Keunikan dan Sejarah Desa Wae Rebo: Permata Tersembunyi di Nusa Tenggara Timur
Artikel yang membahas seputar ilmu sejarah dalam maupun luar negeri.
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Jejak Sejarah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Desa Wae Rebo di Nusa Tenggara Timur dikenal sebagai destinasi budaya yang memikat. Keaslian tradisi dan keunikan arsitektur rumah adatnya menjadikan desa ini sering disebut sebagai salah satu desa terindah di dunia. Pengunjung yang datang ke Wae Rebo dapat merasakan atmosfer kehidupan masyarakat adat yang masih sangat terjaga.
Lokasi Desa Wae Rebo
Menurut laman resmi Pariwisata Kabupaten Manggarai, Desa Wae Rebo merupakan sebuah kampung adat yang berada di Desa Satar Lenda, Kecamatan Satar Mese di Kabupaten Manggarai, dikenal sebagai sebuah desa yang autentik dan istimewa.
Sejarah Desa Wae Rebo
Menurut skripsi Strategi Komunikasi Pemasaran Pariwisata Kampung Waerebo oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Manggarai NTT oleh Wardiman Rahman, sejarah Kampung Waerebo bermula dari leluhur mereka, Empo Maro, yang berasal dari Minangkabau, Sumatra. Ia bersama keluarganya berlayar hingga Labuan Bajo, lalu berpindah-pindah melalui beberapa wilayah seperti Waraloka, Mangapa’ang, Todo, Liho, Mofo, hingga akhirnya menetap secara permanen di Waerebo. Keturunannya terus melestarikan kampung adat dan budaya hingga sekarang. Meskipun sebagian memilih tinggal di dataran rendah dengan akses lebih mudah, masyarakat Waerebo tetap bertahan di pedalaman hutan demi menjaga tradisi dan warisan budaya agar tetap hidup seiring perkembangan zaman.
Rumah Adat Mbaru Niang
Keunikan Kampung Waerebo terletak pada rumah adatnya yang disebut Mbaru Niang, yang berarti rumah tinggi dan bulat. Bangunannya berbentuk kerucut meruncing ke atas sebagai simbol perlindungan dan persatuan, sementara denah melingkar melambangkan keharmonisan serta keadilan dalam keluarga. Rumah adat ini diwariskan sejak sekitar tahun 1920 dan tetap dilestarikan hingga kini.
Revitalisasi dan Jumlah Rumah
Awalnya terdapat tujuh Mbaru Niang warisan leluhur, namun tiga di antaranya sempat rusak. Pada tahun 2008 dilakukan rekonstruksi dan renovasi melalui program revitalisasi yang didukung Yayasan Tri Utomo dan Yayasan Rumah Asuh, dengan pengerjaan oleh warga setempat agar keaslian tetap terjaga. Tujuh rumah tersebut melambangkan tujuh arah mata angin dari puncak gunung yang mengelilingi kampung sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur.
Compang sebagai Pusat Sakral
Ketujuh rumah dibangun mengelilingi Compang, altar batu yang menjadi pusat kampung dan tempat pelaksanaan ritual adat untuk memuja Tuhan serta roh leluhur.
Nama-Nama Mbaru Niang
Tujuh rumah adat tersebut memiliki nama berbeda, yaitu: Niang Gendang (rumah utama), Niang Gena Mandok, Niang Gena Jekong, Niang Gena Ndorom, Niang Gena Keto, Niang Geno Jintam, dan Niang Geno Maro.
Struktur dan Fungsi Lima Tingkatan
Mbaru Niang terdiri dari lima tingkat dengan fungsi berbeda:
Tenda (lantai 1): ruang aktivitas sehari-hari, memasak, berkumpul, dan tempat tidur beberapa keluarga.
Lobo (lantai 2): penyimpanan bahan makanan dan barang.
Lentar (lantai 3): tempat menyimpan benih dan biji-bijian.
Lempa Rae (lantai 4): cadangan stok makanan.
Hekang Code (lantai 5): ruang khusus untuk sesajian bagi leluhur.
Secara keseluruhan, Mbaru Niang bukan hanya tempat tinggal, tetapi juga simbol kehidupan sosial, spiritual, dan budaya masyarakat Waerebo yang terus dijaga hingga sekarang.
Penghargaan UNESCO atas Pelestarian Mbaru Niang
Komitmen masyarakat Kampung Waerebo dalam menjaga keaslian dan keotentikan rumah adat Mbaru Niang memperoleh pengakuan internasional melalui penghargaan UNESCO Asia-Pacific Awards for Cultural Heritage Conservation pada tahun 2012.
Tradisi Masyarakat
Upacara Penti merupakan ritual adat masyarakat Manggarai di Kampung Waerebo yang dilaksanakan sebagai ungkapan syukur kepada Tuhan atas hasil panen sekaligus penanda pergantian tahun menurut tradisi setempat. Prosesi dimulai dengan Barong Wae dan Barong Oka, dilanjutkan arak-arakan menuju rumah utama sambil membawa persembahan untuk mengundang roh leluhur. Perayaan dimeriahkan Tarian Caci yang menonjolkan nilai persahabatan dan seni, serta nyanyian tradisional Sanda yang dilantunkan semalam suntuk sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur.
Kondisi Penduduk, Mata Pencaharian, dan Akses Menuju Wae Rebo
Menurut laman resmi Pariwisata Kabupaten Manggarai, Kampung Adat Wae Rebo dihuni sekitar 142 kepala keluarga dengan jumlah penduduk lebih dari 600 jiwa. Mayoritas masyarakat bekerja sebagai petani dengan kopi sebagai komoditas utama, selain cengkeh dan umbi-umbian. Akses menuju Wae Rebo dari Kota Ruteng memerlukan perjalanan sekitar 2,5 jam sejauh 75 km hingga Desa Denge melalui jalur Pela atau Hutan Golo Lusang, kemudian dilanjutkan berjalan kaki sekitar 2 jam dengan jarak kurang lebih 8,1 km menuju kampung adat.
Kesimpulan
Desa Wae Rebo menawarkan keunikan budaya, sejarah, dan arsitektur yang memikat. Keaslian tradisi serta keramahan masyarakat membuat desa ini menjadi destinasi unggulan bagi pencinta wisata budaya. Menjelajahi Wae Rebo berarti merasakan atmosfer kehidupan adat yang jarang ditemukan di tempat lain.
Reviewed by Melody Aria Putri, S.Hum., Gr.