Konten dari Pengguna

Prasasti Kedukan Bukit: Bukti Tertua Kerajaan Sriwijaya

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Jejak Sejarah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi Kerajaan Sriwijaya. Foto: Pixabay.
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Kerajaan Sriwijaya. Foto: Pixabay.

Prasasti Kedukan Bukit menjadi salah satu peninggalan tertulis paling berharga dari masa Kerajaan Sriwijaya. Keberadaannya memberikan gambaran jelas tentang sistem pemerintahan dan peradaban maritim Nusantara pada abad ke-7 Masehi. Dengan mempelajari prasasti ini, kita bisa memahami bagaimana sebuah kerajaan besar di Asia Tenggara mulai membangun kekuasaannya. Informasi yang tertulis di dalamnya tidak sekadar catatan sejarah, tetapi juga mencerminkan konsep kepemimpinan ideal pada masa itu.

Sejarah Penemuan dan Karakteristik Prasasti Kedukan Bukit

Penemuan Prasasti Kedukan Bukit

Prasasti Kedukan Bukit ditemukan pada 29 November 1920 oleh Batenburg di Desa Kedukan Bukit, di tepian Sungai Tatang, Kota Palembang, Sumatera Selatan. Kajian epigrafis pertama dilakukan oleh L.C. Westenenk pada tahun 1923.

Karakteristik Prasasti

Prasasti Kedukan Bukit terdiri atas 10 baris tulisan yang menggunakan aksara Pallawa dan bahasa Melayu Kuno, serta memuat catatan mengenai perjalanan Dapunta Hyang dan pendirian Sriwijaya.

Kedudukan Dibandingkan Prasasti Sriwijaya Lain

Selain Prasasti Kedukan Bukit, Sriwijaya juga meninggalkan sejumlah prasasti lain seperti Talang Tuo, Kota Kapur, Telaga Batu, Karang Brahi, dan Ligor A yang bersama-sama memberikan gambaran mengenai pemerintahan serta konsep kekuasaan Sriwijaya.

Isi dan Makna Prasasti Kedukan Bukit dalam Konteks Kerajaan Sriwijaya

Isi Prasasti

Menurut artikel Konsep Raja Ideal pada Masa Sriwijaya Berdasarkan Bukti-Bukti Tertulis olehMuhamad Alnoza, Prasasti Kedukan Bukit menceritakan perjalanan suci (siddhayatra) yang dilakukan Dapunta Hyang bersama pasukannya hingga mendirikan wanua Sriwijaya.

Makna Siddhayatra

Dalam Prasasti Kedukan Bukit, Dapunta Hyang melakukan siddhayatra atau perjalanan suci yang berakhir dengan pendirian wanua Sriwijaya dan keberhasilan perjalanan tersebut.

Konsep Raja Ideal

Prasasti-prasasti Sriwijaya menunjukkan konsep raja ideal yang dipengaruhi ajaran Buddha. Raja dipandang sebagai sosok yang sempurna, dermawan, memiliki kemampuan memimpin, serta memperoleh legitimasi spiritual.

Pengaruh Agama Buddha

Konsep kepemimpinan Sriwijaya dipengaruhi oleh ajaran Buddha, khususnya aliran Vajrayana, yang menempatkan raja sebagai sosok bermoral, dermawan, dan memiliki kualitas spiritual tinggi.

Bukti Sistem Kerajaan Maritim

Prasasti Kedukan Bukit memperlihatkan perjalanan Dapunta Hyang dengan armada dan pasukan dalam rangka siddhayatra, yang menjadi salah satu bukti penting mengenai perkembangan awal Sriwijaya.

Relevansi bagi Sejarah Indonesia

Prasasti Kedukan Bukit menjadi salah satu sumber tertulis penting untuk memahami pemerintahan dan konsep kepemimpinan pada masa Sriwijaya.

Pentingnya Prasasti sebagai Sumber Sejarah

Sebagai sumber tertulis, Prasasti Kedukan Bukit memberikan informasi penting mengenai perjalanan Dapunta Hyang dan konsep kekuasaan Sriwijaya sehingga menjadi salah satu data utama dalam kajian sejarah dan arkeologi Sriwijaya.

Reviewed by Melody Aria Putri, M.Hum., Gr.

Baca Juga: Sejarah Kota dan Jejak Peradabannya di Indonesia