Konten dari Pengguna

Kesultanan Tidore: Sejarah Kerajaan Islam di Maluku Utara

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Jejak Sejarah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi Tidore. Foto: Pixabay.
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Tidore. Foto: Pixabay.

Kesultanan Tidore merupakan salah satu kerajaan Islam terbesar di Kepulauan Maluku yang pernah berjaya dalam perdagangan rempah-rempah. Keberadaannya tidak bisa dipisahkan dari dinamika sejarah kawasan Indonesia Timur, terutama dalam konteks penyebaran Islam dan persaingan dagang dengan bangsa Eropa.

Wilayah kekuasaan Kesultanan Tidore sangat luas, meliputi pulau-pulau di sekitar Maluku hingga mencapai wilayah Papua. Kejayaan kesultanan ini dibangun melalui monopoli perdagangan cengkeh dan pala yang menjadi komoditas bernilai tinggi di pasaran dunia.

Sejarah Berdirinya Kesultanan Tidore dan Perkembangannya

Kesultanan Tidore merupakan salah satu kesultanan besar Islam di Maluku yang berkembang bersama Kesultanan Ternate. Menurut artikel Kesultanan Ternate dan Tidore oleh Rusdiyanto, Tidore berasal dari salah satu kerajaan dalam Moloku Kie Raha, yaitu persatuan empat kerajaan di Maluku yang terdiri atas Ternate, Tidore, Bacan, dan Jailolo. Letaknya yang berada di jalur pelayaran internasional menjadikan Tidore sebagai salah satu pusat perdagangan rempah-rempah yang banyak didatangi pedagang Arab, Persia, Melayu, hingga bangsa Eropa.

Dalam tradisi sejarah Tidore, raja pertama adalah Sahajati, namun raja pertama yang disebut memeluk Islam ialah Raja Ciriliyati yang kemudian bergelar Sultan Jamaluddin. Setelah memeluk Islam, proses islamisasi di Tidore berkembang semakin pesat melalui pembangunan masjid dan madrasah. Pada masa Sultan Mansyur, Tidore menjalin hubungan yang erat dengan Spanyol, sementara persaingan dengan Portugis semakin meningkat akibat perebutan pengaruh di Maluku. Dalam perkembangan berikutnya, campur tangan bangsa Eropa, terutama Portugis dan Belanda, semakin memengaruhi dinamika politik Kesultanan Tidore.

Peran Kesultanan Tidore dalam Islamisasi Maluku

Kesultanan Tidore memiliki peran penting dalam perkembangan Islam di Maluku. Proses islamisasi berlangsung melalui pendekatan budaya yang diawali oleh kalangan elite kerajaan, kemudian diikuti oleh masyarakat. Setelah Sultan Jamaluddin memeluk Islam, kerajaan mendorong pembangunan masjid dan madrasah sebagai pusat pendidikan dan penyebaran ajaran Islam. Pada masa Sultan Nuku, wilayah pengaruh Tidore bahkan meluas hingga Papua Barat, Kepulauan Kei, Kepulauan Aru, dan sebagian wilayah Pasifik. Meskipun menghadapi intervensi bangsa Eropa dan berbagai konflik politik, Kesultanan Tidore tetap menjadi salah satu pusat penting perkembangan Islam di kawasan timur Nusantara.

Reviewed by Melody Aria Putri, M.Hum., Gr.

Baca Juga: Sejarah Kota dan Jejak Peradabannya di Indonesia