Konten dari Pengguna

Pendiri Kerajaan Sriwijaya dan Jejak Kejayaannya

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Jejak Sejarah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi Kerajaan Sriwijaya. Foto: Pixabay.
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Kerajaan Sriwijaya. Foto: Pixabay.

Kerajaan Sriwijaya dikenal sebagai salah satu kerajaan maritim terbesar yang pernah berdiri di Nusantara. Mengetahui siapa pendiri kerajaan ini sangat penting untuk memahami bagaimana kekuatan besar tersebut bisa terbentuk dan menguasai jalur perdagangan strategis di Asia Tenggara.

Kerajaan ini bukan hanya sekadar pusat kekuasaan politik, tetapi juga menjadi simpul perdagangan internasional yang menghubungkan China, India, dan kawasan lainnya. Dengan memahami asal-usul pendiriannya, kita bisa melihat bagaimana Sriwijaya membangun fondasinya hingga menjadi kerajaan yang disegani pada masanya.

Dapunta Hyang Sri Jayanasa sebagai Pendiri Kerajaan Sriwijaya

Menurut artikel Dinamika Kejayaan dan Faktor Penyebab Kemunduran Kerajaan Sriwijaya oleh Sindy Maulana dkk., Dapunta Hyang Sri Jayanasa dikenal sebagai pendiri sekaligus penguasa awal Kerajaan Sriwijaya. Namanya tercantum dalam Prasasti Kedukan Bukit yang bertarikh 682 M, salah satu sumber sejarah terpenting mengenai awal berdirinya kerajaan maritim tersebut. Prasasti ini menjelaskan bahwa Dapunta Hyang memimpin sebuah perjalanan suci (siddhayatra) yang disertai ribuan pasukan dan armada untuk memperluas wilayah kekuasaannya.

Pusat awal Kerajaan Sriwijaya diperkirakan berada di kawasan Palembang, Sumatra Selatan. Hal ini didukung oleh ditemukannya berbagai prasasti penting, seperti Kedukan Bukit, Talang Tuo, Telaga Batu, dan Kota Kapur, yang menunjukkan luasnya pengaruh Sriwijaya pada masa awal perkembangannya. Dari pusat kekuasaan tersebut, Dapunta Hyang memperluas wilayah kekuasaan ke berbagai daerah di Sumatra dan kawasan strategis di sekitar Selat Malaka.

Dalam menjalankan pemerintahannya, Sriwijaya mengandalkan kekuatan armada laut sekaligus menerapkan sistem mandala, yaitu pola hubungan politik yang menekankan kesetiaan daerah-daerah bawahan kepada pusat kerajaan. Didukung oleh letaknya yang strategis di jalur perdagangan internasional, sistem tersebut memungkinkan Sriwijaya berkembang menjadi salah satu kerajaan maritim terbesar di Asia Tenggara.

Jejak Kejayaan Kerajaan Sriwijaya Pasca Pendirian

Setelah berdiri, Sriwijaya berkembang menjadi pusat perdagangan maritim yang menghubungkan jalur pelayaran antara India, Tiongkok, dan kawasan Asia Tenggara. Letaknya yang strategis di sekitar Selat Malaka memungkinkan Sriwijaya menguasai lalu lintas perdagangan serta memperoleh keuntungan dari aktivitas pelayaran internasional. Perkembangan tersebut menjadikan Sriwijaya sebagai salah satu kekuatan maritim terbesar sejak abad ke-7 hingga abad ke-11 Masehi. Puncak kejayaannya umumnya dikaitkan dengan masa pemerintahan Raja Balaputradewa pada abad ke-9 M.

Selain berkembang dalam bidang ekonomi, Sriwijaya juga dikenal sebagai pusat pembelajaran agama Buddha Mahayana. Catatan perjalanan Biksu I-Tsing menunjukkan bahwa banyak pelajar dan biksu dari berbagai wilayah datang ke Sriwijaya untuk mempelajari ajaran Buddha sebelum melanjutkan perjalanan ke India. Sriwijaya juga menjalin hubungan diplomatik dan perdagangan dengan berbagai kerajaan besar, seperti Dinasti Tang di Tiongkok, Kerajaan Benggala, dan Kerajaan Chola di India Selatan.

Memasuki abad ke-11, Sriwijaya mulai menghadapi berbagai tantangan. Pada tahun 1025 M, Kerajaan Chola melancarkan serangan besar yang berhasil melemahkan kekuatan politik dan perdagangan Sriwijaya. Meskipun demikian, kerajaan ini tidak langsung runtuh dan masih mampu mempertahankan eksistensinya serta menjalin hubungan diplomatik dengan Tiongkok selama beberapa dekade berikutnya.

Kemunduran Sriwijaya terjadi secara bertahap akibat gabungan berbagai faktor. Selain dampak serangan Chola, Sriwijaya juga menghadapi melemahnya pengawasan terhadap wilayah-wilayah bawahannya, perubahan jalur perdagangan internasional, serta munculnya kekuatan-kekuatan baru seperti Kerajaan Melayu di Jambi dan Singasari yang mulai memasuki kawasan pengaruh Sriwijaya. Kombinasi berbagai faktor tersebut menyebabkan pengaruh Sriwijaya semakin berkurang hingga akhirnya mengakhiri dominasinya sebagai imperium maritim di Asia Tenggara.

Reviewed by Melody Aria Putri, M.Hum., Gr.

Baca Juga: Sejarah Kota dan Jejak Peradabannya di Indonesia