Sejarah & Jumlah Huruf Aksara Lontara: Memahami Warisan Budaya Sulawesi Selatan
Artikel yang membahas seputar ilmu sejarah dalam maupun luar negeri.
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Jejak Sejarah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Aksara Lontara merupakan salah satu warisan budaya tertua di Sulawesi Selatan yang masih memiliki jejak kuat di tengah masyarakat Bugis-Makassar. Sistem tulisan ini pernah menjadi alat utama untuk merekam berbagai peristiwa penting, mulai dari hukum hingga sastra. Untuk memahami peran dan nilai sejarahnya, penting untuk menelusuri asal-usul dan jumlah huruf aksara Lontara yang berkembang hingga saat ini.
Pengertian dan Persebaran
Menurut artikel Lontaraq: Artefak Budaya Purba yang Gagal Bertransformasi (Sebuah Tinjauan Hermeneutika) oleh Sakaruddin, Aksara Lontaraq merupakan aksara asli masyarakat Bugis, Makassar, dan Mandar di Sulawesi Selatan. Meskipun sebelumnya telah ada aksara Makassar Kuno yang lebih tua, Lontaraq menjadi aksara yang paling lestari dan luas digunakan dalam kehidupan masyarakat.
Faktor Kelestarian
Kelestarian aksara Lontaraq didukung oleh dua faktor utama. Pertama, aksara ini digunakan sebagai sarana komunikasi tertulis, terutama dalam surat-menyurat sejak masa Makassar Kuno hingga awal abad ke-20 sebelum ejaan Latin mendominasi. Kedua, penggunaannya melintasi batas-batas kultural sehingga menjadi media komunikasi utama masyarakat Bugis-Makassar.
Sejarah Aksara Lontara
Asal-Usul dan Pengaruh
Terdapat perbedaan pendapat mengenai asal-usul aksara Lontaraq. Sebagian ahli berpendapat bahwa aksara ini tidak dipengaruhi budaya luar, termasuk India, sementara yang lain menganggapnya sebagai turunan aksara Pallawa. Selain aksara, masyarakat Bugis juga menggunakan bahasa sendiri yang dikenal sebagai bahasa Ugi, sedangkan masyarakat Toraja lebih mengandalkan tradisi lisan.
Penciptaan Aksara Lontaraq
Menurut sejarah, aksara Lontaraq diciptakan oleh Daeng Pamatte, Sabannarak Kerajaan Gowa, atas perintah Raja Gowa IX Karaeng Tumapakrisik Kallonna. Pada tahun 1538, Daeng Pamatte berhasil menyusun aksara Lontaraq yang awalnya berjumlah 18 huruf, kemudian berkembang menjadi 19 huruf setelah mendapat pengaruh bahasa Arab dan mengalami penyederhanaan bentuk.
Fungsi dan Peran Aksara Lontara dalam Masyarakat Bugis-Makassar
Aksara Lontara digunakan dalam berbagai naskah tradisional Bugis-Makassar seperti kronik sejarah, hukum, catatan harian, dan silsilah, yang menunjukkan perannya sebagai media penulisan pengetahuan dan tradisi masyarakat.
Transformasi dan Tantangan Pelestarian Aksara Lontara
Penggunaan aksara Lontara mengalami penurunan akibat dominasi aksara Latin, globalisasi, dan lemahnya internalisasi budaya, sehingga keberadaannya kini lebih banyak bertahan sebagai warisan sejarah.
Jumlah dan Struktur Huruf Aksara Lontara
Sistem aksara Lontara terdiri atas 23 huruf yang disusun menurut aturan fonetik tersendiri dalam tradisi penulisan Bugis-Makassar. Dalam sistem aksara Lontara tidak dikenal tanda khusus untuk mematikan huruf, sehingga penafsiran bunyi kadang bergantung pada konteks penulisan.
Pentingnya Melestarikan Aksara Lontara
Menjaga keberadaan aksara Lontara berarti melestarikan warisan budaya dan identitas masyarakat Bugis-Makassar. Pelestarian ini menjadi tantangan di tengah arus globalisasi yang semakin kuat.
Upaya Pelestarian oleh Masyarakat dan Akademisi
Upaya pelestarian aksara Lontara masih terbatas, terutama karena hanya diajarkan sebagai muatan lokal dan belum sepenuhnya digunakan dalam kehidupan sehari-hari masyarakat.
Tantangan dan Harapan Pelestarian di Era Digital
Tantangan utama pelestarian aksara Lontara adalah pengaruh globalisasi dan dominasi aksara Latin yang menyebabkan penggunaannya semakin berkurang.
Kesimpulan
Aksara Lontara merupakan bagian penting dari warisan budaya Sulawesi Selatan yang memiliki sejarah panjang dan struktur huruf yang khas. Di tengah tantangan modernisasi, pelestarian aksara Lontara membutuhkan sinergi antara komunitas budaya, akademisi, dan inovasi digital. Upaya ini penting agar aksara Lontara tetap dikenal dan diwariskan untuk generasi berikutnya.
Reviewed by Melody Aria Putri, S.Hum., Gr.