Sejarah dan Geografi Kota Kendari: Informasi Lengkap
Artikel yang membahas seputar ilmu sejarah dalam maupun luar negeri.
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Jejak Sejarah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Kota Kendari merupakan salah satu pusat pertumbuhan di Sulawesi Tenggara yang terus berkembang pesat. Tidak hanya dikenal sebagai ibu kota provinsi, Kendari juga menyimpan sejarah panjang serta karakter geografis yang unik. Artikel ini akan membahas sejarah Kendari, kondisi geografis, hingga fakta menarik yang layak diketahui.
Sejarah Kota Kendari
Kendari memiliki perjalanan sejarah yang menarik sejak masa awal berdirinya. Menurut laman resmi Diskominfo Kota Kendari, sejarah Kendari berawal dari komunitas masyarakat pesisir yang kemudian berkembang menjadi pusat perdagangan di kawasan timur Indonesia.
Latar Sejarah Awal Kendari
Sejak masa awal, Teluk Kendari telah dikenal sebagai jalur persinggahan perdagangan laut Nusantara dan Eropa, khususnya pada rute menuju Maluku. Dalam kartografi Portugis awal abad ke-15, wilayah ini telah ditandai sebagai permukiman di pesisir timur Sulawesi. Dalam tradisi lisan suku Tolaki, kawasan Teluk Kendari dikenal sebagai Lipu I Pambandahi dan Wonua I Pambandokooha, yang merupakan bagian dari wilayah pesisir Kerajaan Konawe. Perkembangan Kendari bermula dari berdirinya Kerajaan Laiwoi dan kedatangan pelaut Belanda, Jacques Nicholas Vosmaer.
Masa Kolonial dan Perkembangan Pelabuhan
Pada tahun 1828, Vosmaer melakukan observasi jalur perdagangan di pesisir timur Sulawesi. Peta pertama Teluk Kendari dibuat pada 9 Mei 1831, yang kemudian diperingati sebagai hari jadi Kota Kendari. Sejak 1835, teluk ini dikenal sebagai Vosmaer’s Baai. Keamanan teluk menjadikan Kendari sebagai pelabuhan transit dan pusat penimbunan barang, sehingga menarik kedatangan berbagai kelompok etnis dan mendorong pertumbuhan permukiman serta aktivitas perdagangan.
Asal Usul Nama Kendari
Nama Kendari berasal dari kata “kandai”, alat dari bambu atau kayu yang digunakan masyarakat setempat untuk mendorong perahu. Suku Tolaki merupakan penduduk asli wilayah ini.
Perkembangan Pemerintahan Daerah
Pada masa kolonial Belanda dan pendudukan Jepang, Kendari berstatus sebagai ibu kota Onder Afdeling Laiwoi. Tahun 1950, wilayah ini menjadi Swapraja Laiwoi, dan setelah wafatnya Raja Tekaka (1955), Kendari berkembang menjadi ibu kota kabupaten berdasarkan Undang-Undang Nomor 29 Tahun 1959.
Melalui Perpu Nomor 2 Tahun 1964 jo. UU Nomor 13 Tahun 1964, Kendari ditetapkan sebagai Ibu Kota Provinsi Sulawesi Tenggara. Selanjutnya, Kendari berstatus Kota Administratif pada tahun 1978, sebelum ditingkatkan menjadi Kotamadya Daerah Tingkat II melalui Undang-Undang Nomor 6 Tahun 1995.
Kendari sebagai Kota Otonom
Dengan berlakunya Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1999, status Kotamadya Daerah Tingkat II Kendari berubah menjadi Kota Kendari sebagai daerah otonom. Sejak saat itu, sistem pemerintahan kota berkembang dari pemilihan wali kota oleh DPRD hingga pemilihan langsung oleh masyarakat. Seiring pertumbuhan wilayah dan penduduk, Kendari berkembang menjadi pusat pemerintahan, ekonomi, dan budaya Provinsi Sulawesi Tenggara dengan masyarakat yang multietnis.
Kondisi Geografis Kendari
Kondisi geografis Kendari menurut Kota Kendari dalam Angka 2025 oleh BPS Kota Kendari, secara astronomis, Kota Kendari terletak di selatan garis khatulistiwa, yakni pada koordinat 3°54’40’’–4°05’05’’ Lintang Selatan dan 122°26’33’’–122°39’14’’ Bujur Timur. Berdasarkan letak geografisnya, Kota Kendari berbatasan dengan Kabupaten Konawe di sebelah utara, Laut Kendari di sebelah timur, serta Kabupaten Konawe Selatan di bagian selatan dan barat.
Secara spasial, wilayah Kota Kendari berada di bagian tenggara Pulau Sulawesi, dengan wilayah daratan yang mengelilingi Teluk Kendari. Luas daratan Kota Kendari mencapai 270,18 km², atau sekitar 0,7 persen dari total luas daratan Provinsi Sulawesi Tenggara.
Penduduk dan Ekonomi
Jumlah penduduk Kendari yang termasuk dalam kelompok usia kerja (15 tahun ke atas) tercatat sebanyak 272.906 jiwa. Kelompok usia ini merupakan komponen penting dalam struktur demografi kota karena berperan langsung dalam penyediaan tenaga kerja, aktivitas ekonomi, serta pembangunan sosial dan ekonomi di Kota Kendari.
Potensi Wisata dan Budaya Lokal
Kendari menawarkan beragam destinasi menarik baik di darat maupun di laut. Berdasarkan laman resmi Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Kendari, kota ini menyuguhkan wisata alam seperti Kayangan Api, sumber api abadi di hutan lindung yang unik dan sarat cerita lokal, serta Waduk Pacal dengan panorama alam dan fasilitas rekreasi airnya. Selain itu, wisata agro seperti perkebunan belimbing dan salak memungkinkan pengunjung memetik buah langsung dari pohon, memberikan pengalaman wisata yang berbeda.
Kendari juga memiliki kekayaan kesenian dan budaya tradisional yang masih dilestarikan hingga kini, seperti Wayang Thengul, Wayang Krucil, Tari Thengul, dan Tari Tayub Kendari. Berbagai bentuk seni tersebut ditampilkan dalam kegiatan adat, penyambutan tamu, serta perayaan budaya, dan berfungsi tidak hanya sebagai hiburan, tetapi juga sebagai media pelestarian nilai sejarah dan identitas budaya masyarakat Kendari.
Kesimpulan
Sejarah dan geografi Kendari memberikan gambaran tentang identitas kota yang dinamis dan penuh potensi. Dengan letaknya yang strategis dan perkembangan pesat di berbagai sektor, Kendari terus memperkuat peranannya di Sulawesi Tenggara. Memahami sejarah, kondisi geografis, dan keunikan lokal menjadi bekal penting untuk mengenal kota ini lebih dekat.
Reviewed by Melody Aria Putri, S.Hum., Gr.