Konten dari Pengguna

Pangeran Mangkubumi: Arsitek Visioner Kota Yogyakarta

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Jejak Sejarah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi Kesultanan Yogyakarta. Foto: Unsplash.
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Kesultanan Yogyakarta. Foto: Unsplash.

Yogyakarta sebagai kota istimewa memiliki sejarah panjang yang tak bisa dilepaskan dari sosok Pangeran Mangkubumi. Tokoh yang kelak bergelar Sultan Hamengku Buwono I ini bukan hanya pendiri Kesultanan Yogyakarta, tetapi juga perancang tata kota yang visioner.

Perannya dalam membentuk struktur kota Yogyakarta menjadi bukti bagaimana kepemimpinan dan visi arsitektur bisa menyatu. Hingga kini, warisan perencanaan kota yang dibuatnya masih terasa dalam kehidupan masyarakat Yogyakarta.

Perjalanan Pangeran Mangkubumi Menuju Tahta Kesultanan

Latar Belakang dan Peran Politik

Pangeran Mangkubumi merupakan putra Sunan Amangkurat IV yang dikenal memiliki loyalitas tinggi terhadap Kerajaan Mataram. Ia sering dipercaya memadamkan berbagai pemberontakan serta menentang campur tangan VOC dalam urusan pemerintahan Mataram. Setelah melalui konflik politik yang panjang, Perjanjian Giyanti pada 13 Februari 1755 menjadi titik penting yang melahirkan Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat. Melalui perjanjian tersebut, Pangeran Mangkubumi dinobatkan sebagai Sultan Hamengkubuwana I, raja pertama Kesultanan Yogyakarta.

Perjanjian Giyanti 1755

Menurut artikel Baha' Uddin dan Dwi Ratna Nurhajarini, dalam Mangkubumi Sang Arsitek Kota Yogyakarta. Perjanjian Giyanti membagi wilayah Mataram menjadi dua kekuasaan, yaitu Kasunanan Surakarta di bawah Pakubuwono III dan Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat di bawah Sultan Hamengkubuwana I. Setelah perjanjian tersebut, Sultan Hamengkubuwana I mulai mempersiapkan berdirinya ibu kota baru dengan membangun Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat sebagai pusat pemerintahan dan kebudayaan.

Alasan Pemilihan Lokasi Yogyakarta

Pemilihan lokasi ibu kota baru dilakukan melalui berbagai pertimbangan, meliputi aspek geografis, pertahanan, politik, sosial budaya, ekonomi, dan filosofi. Kawasan Hutan Beringan dipilih karena letaknya strategis di antara Sungai Code dan Sungai Winongo serta dekat dengan pusat-pusat Mataram lama. Penataan kota juga mencerminkan pandangan kosmologis Jawa yang menempatkan Keraton sebagai pusat keseimbangan antara manusia, alam, dan Tuhan.

Konsep Arsitektur dan Tata Kota Yogyakarta Warisan Mangkubumi

Filosofi Tata Kota

Sultan Hamengkubuwana I merancang Kota Yogyakarta berdasarkan konsep kosmologi Islam-Jawa yang menekankan keseimbangan hubungan manusia dengan Tuhan, manusia dengan sesama, dan manusia dengan alam. Konsep tersebut diwujudkan melalui sumbu filosofis Panggung Krapyak–Keraton–Tugu Pal Putih yang melambangkan manunggaling kawula gusti sekaligus menjadi poros utama perkembangan Kota Yogyakarta.

Elemen Arsitektur Utama

Tata kota Yogyakarta disusun berdasarkan konsep catur gatra, yang terdiri atas Keraton sebagai pusat pemerintahan, Alun-alun sebagai ruang publik, Masjid Gedhe Kauman sebagai pusat keagamaan, dan pasar sebagai pusat kegiatan ekonomi. Selain itu, Keraton dilengkapi dengan benteng, parit, lima gerbang, serta memanfaatkan bentang alam berupa sungai sebagai sistem pertahanan berlapis.

Warisan Tata Kota hingga Kini

Tata kota yang dirancang Sultan Hamengkubuwana I menjadi fondasi perkembangan Kota Yogyakarta hingga masa kini. Struktur kota, sumbu filosofis, serta bangunan-bangunan utama yang dibangun pada masa awal kesultanan masih bertahan sebagai warisan budaya dan identitas Kota Yogyakarta.

Reviewed by Melody Aria Putri, M.Hum., Gr.

Baca Juga: Sejarah Kota dan Jejak Peradabannya di Indonesia