Sejarah Bhinneka Tunggal Ika: Asal Usul dan Peran dalam Integrasi Nasional
Artikel yang membahas seputar ilmu sejarah dalam maupun luar negeri.
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Jejak Sejarah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sejarah Bhinneka Tunggal Ika selalu menjadi bagian penting dalam perjalanan bangsa Indonesia. Semboyan ini bukan sekadar rangkaian kata, tapi mencerminkan semangat persatuan di tengah keberagaman yang ada di Nusantara. Untuk memahami maknanya secara utuh, penting menelusuri asal usul, perkembangan, serta peran Bhinneka Tunggal Ika dalam integrasi nasional.
Asal Usul dan Makna Bhinneka Tunggal Ika
Menurut Buku Bhinneka Tunggal Ika dan Integrasi Nasional oleh Pusat Pengkajian MPR RI, Bhinneka Tunggal Ika merupakan semboyan yang berasal dari Kitab Sutasoma karya Mpu Tantular pada abad ke-14 pada masa Kerajaan Majapahit. Ungkapan ini kemudian diangkat sebagai semboyan resmi Negara Kesatuan Republik Indonesia karena mengandung nilai persatuan yang relevan bagi masyarakat Indonesia yang majemuk.
Latar Belakang Historis dan Filosofis
Pada mulanya, Bhinneka Tunggal Ika digunakan untuk menggambarkan semangat toleransi antara penganut Buddha dan Hindu pada masa Majapahit. Setelah menjadi semboyan negara, maknanya berkembang menjadi simbol persatuan dalam keberagaman suku, agama, ras, budaya, dan golongan yang ada di Indonesia.
Arti Simbolis dalam Konteks Keindonesiaan
Secara simbolis, Bhinneka Tunggal Ika mencerminkan pengakuan terhadap kemajemukan masyarakat Indonesia sekaligus komitmen untuk menjaga persatuan nasional. Semboyan ini menjadi landasan penting dalam membangun identitas bangsa yang menghargai perbedaan tanpa mengabaikan cita-cita kebersamaan sebagai satu negara.
Perkembangan Bhinneka Tunggal Ika dalam Sejarah Indonesia
Makna Bhinneka Tunggal Ika berkembang dari warisan budaya Majapahit menjadi semboyan resmi negara Indonesia. Nilai yang terkandung di dalamnya terus dipertahankan sebagai dasar dalam menjaga persatuan bangsa yang majemuk.
Masa Majapahit dan Sumber Kitab Sutasoma
Bhinneka Tunggal Ika berasal dari Kitab Sutasoma karya Mpu Tantular pada abad ke-14. Dalam konteks Majapahit, ungkapan tersebut digunakan untuk menggambarkan semangat toleransi antara penganut Buddha dan Hindu yang hidup berdampingan dalam satu masyarakat.
Perjalanan Menuju Semboyan Resmi Negara
Pada tahun 1950, Bhinneka Tunggal Ika diangkat sebagai semboyan negara Indonesia dan dicantumkan pada pita yang dicengkeram Garuda Pancasila. Pemilihan semboyan ini mencerminkan komitmen bangsa Indonesia untuk menjaga persatuan di tengah keberagaman suku, agama, ras, budaya, dan golongan.
Bhinneka Tunggal Ika dan Integrasi Nasional
Bhinneka Tunggal Ika berperan besar dalam menjaga integrasi nasional di tengah tantangan zaman.
Peran dalam Menyatukan Keberagaman
Bhinneka Tunggal Ika menjadi simbol persatuan yang menyatukan masyarakat Indonesia yang beragam. Semboyan ini mengajarkan pentingnya toleransi, penghormatan terhadap perbedaan, serta kehidupan yang harmonis di tengah kemajemukan bangsa.
Tantangan dan Relevansi di Era Modern
Di tengah perkembangan masyarakat modern, menjaga persatuan dalam keberagaman tetap menjadi tantangan yang penting. Oleh karena itu, nilai-nilai Bhinneka Tunggal Ika tetap relevan sebagai pedoman dalam memperkuat solidaritas, persatuan, dan integrasi nasional di Indonesia.
Kesimpulan
Sejarah Bhinneka Tunggal Ika mencerminkan upaya bangsa menjaga persatuan di tengah keragaman. Nilai yang terkandung di dalamnya terus relevan hingga saat ini, menjadi pedoman dalam membangun masyarakat yang harmonis dan toleran. Dengan memahami sejarah dan peran Bhinneka Tunggal Ika, kita dapat lebih menghargai pentingnya persatuan dalam kehidupan berbangsa.
Reviewed by Melody Aria Putri, S.Hum., Gr.
Baca Juga: Sejarah Kota dan Jejak Peradabannya di Indonesia