: Sejarah Kota dan Jejak Peradabannya di Indonesia