Konten dari Pengguna

Sejarah Budaya Banjar dan Filsafat Hidup Etnis Banjar

J

Jejak Sejarah

Artikel yang membahas seputar ilmu sejarah dalam maupun luar negeri.

·waktu baca 4 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Jejak Sejarah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi Banjar Kalimantan. Foto: Pixabay.
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Banjar Kalimantan. Foto: Pixabay.

Banjar dikenal sebagai salah satu etnis besar di Kalimantan Selatan yang memiliki sejarah budaya panjang dan kaya makna. Identitas masyarakat Banjar dibangun dari perpaduan pengaruh kerajaan, agama, serta adat turun-temurun yang masih lestari hingga kini. Pemahaman tentang sejarah budaya Banjar juga penting untuk mengenal cara pandang hidup dan nilai-nilai utama yang dipegang kuat oleh etnis ini.

Asal Usul dan Sejarah Kesultanan Banjar

Kesultanan Banjar muncul sebagai tonggak penting dalam pembentukan identitas masyarakat Banjar pada abad ke-16. Berdasarkan dokumen Sejarah Kesultanan dan Budaya Banjar karya Sahriansyah, Kesultanan ini terbentuk melalui proses peleburan kerajaan-kerajaan lokal, termasuk Kerajaan Negara Daha, yang kemudian beristana di Bandarmasih. Momentum penting pembentukan Kesultanan Banjar terjadi setelah masuknya pengaruh Islam, terutama sejak kedatangan pasukan Kesultanan Demak yang membantu Pangeran Samudra. Setelah kemenangan tersebut, Pangeran Samudra diangkat sebagai sultan pertama Kesultanan Banjar sekitar tahun 936 H/1526 M, menandai kuatnya interaksi antara adaptasi budaya lokal dan pengaruh luar, khususnya Islam, dalam proses pembentukan kerajaan ini.

Latar Belakang Terbentuknya Kesultanan Banjar

Kesultanan Banjar terbentuk melalui proses integrasi sejumlah kerajaan lokal yang sebelumnya berdiri sendiri. Peleburan Kerajaan Negara Daha dan entitas politik lain ke dalam Kesultanan Banjar menandai lahirnya pusat kekuasaan baru yang berperan penting dalam kehidupan politik dan budaya masyarakat Banjar. Proses integrasi tersebut tidak hanya membentuk sistem pemerintahan kesultanan, tetapi juga memengaruhi struktur sosial dan dinamika budaya di wilayah Banjar.

Perkembangan Politik dan Sosial di Masa Kesultanan

Kesultanan Banjar mengalami perkembangan politik dan sosial yang ditandai oleh sistem pemerintahan yang mengintegrasikan unsur adat dan agama. Dalam praktiknya, urusan keagamaan Islam dibahas dan ditangani oleh penghulu, sementara persoalan hukum sekuler atau adat dikelola oleh jaksa. Pembagian peran ini menunjukkan adanya pemisahan fungsi sekaligus keterpaduan antara adat dan agama dalam tata kelola pemerintahan, yang pada akhirnya memperkuat ikatan sosial dan stabilitas masyarakat Banjar.

Kebudayaan dan Tradisi Banjar

Kebudayaan dan tradisi Banjar memperlihatkan kekhasan dalam adat istiadat, seni, serta tata cara hidup masyarakat sehari-hari. Berdasarkan dokumen Sejarah Kesultanan dan Budaya Banjar karya Sahriansyah, sejak masuk dan berkembangnya Islam, nilai-nilai keagamaan tersebut memberikan pengaruh yang kuat dan menyatu dalam berbagai aspek budaya Banjar. Islam tidak hanya membentuk praktik keagamaan, tetapi juga menjadi identitas utama masyarakat Banjar, sehingga tradisi yang berkembang menjadi bagian tak terpisahkan dari jati diri budaya mereka, khususnya sejak masa Kesultanan Banjar.

Pengaruh Islam dalam Tradisi Banjar

Pengaruh Islam memegang peranan utama dalam membentuk norma dan perilaku sosial masyarakat Banjar. Sejak tahap awal, corak keislaman masyarakat Banjar berkembang dengan nuansa sufistik yang kuat, sehingga ajaran Islam tidak hanya dipahami secara ritual, tetapi juga dihayati dalam kehidupan sehari-hari. Banyak tradisi adat Banjar kemudian diselaraskan dengan nilai-nilai keagamaan, terutama dalam pelaksanaan upacara keagamaan dan peringatan hari besar Islam, yang memperkuat identitas sosial dan budaya masyarakat Banjar sejak masa Kesultanan Banjar.

Filsafat Hidup dan Nilai-nilai Etnis Banjar

Nilai-nilai kehidupan masyarakat Banjar berakar pada filsafat hidup yang diwariskan secara turun-temurun dan dijadikan pedoman dalam kehidupan sehari-hari. Filsafat hidup tersebut membentuk cara pandang masyarakat Banjar terhadap kehidupan, hubungan sosial, serta peran individu dalam komunitas. Pengetahuan dan nilai yang diwariskan ini dipahami sebagai landasan moral dan spiritual yang menuntun masyarakat dalam menjalani kehidupan sosial dan keagamaan, khususnya sejak berkembangnya Kesultanan Banjar.

Prinsip Hidup ‘Bauntung Batuah’ dan Maknanya

Berdasarkan dokumen Sejarah Kesultanan dan Budaya Banjar karya Sahriansyah, dalam filsafat hidup masyarakat Banjar dikenal prinsip Bauntung Batuah yang menjadi pedoman penting dalam menjalani kehidupan. Bauntung dimaknai sebagai keharusan untuk memiliki keterampilan hidup, bekerja secara terus-menerus, dan hidup mandiri, sehingga setiap individu didorong untuk berusaha sungguh-sungguh dalam memenuhi kebutuhan hidupnya. Sementara itu, Batuah dipahami sebagai keberkahan dan kebermanfaatan, yakni nilai bahwa kehidupan seseorang seharusnya memberi manfaat bagi orang lain. Kedua prinsip ini membentuk pandangan hidup masyarakat Banjar yang menekankan kerja keras, kemandirian, serta orientasi pada keberkahan sosial, dan berkembang kuat dalam kerangka nilai budaya sejak masa Kesultanan Banjar.

Nilai Gotong Royong dan Kearifan Lokal

Dalam kehidupan masyarakat Banjar, kearifan lokal tercermin melalui nilai kebermanfaatan sosial yang kuat. Prinsip batuah menekankan bahwa seseorang tidak hanya hidup untuk dirinya sendiri, tetapi harus memberi manfaat bagi orang lain melalui amal kebajikan, ilmu yang berguna, dan iman yang kokoh. Nilai ini membentuk sikap kebersamaan, kepedulian sosial, dan solidaritas dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Banjar, yang berkembang sebagai bagian dari etika sosial sejak masa Kesultanan Banjar.

Kesimpulan

Sejarah budaya Banjar memperlihatkan perjalanan panjang pembentukan identitas melalui integrasi adat, pengaruh kerajaan, serta agama yang kental. Nilai-nilai hidup seperti ‘Bauntung Batuah’ dan gotong royong terbukti menjadi fondasi kuat yang membimbing masyarakat Banjar dalam kehidupan sehari-hari. Memahami sejarah budaya Banjar dan filsafat hidup etnis Banjar akan memperkaya wawasan tentang keberagaman budaya Indonesia.

Reviewed by Melody Aria Putri, S.Hum., Gr.

Baca Juga: https://kumparan.com/jejaksejarah/sejarah-kota-jejak-perkembangan-peradaban-perkotaan-di-indonesia-26YNjCO8qU0