Konten dari Pengguna

Ngaben: Upacara Kremasi Suci dalam Tradisi Hindu Bali

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Jejak Sejarah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi Ngaben. Foto: Unsplash.
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Ngaben. Foto: Unsplash.

Bali dikenal sebagai pulau dengan tradisi keagamaan yang sangat kuat, salah satunya adalah upacara ngaben. Ritual ini menjadi bagian penting dalam siklus kehidupan umat Hindu di Bali yang dipercaya memiliki makna spiritual mendalam.

Ngaben bukan sekadar upacara pemakaman biasa, melainkan proses sakral yang melibatkan seluruh keluarga dan masyarakat. Melalui ritual ini, umat Hindu Bali menunjukkan keyakinan terhadap perjalanan jiwa setelah kematian menuju alam spiritual.

Pengertian dan Makna Ngaben dalam Kebudayaan Bali

Ngaben merupakan upacara kremasi atau pembakaran jenazah yang dilaksanakan oleh umat Hindu di Bali. Menurut artikel Kebudayaan Bali dengan Tradisi Upacara Ngaben dalam Agama Hindu oleh Olivia Salsabilla Kusumawardani, upacara ini bertujuan menyucikan roh (atma) dengan memisahkan roh dari badan kasar manusia. Dalam ajaran Hindu, badan kasar tersusun atas lima unsur yang dikenal sebagai Panca Maha Bhuta, yaitu pertiwi (tanah), teja (api), apah (air), bayu (angin), dan akasa (ruang hampa). Melalui Ngaben, unsur-unsur tersebut dikembalikan kepada asalnya agar tidak menghalangi perjalanan atma menuju penyatuan dengan Tuhan (moksa).

Prosesi dan Tahapan Pelaksanaan Upacara Ngaben

Prosesi Ngaben terdiri atas beberapa tahapan yang dilakukan secara berurutan. Tahap awal dimulai dengan Ngulapin, yaitu memohon izin dan restu, dilanjutkan Meseh Lawang sebagai penyucian simbolis terhadap jenazah, kemudian Mesiram atau Mabersih untuk memandikan jenazah. Setelah itu dilaksanakan Ngaskara sebagai penyucian jiwa dan Nerpana, yaitu persembahan sesajen kepada roh yang telah meninggal. Puncak upacara adalah Ngeseng Sawa, yakni pembakaran jenazah di setra dengan menggunakan Petulangan, yaitu replika lembu sebagai tempat pembakaran jenazah. Setelah pembakaran selesai dilakukan Nuduk Galih untuk mengumpulkan sisa tulang atau abu jenazah, kemudian diakhiri dengan Nganyut, yaitu melarung abu ke laut sebagai simbol pengembalian unsur-unsur kehidupan kepada alam.

Ngaben dikenal sebagai upacara yang membutuhkan biaya cukup besar karena rangkaian ritualnya yang kompleks. Oleh sebab itu, masyarakat Bali juga mengenal Ngaben massal yang diselenggarakan secara bersama-sama untuk meringankan biaya pelaksanaan, tanpa mengurangi makna spiritual dari upacara tersebut.

Reviewed by Melody Aria Putri, M.Hum., Gr.

Baca Juga: Sejarah Kota dan Jejak Peradabannya di Indonesia