Rumah Adat Kalimantan Selatan dan Filosofinya
Artikel yang membahas seputar ilmu sejarah dalam maupun luar negeri.
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Jejak Sejarah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Kalimantan Selatan memiliki warisan budaya yang sangat kaya, salah satunya terlihat dari arsitektur rumah tradisionalnya. Rumah adat Banjar menjadi identitas masyarakat setempat yang mencerminkan kearifan lokal dalam beradaptasi dengan lingkungan geografis khas daerah rawa dan sungai. Keunikan rumah adat ini tidak hanya terletak pada bentuk fisiknya yang megah, tetapi juga pada makna filosofis di balik setiap elemen bangunannya. Dengan memahami struktur dan jenis rumah adat Kalimantan Selatan, kita bisa melihat bagaimana nenek moyang masyarakat Banjar merancang hunian yang fungsional sekaligus sarat nilai budaya.
Karakteristik dan Filosofi Rumah Adat Banjar
Berdasarkan buku oleh Mahmud Jauhari Ali, Rumah adat Banjar merupakan rumah panggung khas Kalimantan Selatan yang dibangun di atas tiang penyangga dengan tinggi lantai sekitar dua meter dari permukaan tanah. Sebagian besar konstruksinya menggunakan kayu ulin yang dikenal kuat, tahan lama, dan tahan terhadap serangan rayap, sedangkan bagian atap memakai sirap dari kayu ulin.
Adaptasi terhadap Lingkungan
Rumah adat Banjar dirancang mengikuti kondisi geografis Kalimantan Selatan yang didominasi sungai. Oleh karena itu, banyak rumah tradisional Banjar dibangun menghadap ke arah sungai sebagai bagian dari budaya sungai yang telah menjadi ciri kehidupan masyarakat setempat.
Material Bangunan
Material utama rumah adat Banjar adalah kayu ulin atau kayu besi yang terkenal sangat kuat, tahan terhadap rayap, dan mampu bertahan hingga ratusan tahun. Selain digunakan sebagai struktur bangunan, kayu ulin juga dimanfaatkan sebagai bahan pembuatan atap sirap.
Filosofi Rumah Adat
Rumah adat Banjar tidak hanya berfungsi sebagai tempat tinggal, tetapi juga mengandung nilai filosofis yang mendalam. Bentuk keseluruhan bangunan melambangkan pohon kehidupan sebagai simbol keseimbangan hubungan manusia dengan sesama, alam, dan Tuhan Yang Maha Esa.
Jenis-Jenis Rumah Adat Kalimantan Selatan
Rumah Bubungan Tinggi merupakan jenis rumah adat Banjar yang paling terkenal dan pada masa Kesultanan Banjar dijadikan sebagai kediaman sultan. Arsitekturnya yang megah tidak hanya menunjukkan status sosial penghuninya, tetapi juga mengandung filosofi tentang keseimbangan hubungan manusia dengan sesama, alam, dan Tuhan Yang Maha Esa.
Rumah Gajah Baliku
Rumah Gajah Baliku merupakan salah satu jenis rumah adat Banjar yang pada masa Kesultanan Banjar digunakan sebagai tempat tinggal saudara sultan. Bentuk bangunannya hampir sama dengan Rumah Bubungan Tinggi, tetapi memiliki perbedaan pada susunan ruang tamu dan struktur atap yang digunakan.
Rumah Balai Laki dan Balai Bini
Rumah Balai Bini pada masa Kesultanan Banjar diperuntukkan bagi putri sultan maupun anggota keluarga kerajaan dari garis perempuan. Sementara itu, Rumah Balai Laki menjadi tempat tinggal para penggawa, mantri, dan prajurit yang bertugas menjaga keamanan kerajaan. Perbedaan fungsi tersebut menunjukkan adanya pembagian tempat tinggal berdasarkan kedudukan dalam lingkungan kesultanan.
Rumah Gajah Manyusu
Rumah Gajah Manyusu merupakan salah satu jenis rumah adat Banjar yang dahulu ditempati oleh keturunan raja sebagai calon penerus Sultan Banjar. Bentuk atapnya yang tampak belum utuh memiliki makna simbolis bahwa penghuni rumah tersebut belum resmi menjadi sultan.
Pelestarian Rumah Adat
Saat ini jumlah rumah adat Banjar semakin berkurang karena masyarakat lebih banyak membangun rumah modern. Meskipun demikian, bentuk arsitektur Rumah Banjar masih diadopsi pada sejumlah bangunan sebagai upaya mempertahankan identitas budaya daerah.
Reviewed by Melody Aria Putri, M.Hum., Gr.
Baca Juga: Sejarah Kota dan Jejak Peradabannya di Indonesia