Konten dari Pengguna

Sejarah dan Identitas Budaya Madura: Warisan, Nilai, dan Transformasi

J

Jejak Sejarah

Artikel yang membahas seputar ilmu sejarah dalam maupun luar negeri.

·waktu baca 4 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Jejak Sejarah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi Jembatan Suramadu. Foto: Pixabay.
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Jembatan Suramadu. Foto: Pixabay.

Pulau Madura dikenal luas berkat kekayaan sejarah dan budayanya yang khas. Identitas masyarakat Madura terbentuk melalui perjalanan panjang yang dipengaruhi oleh berbagai peristiwa penting serta tradisi yang terus dijaga hingga kini. Dengan memahami sejarah dan identitas budaya Madura, masyarakat dapat melihat bagaimana warisan leluhur tetap relevan di tengah perubahan zaman.

Sejarah Madura

Madura pada Masa Kerajaan Hindu Jawa Timur (900–1500)

Menurut laman resmi Ditjen Perbendaharaan Kemenkeu RI KPPN Kediri, pada kurun waktu abad ke-10 hingga ke-15, Madura berada di bawah pengaruh kerajaan-kerajaan Hindu Jawa Timur seperti Kediri, Singhasari, dan Majapahit. Tokoh penting pada masa ini adalah Aria Wiraraja, yang diangkat sebagai Adipati pertama Madura oleh Raja Kertanegara pada 31 Oktober 1269. Pusat pemerintahannya berada di Batuputih, Sumenep, yang menjadi keraton pertama di Madura. Aria Wiraraja juga berperan penting dalam membantu Raden Wijaya saat menghadapi serangan pasukan Mongol.

Madura, VOC, dan Pemberontakan Trunojoyo

Kekayaan Madura berupa garam, tembakau, dan cengkih menarik perhatian VOC. Konflik memuncak pada abad ke-17 saat Trunojoyo memimpin perlawanan terhadap Mataram dan VOC. Ia sempat membantu Adipati Anom dalam konflik dengan Amangkurat I, namun setelah naik tahta sebagai Amangkurat II, Adipati Anom justru berbalik memusuhi Trunojoyo. Dengan dukungan VOC, Arung Palakka, dan pasukan kerajaan, Trunojoyo ditangkap dan wafat pada 2 Januari 1680.

Syaikhona Kholil Bangkalan dan Jaringan Ulama Nusantara

Pada 25 Mei 1835 lahir Syaikhona Kholil Bangkalan, ulama besar Madura yang nasabnya bersambung hingga Sunan Gunung Jati. Ia menjadi guru bagi tokoh-tokoh penting seperti Hasyim Asy’ari dan Wahab Chasbullah, pendiri Nahdlatul Ulama, serta ulama besar lain yang mendirikan pesantren-pesantren berpengaruh di Jawa. Bahkan, secara simbolik Bung Karno muda pernah menerima restu spiritual dari Mbah Kholil.

Pemikiran Kebangsaan dan Karomah Mbah Kholil

Mbah Kholil menanamkan gagasan Hubbul Wathan, penguatan pendidikan, dan sinergi perjuangan fisik-spiritual. Selain pemikirannya, ia juga dikenal memiliki karomah, salah satunya kisah pembagian uang kepada masyarakat yang tetap berlangsung meski dirinya berada dalam tahanan Belanda.

Gagasan dan Realisasi Jembatan Suramadu

Sejak 1960-an, Prof. Dr. Sedyatmo mengusulkan pembangunan jembatan penghubung Jawa–Madura guna mengatasi ketertinggalan ekonomi Madura. Usulan ini baru terwujud pada 20 Agustus 2003 dengan peletakan batu pertama oleh Presiden Megawati Soekarnoputri, dan diresmikan pada 10 Juni 2009 oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Jembatan Suramadu sepanjang 5.438 meter menjadi simbol konektivitas dan kebanggaan nasional karena dirancang dan dibangun oleh putra-putri bangsa.

Identitas Budaya Madura

Menurut artikel Identitas Budaya Madura oleh Taufiqurrahman, budaya Madura dikenal dengan nilai-nilai yang kuat dan simbol tradisi yang khas. Nilai-nilai ini membentuk karakter masyarakat, sekaligus menjadi ciri yang mudah dikenali oleh masyarakat luas.

Nilai-nilai Utama dalam Budaya Madura

Masyarakat Madura sangat menjunjung tinggi kehormatan dan solidaritas. Nilai “kehormatan” atau “harga diri” menjadi landasan dalam berinteraksi dan mengambil keputusan. Namun penghormatan yang berlebihan atas martabat dan harga diri etniknya itu seringkali menjadi akar penyebab dari berbagai konflik dan kekerasan, seperti Carok yang merupakan pembelaan harga diri ketika seseorang merasa martabatnya terinjak-injak oleh orang lain.

Bahasa dan Kearifan Lokal

Bahasa Madura menjadi alat utama dalam melestarikan kearifan lokal. Melalui bahasa, nilai-nilai dan cerita leluhur diwariskan dari generasi ke generasi.

Transformasi Budaya Madura dalam Era Modern

Modernisasi membawa tantangan baru bagi budaya Madura. Namun, masyarakat Madura mampu menyesuaikan diri tanpa meninggalkan identitas aslinya.

Tantangan dan Pelestarian Budaya

Identitas budaya Madura menghadapi tantangan serius akibat arus modernisasi dan kehidupan perantauan, yang mendorong sebagian masyarakat menyembunyikan atau melucuti identitas kulturalnya dalam interaksi sosial. Namun, upaya pelestarian terus dilakukan melalui berbagai program pemerintah serta peran aktif masyarakat.

Kesimpulan

Sejarah dan identitas budaya Madura merupakan hasil perjalanan panjang yang penuh dinamika. Nilai-nilai, simbol tradisi, dan kearifan lokal menjadi bagian penting dalam menjaga karakter masyarakat Madura. Di tengah arus globalisasi, Madura tetap berupaya mempertahankan identitas budayanya agar tidak hilang ditelan zaman.

Reviewed by Melody Aria Putri, S.Hum., Gr.