Konten dari Pengguna

Masa Kejayaan Kerajaan Sriwijaya: Pusat Maritim Nusantara

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Jejak Sejarah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi Kerajaan Sriwijaya. Foto: Pixabay.
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Kerajaan Sriwijaya. Foto: Pixabay.

Kerajaan Sriwijaya dikenal sebagai kerajaan maritim terbesar di Asia Tenggara yang pernah menguasai jalur perdagangan internasional. Kejayaannya dimulai sejak abad ke-7 hingga abad ke-11 Masehi dengan pusat kekuasaan di Palembang, Sumatera Selatan. Dominasi Sriwijaya tidak hanya terbatas pada wilayah Nusantara, tetapi juga meluas hingga Semenanjung Malaya dan sebagian Jawa. Kerajaan ini menjadi saksi bagaimana kekuatan maritim dapat membangun peradaban besar melalui perdagangan dan diplomasi.

Masa Kejayaan Kerajaan Sriwijaya sebagai Imperium Maritim

Menurut artikel Dinamika Kejayaan dan Faktor Penyebab Kemunduran Kerajaan Sriwijaya oleh Sindy Maulana dkk., Kerajaan Sriwijaya berkembang menjadi salah satu kekuatan maritim terbesar di Asia Tenggara sejak abad ke-7 M. Puncak kejayaannya berlangsung pada abad ke-8 hingga ke-9 M, terutama pada masa pemerintahan Raja Balaputradewa. Pada periode ini, Sriwijaya berhasil menguasai jalur perdagangan strategis di Selat Malaka, Selat Sunda, dan Semenanjung Malaya sehingga menjadi pusat perdagangan internasional.

Perdagangan dan Kemakmuran Sriwijaya

Kemakmuran ekonomi Sriwijaya berasal dari kemampuannya menguasai jalur perdagangan internasional yang menghubungkan India, Tiongkok, dan kawasan Asia Tenggara. Kerajaan ini memperoleh pemasukan melalui aktivitas pelabuhan, perdagangan antarpulau, serta pajak yang dikenakan kepada kapal-kapal dagang yang melintasi wilayah kekuasaannya. Berbagai komoditas seperti kapur barus, cendana, gading gajah, kapas, dan cula badak diperdagangkan melalui pelabuhan Sriwijaya.

Sistem Politik dan Hubungan dengan Daerah Bawahan

Kejayaan Sriwijaya juga ditopang oleh sistem pemerintahan bercorak mandala. Dalam sistem ini, daerah-daerah bawahan tetap dipimpin oleh penguasa lokal, tetapi memiliki kewajiban menunjukkan kesetiaan kepada pusat kerajaan melalui pembayaran upeti dan dukungan politik. Sistem tersebut membantu Sriwijaya mempertahankan pengaruhnya atas wilayah yang luas tanpa harus menguasainya secara langsung.

Jaringan Perdagangan Internasional

Hubungan dagang dengan Tiongkok, India, dan dunia Arab menjadikan Sriwijaya sebagai pusat distribusi berbagai komoditas di kawasan Asia. Posisi strategis tersebut memungkinkan Sriwijaya menghubungkan perdagangan antara wilayah Barat dan Timur sekaligus memperluas pengaruh politiknya ke berbagai daerah di Sumatra, Semenanjung Malaya, hingga sebagian Asia Tenggara.

Kekuatan Armada Laut

Untuk menjaga keamanan jalur perdagangan, Sriwijaya membangun armada laut yang kuat. Armada ini berfungsi melindungi pelayaran dari ancaman perompak sekaligus mengawasi wilayah perairan yang berada di bawah pengaruh kerajaan. Keamanan tersebut mendorong semakin banyak pedagang asing singgah di pelabuhan-pelabuhan Sriwijaya.

Faktor Pendukung Kejayaan Sriwijaya

Letak Geografis yang Strategis

Salah satu faktor utama yang mendorong kejayaan Sriwijaya adalah letaknya yang sangat strategis di sekitar Selat Malaka. Posisi tersebut memungkinkan kerajaan mengendalikan jalur pelayaran internasional yang menghubungkan India, Tiongkok, dan berbagai kawasan di Asia Tenggara, sekaligus memanfaatkan kekayaan sumber daya alam Sumatra sebagai komoditas perdagangan.

Pusat Pembelajaran Agama Buddha

Selain berkembang sebagai pusat perdagangan, Sriwijaya juga dikenal sebagai pusat pembelajaran agama Buddha Mahayana. Catatan perjalanan biksu I-Tsing menunjukkan bahwa banyak pelajar dan biksu dari berbagai wilayah datang ke Sriwijaya untuk mempelajari ajaran Buddha sebelum melanjutkan perjalanan ke India.

Pemerintahan yang Efektif

Kejayaan Sriwijaya turut didukung oleh sistem pemerintahan yang terorganisasi dengan baik. Melalui konsep mandala, pusat kerajaan bekerja sama dengan para datu di wilayah bawahan untuk mengawasi perdagangan, menjaga stabilitas politik, serta mengelola hubungan ekonomi antardaerah.

Hubungan Diplomatik

Sriwijaya juga aktif menjalin hubungan diplomatik dengan berbagai kerajaan besar, seperti Dinasti Tang di Tiongkok, Kerajaan Benggala di India, serta beberapa kerajaan lainnya. Hubungan tersebut tidak hanya memperkuat kerja sama perdagangan, tetapi juga mendukung perkembangan pendidikan dan agama Buddha di Sriwijaya.

Pengaruh Budaya

Pengaruh Sriwijaya tidak hanya terlihat dalam bidang politik dan ekonomi, tetapi juga dalam perkembangan agama dan budaya di Asia Tenggara. Perannya sebagai pusat penyebaran agama Buddha menjadikan kerajaan ini memiliki warisan budaya yang masih dapat ditelusuri melalui berbagai prasasti, situs arkeologi, serta peninggalan keagamaan yang tersebar di Nusantara dan kawasan sekitarnya.

Reviewed by Melody Aria Putri, M.Hum., Gr.

Baca Juga: Sejarah Kota dan Jejak Peradabannya di Indonesia