Sejarah dan Geografi Parepare: Menyingkap Kota di Sulawesi Selatan
Artikel yang membahas seputar ilmu sejarah dalam maupun luar negeri.
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Jejak Sejarah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Parepare dikenal sebagai salah satu kota penting di pesisir barat Sulawesi Selatan. Kota ini menarik perhatian karena sejarahnya yang kaya dan letak geografisnya yang strategis. Tak heran jika Parepare sering disebut sebagai pintu gerbang perdagangan di wilayah sekitarnya.
Sejarah Awal dan Terbentuknya Wilayah Parepare
Pada awal perkembangannya, wilayah yang kini dikenal sebagai Kota Parepare berupa perbukitan yang ditumbuhi semak belukar secara liar dan tidak teratur, diselingi lubang-lubang tanah miring. Wilayah ini membentang dari Cappa Ujung di utara hingga ke arah selatan. Seiring perjalanan sejarah dan pemanfaatan ruang, kawasan tersebut berkembang dan kemudian dinamai Parepare.
Kerajaan Soreang dan Bacukiki
Menurut laman DPMPTSP Provinsi Sulawesi Selatan, dalam Lontara Kerajaan Suppa, sekitar abad ke-14 seorang putra Raja Suppa meninggalkan istana dan mendirikan wilayah di pesisir selatan karena kegemarannya memancing. Wilayah ini kemudian dikenal sebagai Kerajaan Soreang. Selanjutnya, pada abad ke-15, berdiri Kerajaan Bacukiki yang turut membentuk struktur politik awal di kawasan Parepare.
Asal-Usul Nama Parepare
Sebagian sumber mengaitkan nama Parepare dengan kunjungan Raja Gowa XI, Tunipallangga (1547–1566), yang terkesan dengan keindahan kawasan antara Bacukiki dan Soreang. Ungkapan “Bajiki Ni Pare” (dibuat dengan baik) diyakini menjadi asal penamaan Parepare, terutama karena fungsinya sebagai pelabuhan strategis yang ramai dikunjungi pedagang, termasuk dari kalangan Melayu.
Dalam bahasa Bugis, Parepare juga bermakna “kain penghias” yang digunakan dalam upacara adat, seperti pernikahan. Makna ini tercatat dalam naskah sastra Lontara La Galigo, yang menunjukkan bahwa istilah Parepare telah dikenal luas dalam tradisi budaya Bugis.
Parepare sebagai Pusat Kolonial Belanda
Karena letaknya yang strategis sebagai pelabuhan alami yang terlindungi, Parepare menjadi incaran Belanda. Wilayah ini kemudian dijadikan pusat kekuasaan kolonial di bagian tengah Sulawesi Selatan dan basis ekspansi ke wilayah Ajatappareng, serta kawasan timur dan utara Sulawesi Selatan.
Struktur Pemerintahan Hindia Belanda
Pada masa Hindia Belanda, Parepare berstatus sebagai Afdeling Parepare yang dipimpin oleh Asisten Residen dan Controlur (Gezag Hebber). Afdeling ini mencakup Barru, Sidenreng Rappang, Enrekang, Pinrang, dan Parepare. Pemerintahan kolonial didukung oleh penguasa lokal Bugis, seperti Arung dan Addatuang di masing-masing wilayah. Struktur ini berlangsung hingga berakhirnya pemerintahan Hindia Belanda pada tahun 1942, seiring pecahnya Perang Dunia II.
Perubahan Status Pasca-Kemerdekaan
Setelah kemerdekaan Indonesia tahun 1945, sistem pemerintahan daerah disesuaikan dengan peraturan nasional, khususnya Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1945 dan Undang-Undang Nomor 2 Tahun 1948. Jabatan kolonial seperti Asisten Residen dihapus dan digantikan oleh Kepala Pemerintahan Negeri.
Penetapan Parepare sebagai Kota
Melalui Undang-Undang Nomor 29 Tahun 1959, wilayah Afdeling Parepare dimekarkan. Empat onder afdeling menjadi kabupaten tingkat II, sementara Parepare ditetapkan sebagai Kota Praja Tingkat II. Istilah Kota Praja kemudian berubah menjadi Kotamadya, dan selanjutnya menjadi “Kota” sebagaimana dikenal saat ini. Berdasarkan pelantikan Wali Kotamadya pertama, H. Andi Mannaungi, pada 17 Februari 1960, maka tanggal tersebut ditetapkan sebagai hari jadi Kota Parepare melalui SK DPRD No. 3 Tahun 1970.
Kondisi Geografis Parepare
Berdasarkan dokumen Kota Parepare dalam Angka 2025 oleh BPS Kota Parepare, luas wilayah Parepare mencapai 99,33 km² yang terbagi ke dalam 4 kecamatan dan 22 kelurahan. Kecamatan Bacukiki merupakan wilayah terluas dengan luas sekitar 66,70 km² atau 67,15 persen dari total luas kota. Secara astronomis, Parepare terletak pada 3°57’39”–4°04’59” Lintang Selatan dan 119°36’24”–119°43’40” Bujur Timur. Adapun batas wilayahnya meliputi Kabupaten Pinrang di utara, Kabupaten Barru di selatan, Kabupaten Sidenreng Rappang di timur, dan Selat Makassar di barat.
Demografi Kota Parepare
Berdasarkan data Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kota Parepare, jumlah penduduk Parepare pada tahun 2024 tercatat sebanyak 163.314 jiwa, terdiri atas 81.252 laki-laki dan 82.062 perempuan. Ditinjau menurut kecamatan, Kecamatan Soreang memiliki jumlah penduduk terbanyak dengan 49.097 jiwa, disusul Kecamatan Bacukiki Barat sebanyak 48.305 jiwa, Kecamatan Ujung sebanyak 37.020 jiwa, dan Kecamatan Bacukiki sebagai wilayah dengan jumlah penduduk paling sedikit, yakni 28.892 jiwa.
Kesimpulan
Sejarah dan geografi Parepare menunjukkan betapa pentingnya kota ini di Sulawesi Selatan. Mulai dari asal usul nama, perkembangan kota, hingga posisinya sebagai pusat ekonomi tidak bisa dipisahkan dari identitas Parepare.
Dengan potensi wilayah yang besar dan letak strategis, Parepare memiliki peluang untuk terus tumbuh sebagai kota kunci di pesisir barat Sulawesi Selatan. Kota ini layak diperhitungkan dalam peta perekonomian dan budaya kawasan.
Reviewed by Melody Aria Putri, S.Hum., Gr.