Politik Etis Pertama Kali Dicetuskan oleh Siapa? Ini Faktanya
Artikel yang membahas seputar ilmu sejarah dalam maupun luar negeri.
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Jejak Sejarah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sistem kolonialisme Belanda di Indonesia telah berlangsung selama berabad-abad dengan berbagai kebijakan yang memberatkan rakyat pribumi. Salah satu kritik tajam muncul dari seorang tokoh Belanda yang kemudian memicu lahirnya kebijakan baru bernama Politik Etis. Kebijakan ini tidak hanya mengubah arah kolonialisme Belanda, tetapi juga menjadi titik awal kebangkitan nasional Indonesia. Memahami siapa pencetus dan bagaimana pengaruhnya terhadap pergerakan bangsa menjadi penting untuk mengenal sejarah kemerdekaan Indonesia.
Pencetus Politik Etis dan Latar Belakangnya
Menurut artikel Politik Etis dan Pengaruhnya bagi Lahirnya Pergerakan Bangsa Indonesia oleh Agus Susilo dan Isbandiyah, Politik Etis berkaitan dengan pemikiran Conrad Theodor van Deventer yang menilai bahwa pemerintah Belanda harus menebus hutangnya kepada masyarakat pribumi. Melalui gagasan tersebut, ia menilai bahwa pemerintah Belanda memiliki kewajiban moral untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat Hindia Belanda setelah bertahun-tahun memperoleh keuntungan dari tanah jajahan.
Kritik terhadap Sistem Kolonial
Van Deventer mengkritik kebijakan kolonial Belanda yang selama bertahun-tahun mengeksploitasi sumber daya dan tenaga masyarakat Hindia Belanda. Menurutnya, sudah saatnya pemerintah memberikan perhatian yang lebih besar terhadap kesejahteraan rakyat pribumi sebagai bentuk tanggung jawab moral.
Latar Belakang Politik Etis
Lahirnya Politik Etis dipengaruhi oleh meningkatnya kritik terhadap kebijakan kolonial Belanda yang dianggap menyebabkan penderitaan rakyat Hindia Belanda. Selain didorong oleh alasan kemanusiaan, kebijakan ini juga tetap mempertimbangkan kepentingan ekonomi pemerintah kolonial.
Penerapan Politik Etis
Politik Etis mulai diterapkan secara resmi setelah pidato tahunan Ratu Wilhelmina pada 17 September 1901. Dalam pidato tersebut, pemerintah Belanda menyatakan perlunya memberikan perhatian yang lebih besar terhadap kesejahteraan masyarakat pribumi di Hindia Belanda.
Tujuan Politik Etis
Politik Etis dikembangkan dengan alasan meningkatkan kesejahteraan masyarakat pribumi, tetapi pelaksanaannya tetap diarahkan untuk mendukung kepentingan pemerintahan kolonial Belanda.
Trilogi Politik Etis dan Dampaknya bagi Pergerakan Bangsa
Pelaksanaan Politik Etis diwujudkan melalui tiga program utama, yaitu pembangunan irigasi, penyelenggaraan emigrasi atau perpindahan penduduk, serta perluasan pendidikan bagi masyarakat pribumi. Di antara ketiganya, program pendidikan memberikan pengaruh paling besar terhadap perkembangan masyarakat Indonesia.
Lahirnya Golongan Terpelajar
Kesempatan memperoleh pendidikan Barat melahirkan kelompok intelektual pribumi yang memiliki wawasan lebih luas. Dari kalangan inilah kemudian muncul tokoh-tokoh yang menggerakkan perjuangan nasional melalui organisasi modern.
Pendidikan dan Nasionalisme
Pendidikan yang diperoleh kaum pribumi tidak hanya meningkatkan pengetahuan, tetapi juga menumbuhkan kesadaran akan pentingnya persatuan, kemajuan, dan kemerdekaan. Kesadaran inilah yang kemudian berkembang menjadi semangat nasionalisme.
Kontradiksi Politik Etis
Meskipun dirancang untuk memperkuat pemerintahan kolonial, pelaksanaan Politik Etis justru menghasilkan kelompok intelektual pribumi yang semakin kritis terhadap penjajahan. Pendidikan yang diberikan Belanda akhirnya menjadi salah satu pendorong lahirnya gerakan nasional Indonesia.
Lahirnya Organisasi Pergerakan
Berkembangnya golongan terpelajar mendorong lahirnya berbagai organisasi pergerakan nasional, seperti Budi Utomo, Sarekat Islam, dan Indische Partij. Organisasi-organisasi tersebut menjadi wadah perjuangan untuk memperjuangkan hak-hak rakyat serta membangun kesadaran kebangsaan.
Dampak Jangka Panjang
Dalam jangka panjang, Politik Etis melahirkan generasi terdidik yang menjadi pelopor pergerakan nasional Indonesia. Bekal pendidikan yang mereka peroleh dimanfaatkan untuk menyusun strategi perjuangan melalui organisasi, diplomasi, maupun gerakan politik menuju kemerdekaan.
Reviewed by Melody Aria Putri, M.Hum., Gr.
Baca Juga: Sejarah Kota dan Jejak Peradabannya di Indonesia