Konten dari Pengguna

Sejarah dan Geografi Tidore Kepulauan: Menyelami Kota di Maluku Utara

J

Jejak Sejarah

Artikel yang membahas seputar ilmu sejarah dalam maupun luar negeri.

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Jejak Sejarah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi Gunung Kie Matubu, Tidore. Foto: Pixabay.
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Gunung Kie Matubu, Tidore. Foto: Pixabay.

Tidore Kepulauan dikenal sebagai salah satu kota bersejarah di Maluku Utara. Wilayah ini bukan saja kaya nilai budaya, namun juga memiliki peta geografis yang unik dan peran penting di masa kini. Artikel ini membahas sejarah serta geografi Tidore Kepulauan secara ringkas dan informatif.

Sejarah Awal (Pemerintahan Kesultanan)

Berdasarkan dokumen RPJMD Kota Tidore Kepulauan 2021-2026, pemerintahan Tidore berakar pada sistem Kesultanan yang telah berlangsung sekitar 900 tahun, berkembang dari konsep Kolano se i rayat menuju Kolano se ibobato Dunya se Akhirat, yakni pemerintahan Sultan bersama aparat dunia dan agama. Struktur pemerintahan terbagi atas pusat Kesultanan di Soasio dan wilayah nyili sebagai daerah kekuasaan.

Moloku Kie Raha dan Wilayah Kekuasaan

Kesultanan Tidore merupakan bagian dari Moloku Kie Raha, bersama Kesultanan Ternate, Bacan, dan Jailolo. Wilayah kekuasaannya mencakup sebagian Maluku hingga Papua, menjadikan Tidore sebagai salah satu kekuatan politik penting di kawasan timur Nusantara.

Nilai Adat dan Kehidupan Sosial

Pemerintahan dan kehidupan sosial masyarakat Tidore berlandaskan falsafah adat bersendikan agama. Nilai gotong royong dan solidaritas sosial tercermin dalam praktik budaya seperti maya’e dan mabari. Bahasa Tidore menjadi bahasa utama dalam interaksi sehari-hari.

Tidore dalam Sejarah Rempah dan Tokoh Penting

Tidore dikenal sebagai bandar rempah dunia sejak abad ke-7 dan menjadi tujuan ekspedisi maritim Eropa pada abad ke-16. Kota ini juga melahirkan tokoh-tokoh penting seperti Sultan Nuku, serta Sultan Zainal Abidin Syah yang berperan dalam integrasi Irian Barat ke dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Geografis Tidore Kepulauan

Menurut dokumen Kota Tidore Kepulauan dalam Angka 2025 oleh BPS Kota Tidore Kepulauan, Kota Tidore Kepulauan merupakan daerah otonom yang dibentuk berdasarkan Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2003, bersamaan dengan pembentukan Kabupaten Halmahera Utara, Kabupaten Halmahera Selatan, Kabupaten Halmahera Timur, dan Kabupaten Kepulauan Sula. Secara geografis, Kota Tidore Kepulauan berbatasan dengan Kota Ternate dan Kabupaten Halmahera Barat di sebelah utara, Kabupaten Halmahera Selatan serta Pulau Moti di sebelah selatan, Kabupaten Halmahera Timur dan Kabupaten Halmahera Tengah di sebelah timur, serta Laut Maluku di sebelah barat.

Luas Wilayah dan Administratif

Berdasarkan data Badan Informasi Geospasial, luas wilayah Kota Tidore Kepulauan mencapai 1.703,32 km². Wilayah ini memiliki karakter sebagai daerah kepulauan yang terdiri atas 11 pulau dan terbagi ke dalam delapan kecamatan. Seperti wilayah lain di Provinsi Maluku Utara, Kota Tidore Kepulauan beriklim tropis yang sangat dipengaruhi oleh kondisi iklim laut, dengan karakteristik cuaca yang relatif heterogen.

Pertumbuhan Ekonomi di Tidore Kepulauan

Menurut dokumen RPJMD Kota Tidore Kepulauan 2021-2026, dalam kurun waktu 2016–2020, struktur perekonomian Kota Tidore Kepulauan didominasi oleh tiga sektor utama, yaitu Administrasi Pemerintahan, Pertahanan, dan Jaminan Sosial Wajib; Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan; serta Perdagangan Besar dan Eceran termasuk reparasi mobil dan sepeda motor. Dominasi ketiga sektor tersebut tercermin dari kontribusinya yang paling besar terhadap pembentukan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Kota Tidore Kepulauan.

Kesimpulan

Tidore Kepulauan merupakan kota di Maluku Utara yang menyimpan sejarah panjang dan kekayaan geografis. Perkembangan wilayah ini terus bergerak maju lewat peran strategisnya di bidang ekonomi dan transportasi. Dengan segala potensi yang dimiliki, Tidore Kepulauan layak menjadi perhatian dalam peta pembangunan Indonesia timur.

Reviewed by Melody Aria Putri, S.Hum., Gr.