Geografi dan Sejarah Kota Semarang: Kondisi Terkini dan Perkembangannya
Artikel yang membahas seputar ilmu sejarah dalam maupun luar negeri.
·waktu baca 5 menit
Tulisan dari Jejak Sejarah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Semarang dikenal sebagai kota pelabuhan penting di pesisir utara Jawa, memiliki sejarah panjang serta perkembangan urban yang dinamis. Kota ini juga menampilkan karakter geografis dan demografis yang unik, menjadikannya pusat aktivitas ekonomi, pendidikan, dan budaya di Jawa Tengah. Artikel ini membahas geografi Semarang, sejarah pertumbuhannya, serta tantangan transformasi kota di era modern.
Geografis dan Administratif Kota Semarang
Menurut dokumen Kota Semarang Dalam Angka 2025 dari Badan Pusat Statistik Kota Semarang, Kota Semarang secara astronomis berada pada koordinat 6°50’–7°10’ Lintang Selatan dan 109°35’–110°50’ Bujur Timur. Wilayahnya berbatasan dengan Kabupaten Kendal di sebelah barat, Kabupaten Demak di sebelah timur, Kabupaten Semarang di sebelah selatan, serta Laut Jawa di sebelah utara dengan garis pantai sepanjang sekitar 13,6 km. Ketinggian wilayah Kota Semarang bervariasi antara 0,75 hingga 348 meter di atas permukaan laut.
Secara administratif, Kota Semarang terdiri atas 16 kecamatan dan 177 kelurahan dengan luas wilayah mencapai 373,78 km². Kecamatan Gunungpati merupakan wilayah terluas, disusul Kecamatan Mijen, sementara Kecamatan Semarang Tengah memiliki luas wilayah paling kecil.
Sejarah Perkembangan Kota Semarang
Dilansir dari laman resmi Pemerintah Kota Semarang, sejarah Semarang menunjukkan perjalanan panjang dari kota pelabuhan kuno hingga pusat metropolitan saat ini. Banyak perubahan terjadi seiring pergantian era pemerintahan.
Asal Usul Kota Semarang
Sejarah Kota Semarang berawal sekitar abad ke-8 Masehi di kawasan pesisir bernama Pragota (Bergota), yang merupakan bagian dari kekuasaan Mataram Kuno dan berfungsi sebagai pelabuhan. Seiring proses sedimentasi, wilayah pesisir tersebut berkembang menjadi daratan yang kini dikenal sebagai Kota Semarang, sementara kawasan Semarang Bawah pada masa lalu merupakan wilayah laut.
Perkembangan Semarang semakin nyata pada abad ke-15 ketika Maulana Ibnu Abdul Salam, yang dikenal sebagai Ki Ageng Pandan Arang, menyebarkan Islam dan mendirikan pusat kegiatan keagamaan yang menjadi cikal bakal Masjid Agung Semarang. Atas pertumbuhan wilayah dan perannya yang strategis, Semarang kemudian ditetapkan sebagai kabupaten pada tahun 1547, dengan Ki Ageng Pandan Arang sebagai bupati pertama.
Pada periode yang hampir bersamaan, Laksamana Cheng Ho (Sam Poo Kong) juga singgah di kawasan Semarang dan meninggalkan jejak penting berupa kompleks Gedung Batu Sam Poo Kong, yang hingga kini menjadi simbol interaksi budaya Tionghoa dan Islam sekaligus destinasi religi dan sejarah. Keseluruhan proses ini membentuk Semarang sebagai kota pelabuhan, pusat penyebaran agama, dan ruang pertemuan berbagai budaya sejak masa awal perkembangannya.
Perkembangan Kota di Masa Kolonial Belanda
Sejarah Semarang mencerminkan perjalanan panjang sebagai kota pelabuhan, pusat penyebaran Islam, dan pusat pemerintahan kolonial. Kawasan pesisir Semarang berkembang sejak masa Mataram Kuno dan semakin penting pada abad ke-15 melalui peran Ki Ageng Pandan Arang sebagai pendiri wilayah dan bupati pertama. Jejak multikultural juga tampak dari kedatangan Laksamana Cheng Ho yang meninggalkan warisan Sam Poo Kong sebagai simbol interaksi budaya Tionghoa–Islam.
Pada abad ke-18 hingga awal abad ke-20, Semarang menjadi pusat kekuasaan VOC dan Hindia Belanda, ditandai dengan berkembangnya Kota Lama sebagai pusat pemerintahan, perdagangan, dan industri. Sejumlah tokoh agama, ulama, dan bangsawan berperan penting dalam dinamika sosial-keagamaan, termasuk dalam penyebaran Islam, pendirian pesantren, serta perlawanan terhadap kolonialisme. Sistem pemerintahan kolonial gemeente berakhir pada 1942, menandai berakhirnya dominasi Belanda dan membuka jalan menuju masa kemerdekaan.
Kota Semarang Masa Penjajahan Jepang
Pada masa pendudukan Jepang (1942–1945), pemerintahan Semarang berada di bawah kendali militer Jepang. Setelah Jepang menyerah kepada Sekutu pada Agustus 1945, situasi keamanan di Semarang menjadi tidak stabil dan memicu konflik bersenjata antara pemuda Indonesia dan tentara Jepang yang masih bersenjata. Ketegangan memuncak dengan tewasnya dr. Kariadi dan pecahnya Pertempuran Lima Hari Semarang pada 15–19 Oktober 1945, yang melibatkan pemuda, TKR, dan tentara Jepang. Peristiwa ini berakhir setelah perundingan dan pelucutan senjata Jepang oleh Sekutu, serta dikenang melalui pembangunan Tugu Muda sebagai simbol perjuangan rakyat Semarang.
Kota Semarang Masa Kemerdekaan
Pada masa awal kemerdekaan Indonesia, pemerintahan Semarang mengalami transisi yang kompleks akibat pendudukan kembali Belanda dan situasi keamanan yang belum stabil. Meski Belanda sempat menguasai Kota Semarang pada 1946, pemerintahan Republik Indonesia tetap berjalan dari daerah pengungsian hingga pengakuan kedaulatan pada 1949. Setelah itu, pemerintahan daerah kembali diserahkan kepada pejabat RI dan mulai ditata ulang. Seiring berkembangnya Semarang sebagai kota praja, fungsi bupati difokuskan pada wilayah luar kota, sementara pemerintahan kota dipimpin oleh wali kota. Sejak 1945 hingga kini, Kota Semarang telah dipimpin oleh sejumlah wali kota dan wakil wali kota yang mencerminkan kesinambungan pemerintahan dari masa awal kemerdekaan hingga era modern.
Tantangan Kota Semarang Saat Ini
Sebagai kota pesisir yang terus mengalami pertumbuhan wilayah dan aktivitas perkotaan, berdasarkan laman resmi Pemerintah Kota Semarang, Kota Semarang dihadapkan pada persoalan lingkungan yang semakin kompleks, khususnya banjir, genangan air, dan rob. Kerentanan ini dipengaruhi oleh karakter topografi Semarang yang bervariasi, mulai dari kawasan perbukitan di bagian selatan hingga dataran rendah pesisir di utara. Perkembangan kawasan terbangun serta alih fungsi lahan yang intensif turut menurunkan kemampuan tanah dalam menyerap air, sehingga meningkatkan limpasan permukaan dan memberikan tekanan tambahan terhadap sistem drainase kota.
Kesimpulan
Semarang berkembang sebagai kota metropolitan dengan keunikan geografis dan sejarah yang kaya. Perubahan tata kota dan tantangan lingkungan menjadi fokus utama dalam menjaga kualitas hidup warganya. Dengan penataan yang tepat, Semarang berpotensi semakin maju dan berkelanjutan di masa depan.
Reviewed by Melody Aria Putri, S.Hum., Gr.