Konferensi Inter-Indonesia 1949: Langkah Nyata Satukan Republik dan Federal
Artikel yang membahas seputar ilmu sejarah dalam maupun luar negeri.
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Jejak Sejarah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Setelah Proklamasi 17 Agustus 1945, Indonesia menghadapi tantangan berat dalam mewujudkan kedaulatan penuh. Belanda berupaya memecah belah wilayah dengan membentuk negara-negara bagian menggunakan sistem federal, yang kemudian tergabung dalam Bijeenkomst voor Federaal Overleg atau BFO.
Di tengah kondisi itu, muncul kebutuhan mendesak untuk menyatukan visi antara Republik Indonesia dengan wilayah-wilayah federal. Konferensi Inter-Indonesia menjadi jembatan penting untuk mencapai konsensus nasional, meski kedua pihak memiliki pandangan berbeda tentang masa depan Indonesia.
Latar Belakang Konferensi Inter-Indonesia 1949
Situasi Politik Indonesia Pasca Proklamasi
Setelah Proklamasi Kemerdekaan pada 17 Agustus 1945, Indonesia menghadapi upaya Belanda untuk kembali menguasai wilayah Indonesia melalui jalur militer dan politik. Selain melancarkan agresi militer, Belanda menerapkan politik federal dengan membentuk berbagai negara bagian, seperti Negara Indonesia Timur, Negara Pasundan, Negara Sumatra Timur, dan beberapa negara bagian lainnya. Negara-negara tersebut kemudian berhimpun dalam Bijeenkomst voor Federaal Overleg (BFO). Meskipun awalnya pembentukan BFO merupakan bagian dari strategi politik Belanda, dalam perkembangannya tidak semua tokoh federal dapat dipengaruhi oleh Belanda.
Republik Indonesia tetap mempertahankan cita-cita negara yang merdeka dan berdaulat, sedangkan perbedaan pandangan mengenai bentuk negara sempat memunculkan pertentangan antara kelompok republikan dan federalis. Namun, hubungan kedua pihak mulai membaik melalui berbagai upaya dialog, seperti Goodwill Mission dan pembentukan Komisi Penghubung BFO, yang membuka jalan menuju tercapainya konsensus nasional.
Urgensi Dialog antara RI dan BFO
Sebagai tindak lanjut dari upaya membangun kesepahaman, diselenggarakan Konferensi Inter-Indonesia di Yogyakarta pada 20–22 Juli 1949 dan dilanjutkan di Jakarta pada 31 Juli–2 Agustus 1949. Konferensi ini bertujuan menyamakan pandangan antara Republik Indonesia dan BFO sebelum menghadapi Belanda dalam Konferensi Meja Bundar (KMB). Menurut artikel Konferensi Inter-Indonesia Tahun 1949: Wujud Konsensus Nasional antara Republik Indonesia dengan Bijeenkomst voor Federaal Overleg oleh Widhi Setyo Putro, konferensi tersebut menjadi wujud konsensus nasional yang mempertemukan dua kelompok yang sebelumnya berbeda pandangan mengenai bentuk negara.
Hasil Konferensi dan Maknanya bagi Kemerdekaan
Kesepakatan Penting yang Dicapai
Konferensi Inter-Indonesia menghasilkan berbagai kesepakatan mendasar mengenai pembentukan Republik Indonesia Serikat (RIS) sebagai negara yang akan menerima penyerahan kedaulatan dari Belanda. Selain itu, RI dan BFO sepakat menetapkan Merah Putih sebagai bendera resmi, Bahasa Indonesia sebagai bahasa resmi, serta Indonesia Raya sebagai lagu kebangsaan. Dalam bidang keamanan disepakati pembentukan APRIS dengan TNI sebagai inti kekuatan pertahanan, sementara negara-negara bagian tidak memiliki angkatan perang sendiri. Di bidang ekonomi juga disepakati penggunaan satu alat pembayaran yang sah serta pengaturan impor dan ekspor secara terpusat.
Kontribusi terhadap Kedaulatan Indonesia
Konferensi Inter-Indonesia memperkuat posisi Indonesia menjelang Konferensi Meja Bundar karena RI dan BFO telah mencapai berbagai kesepakatan sebelum menghadapi Belanda. Konsensus tersebut menjadi modal politik yang besar sehingga delegasi Indonesia tampil dengan sikap yang lebih bersatu dalam proses perundingan. Semangat persatuan yang lahir melalui konferensi ini juga menjadi dasar dalam pembentukan pemerintahan RIS setelah pengakuan kedaulatan pada akhir tahun 1949. Oleh karena itu, Konferensi Inter-Indonesia dipandang sebagai salah satu tonggak penting dalam perjuangan diplomasi Indonesia menuju pengakuan kedaulatan.
Reviewed by Melody Aria Putri, M.Hum., Gr.
Baca Juga: Sejarah Kota dan Jejak Peradabannya di Indonesia