Sejarah dan Fungsi Kolintang Minahasa: Warisan Musik Tradisional Indonesia
Artikel yang membahas seputar ilmu sejarah dalam maupun luar negeri.
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Jejak Sejarah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Kolintang Minahasa dikenal sebagai salah satu alat musik tradisional yang memiliki sejarah panjang di Indonesia. Suara khas yang dihasilkan dari bilah kayu ini telah menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat Minahasa, Sulawesi Utara. Kolintang bukan sekadar alat musik, tetapi juga cerminan identitas budaya yang terus dijaga hingga kini.
Apa itu Kolintang?
Menurut artikel Pelestarian Musik Kolintang di Desa Maumbi Kecamatan Kalawat oleh Navaro Hendrik dkk., Kolintang atau kulintang adalah alat musik berupa deretan gong kecil yang disusun mendatar dan dimainkan bersama gong besar serta drum. Alat ini merupakan bagian dari budaya gong Asia Tenggara yang berkembang berabad-abad di wilayah Filipina, Indonesia Timur, Malaysia Timur, Brunei, dan Timor, dengan pengaruh Hindu, Buddha, Islam, Kristen, dan Barat.
Asal Nama Kolintang
Di Indonesia, kolintang dikenal sebagai alat musik perkusi bernada dari kayu asal Minahasa, Sulawesi Utara, menggunakan kayu ringan namun kuat seperti telur, wenuang, cempaka, dan waru. Nama “kolintang” berasal dari bunyi nadanya: tong (rendah), ting (tinggi), dan tang (biasa), yang kemudian menjadi sebutan untuk alat musik tersebut.
Sejarah Kolintang Minahasa
Latar Belakang Loudewik Supit Kaligis
Loudewik Supit Kaligis lahir di Tumatangtang Sarongsong, Tomohon (16 Agustus 1921). Sejak usia 15 tahun menjadi yatim piatu dan tulang punggung keluarga. Ia berhenti sekolah dan bekerja sebagai pengrajin sapu ijuk. Berbekal kemampuan bermain biola, ia memimpin Orkes Symphony Maesa yang kerap tampil di berbagai acara masyarakat.
Awal Mengenal Kolintang
Saat tampil bersama Orkes Symphony dari Lembean, Loudewik melihat alat musik kayu sederhana yang menghasilkan bunyi indah ketika dipukul. Alat tersebut dimainkan oleh penciptanya dan dikenal sebagai kolintang. Tertarik, ia belajar memainkan sekaligus membuatnya di Lembean.
Pengembangan Kolintang Modern
Sepulangnya ke Tomohon, Loudewik mengembangkan kolintang dengan menambah 15 bilah nada (dua oktaf) dan menuliskan not angka agar mudah dimainkan. Kolintang kemudian dipadukan dengan alat musik petik dan menjadi identitas baru orkesnya. Popularitasnya meningkat, bahkan tampil pada perayaan Kemerdekaan RI dan berbagai undangan resmi.
Pengakuan dan Inovasi Nasional
Kolintang diajarkan di SD Negeri VIII Wanea Manado dan pada 1964 tampil di Istana Negara. Presiden mengesahkan kolintang sebagai musik asal Minahasa. Terinspirasi dari piano, Loudewik mengembangkan kolintang dengan tangga nada kromatis serta membuat varian seperti ukulele, gitar, selo, dan kontra bass versi kolintang.
Warisan dan Pengabdian
Pada 1970 ia membentuk grup Musik Kolintang Melulu Kaligis Bersaudara. Tahun 1969 diangkat sebagai pegawai P dan K Sulawesi Utara serta pelatih kolintang. Loudewik terus berkarya hingga wafat pada 18 Agustus 1991, meninggalkan warisan penting bagi perkembangan musik kolintang di Indonesia.
Pelestarian Kolintang di Desa Maumbi
Seiring berjalannya waktu, tradisi kolintang di Minahasa menghadapi tantangan modernisasi. Namun, berbagai upaya pelestarian tetap dilakukan, salah satunya di Desa Maumbi. Pelestarian kolintang di Desa Maumbi dilakukan melalui latihan rutin, pembinaan pemain, serta melibatkan generasi muda agar kesenian ini tetap bertahan.
Fungsi Kolintang Minahasa
Fungsi Sosial dan Budaya
Kolintang berfungsi sebagai media hiburan dan kegiatan sosial yang memberikan dampak positif bagi masyarakat serta memperkuat kebersamaan.
Fungsi Kolintang dalam Upacara Adat
Kolintang digunakan dalam berbagai upacara adat seperti pernikahan dan ritual tradisional sebagai pengiring kegiatan masyarakat.
Kesimpulan
Kolintang Minahasa bukan hanya sekadar alat musik tradisional, melainkan warisan budaya yang memiliki nilai sejarah dan fungsi penting dalam kehidupan masyarakat. Upaya pelestarian yang terus dilakukan membuktikan bahwa kolintang tetap relevan di tengah perkembangan zaman. Dengan memahami sejarah dan fungsi kolintang Minahasa, kekayaan budaya Indonesia dapat terus dihargai dan dijaga keberlangsungannya.
Reviewed by Melody Aria Putri, S.Hum., Gr.
Baca Juga: Mengenal Budaya Indonesia sebagai Warisan Keragaman dan Identitas Nusantara