Prasasti Canggal: Bukti Sejarah Mataram Kuno di Jawa Tengah
Artikel yang membahas seputar ilmu sejarah dalam maupun luar negeri.
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Jejak Sejarah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Prasasti Canggal menjadi salah satu peninggalan arkeologi paling berharga dari masa Kerajaan Mataram Kuno. Keberadaannya memberikan petunjuk penting tentang sistem pemerintahan dan kehidupan masyarakat Jawa Tengah pada abad ke-8 Masehi.
Sebagai prasasti tertua yang ditemukan di Jawa Tengah, artefak ini mencatat peristiwa penting di era Raja Sanjaya. Dengan mempelajari prasasti ini, kita dapat memahami awal mula kejayaan kerajaan Hindu di tanah Jawa.
Sejarah dan Isi Prasasti Canggal
Ditemukan di kompleks percandian Gunung Wukir, Desa Canggal, Kecamatan Salam, Kabupaten Magelang, Prasasti Canggal menjadi salah satu penanda penting sejarah awal Jawa Tengah. Prasasti ini ditulis menggunakan bahasa Sansekerta dan aksara Pallawa. Berdasarkan candra sengkala çrutîndriya rasair, prasasti ini berangka tahun 654 Saka atau 28 Oktober 732 M, menjadikannya sebagai prasasti berangka tahun tertua dari era Mataram Kuno. Isi prasasti mencatat bahwa Raja Sanjaya, yang telah naik takhta sejak tahun 717 M, mendirikan sebuah lingga di Bukit Çtirangga sebagai lambang pemujaan Dewa Siwa. Tindakan ini dilakukan demi memohon keselamatan rakyat serta memulihkan keadaan setelah kerajaan menderita kerusakan akibat serangan Sriwijaya. Melalui teks ini, Sanjaya memuat silsilah dirinya sebagai putra Sannaha guna menegaskan legitimasi kekuasaannya atas Kerajaan Mataram Kuno.
Makna Prasasti Canggal dalam Sejarah Jawa Tengah
Prasasti Canggal memiliki posisi krusial sebagai sumber sejarah primer yang merekam fase awal berdirinya Kerajaan Mataram Kuno di Jawa Tengah. Keberadaannya membuktikan bahwa pada abad ke-8 M, kawasan Kedu dan sekitarnya telah berkembang menjadi pusat pemerintahan yang terstruktur. Penulisan teks dalam aksara Pallawa dan bahasa Sansekerta menegaskan adanya interaksi serta akulturasi budaya yang kuat dengan tradisi India. Selain itu, pendirian lingga memperlihatkan bahwa ajaran Hindu Siwa menjadi kepercayaan utama yang melandasi legitimasi politik kerajaan. Menurut artikel Kondisi Jawa Tengah pada Abad VIII sampai Abad XV M oleh Siti Maziyah, Prasasti Canggal menjadi bukti konkret bahwa tradisi literasi dan sistem keagamaan telah mengakar kuat sebelum pusat kerajaan mengalami beberapa kali perpindahan di masa-masa berikutnya.
Pendirian Lingga dan Konsep Legitimasi Kekuasaan
Pendirian lingga di Bukit Çtirangga oleh Raja Sanjaya bukan sekadar ritual keagamaan, melainkan simbol legitimasi politik yang kuat. Dalam kosmologi Hindu, lingga melambangkan keberadaan Dewa Siwa sekaligus stana pelindung bagi raja dan rakyatnya. Setelah dipulihkan dari ancaman disintegrasi akibat serangan militer Sriwijaya, pendirian pilar batu suci ini menjadi penanda kebangkitan kedaulatan Kerajaan Mataram Kuno di bawah trah Sanjaya.
Penggunaan Candra Sengkala dalam Penanggalan Kuno
Hal menarik dari Prasasti Canggal terletak pada penulisan angka tahunnya yang menggunakan sistem candra sengkala berbunyi çrutîndriya rasair. Tidak seperti prasasti-prasasti Sriwijaya pada zaman sezaman yang menggunakan deretan angka biasa, masyarakat Mataram Kuno mengekspresikan angka tahun 654 Saka melalui susunan kata bermakna simbolis. Penulisan yang teliti hingga mencantumkan hari, tanggal, bulan Kartika, serta naungan zodiak Kumbha (Aquarius) mencerminkan tingginya penguasaan ilmu astronomi dan penanggalan pada masa tersebut.
Reviewed by Melody Aria Putri, M.Hum., Gr.
Baca Juga: Sejarah Kota dan Jejak Peradabannya di Indonesia