Sejarah & Geografi Kota Tangerang: Menelusuri Perkembangan & Keunikan Wilayahnya
Artikel yang membahas seputar ilmu sejarah dalam maupun luar negeri.
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Jejak Sejarah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Tangerang dikenal sebagai salah satu kota besar di kawasan Jabodetabek dengan sejarah dan karakter geografi yang unik. Kota ini berkembang pesat sebagai pusat aktivitas ekonomi, budaya, dan hunian, menjadikannya wilayah yang menarik untuk dibahas dari sisi sejarah maupun letak geografis.
Sejarah Kota Tangerang
Sejarah Kota Tangerang menunjukkan perjalanan panjang yang membentuk identitas kota hingga saat ini. Berdasarkan artikel Sejarah Sosial-Budaya Masyarakat Cina Benteng di Kota Tangerang oleh Euis Thresnawaty, perkembangannya tidak dapat dilepaskan dari dinamika sosial dan budaya masyarakat yang telah berlangsung secara berkelanjutan.
Tangerang dikenal memiliki keunikan berupa pembauran antaretnis yang berjalan harmonis, khususnya antara etnis Sunda, Jawa, Melayu, dan Tionghoa, yang menjadi fondasi penting dalam pembentukan karakter kota.
Transformasi Kota Tangerang berlangsung seiring dengan perubahan sosial budaya yang dipengaruhi oleh interaksi antaretnis serta peran aktif masyarakat lokal. Fenomena budaya seperti keberadaan komunitas Cina Benteng mencerminkan proses akulturasi yang kuat antara budaya Tionghoa dan budaya lokal, sehingga membentuk wajah sosial dan budaya Tangerang yang khas hingga masa kini.
Asal Usul Kota Tangerang
Pembentukan awal Kota Tangerang sangat dipengaruhi oleh letaknya yang strategis di tepi Sungai Cisadane. Keberadaan sungai tersebut menjadikan kawasan Tangerang memiliki posisi penting, baik secara militer maupun politik, karena wilayah ini pernah menjadi daerah pertahanan sekaligus medan perebutan kekuasaan antara Banten dan Batavia.
Sejak masa awal, Sungai Cisadane juga berfungsi sebagai jalur perdagangan dan permukiman. Aktivitas ekonomi telah berkembang di sepanjang sungai, sebagaimana terlihat pada Pasar Baru tempo dulu yang menjadi tempat transaksi antara para pedagang Tionghoa yang datang melalui jalur sungai dengan penduduk lokal.
Seiring waktu, kawasan permukiman tersebut terus berkembang dan tumbuh menjadi pusat perdagangan, yang kemudian berperan sebagai pusat pertumbuhan ekonomi dan budaya serta menjadi bagian integral dari Kota Tangerang.
Pengaruh Budaya dan Etnis di Tangerang
Salah satu ciri khas Kota Tangerang adalah kehadiran masyarakat Tionghoa yang telah mendiami kawasan ini sejak ratusan tahun lalu. Berdasarkan artikel Perkembangan Kota Lama Tangerang dan Potensinya sebagai Destinasi Wisata Kota Pusaka oleh Andhi Seto Prasetyo dkk, keberadaan komunitas Cina Benteng tidak dapat dipisahkan dari kawasan Pasar Lama atau Kota Lama Tangerang di tepi Sungai Cisadane, yang merupakan permukiman awal masyarakat Tionghoa di wilayah tersebut. Sejak masa itu, komunitas Cina Benteng memainkan peran penting dalam membangun dinamika sosial dan budaya Kota Tangerang.
Pengaruh budaya Cina Benteng tampak kuat melalui berbagai tradisi yang masih dilestarikan hingga kini, seperti gotong toa pekong, peh cun, pernikahan chio thaou, perayaan Imlek, kesenian barongsai dan liong, gambang kromong, serta tari cokek.
Kehadiran tradisi, kuliner, dan kesenian tersebut memberikan warna tersendiri dalam kehidupan masyarakat Tangerang. Perpaduan budaya Tionghoa dan pribumi yang terus terjaga ini membentuk keragaman budaya yang khas dan menjadi bagian penting dari identitas Kota Tangerang hingga saat ini.
Geografi Kota Tangerang
Berdasarkan dokumen Kota Tangerang dalam Angka 2025 oleh BPS Kota Tangerang, secara geografis, Kota Tangerang berbatasan dengan Kabupaten Tangerang di sisi utara dan barat, Provinsi DKI Jakarta di sebelah timur, serta Kota Tangerang Selatan di bagian selatan.
Luas wilayah Kota Tangerang mencapai sekitar 164,55 km² atau sekitar 1,59 persen dari total luas Provinsi Banten, menjadikannya wilayah dengan luas terkecil kedua setelah Kota Tangerang Selatan. Jarak Kota Tangerang ke Kota Serang sebagai ibu kota Provinsi Banten kurang lebih 65 km.
Secara astronomis, Kota Tangerang berada pada koordinat 6°06’–6°13’ Lintang Selatan dan 106°36’–106°42’ Bujur Timur. Wilayah administrasinya terbagi ke dalam 13 kecamatan, yaitu Ciledug, Larangan, Karang Tengah, Cipondoh, Pinang, Tangerang, Karawaci, Jatiuwung, Cibodas, Periuk, Batuceper, Neglasari, dan Benda.
Kecamatan Pinang merupakan wilayah terluas dengan luas sekitar 21,59 km², disusul Cipondoh dan Neglasari, sedangkan Kecamatan Benda menjadi wilayah dengan luas terkecil, diikuti oleh Kecamatan Ciledug.
Kesimpulan
Tangerang memiliki modal sejarah yang kuat dan letak geografis strategis untuk terus berkembang. Keberadaan kawasan kota lama, budaya masyarakat Cina Benteng, hingga sungai-sungai besar menawarkan peluang wisata dan pengembangan ekonomi kreatif. Dengan pengelolaan yang tepat, Tangerang berpotensi tumbuh menjadi kota modern yang tetap mempertahankan kekayaan sejarah dan budayanya.
Reviewed by Melody Aria Putri, S.Hum., Gr.