Sejarah dan Makna Ondel-Ondel bagi Masyarakat Betawi
Artikel yang membahas seputar ilmu sejarah dalam maupun luar negeri.
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Jejak Sejarah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ondel-ondel dikenal sebagai boneka raksasa yang kerap tampil dalam berbagai perayaan di Jakarta. Keberadaannya telah menjadi bagian dari pemandangan khas Betawi dan mengundang rasa ingin tahu banyak orang. Di balik bentuknya yang unik, ondel-ondel menyimpan sejarah panjang dan makna mendalam bagi masyarakat Betawi.
Apa itu Ondel-Ondel?
Menurut artikel Ondel-Ondel sebagai Ikon Seni Tradisi Betawi oleh Yeni Handayani dkk., Ondel-Ondel merupakan boneka raksasa khas Betawi berukuran kurang lebih ±2,5 meter yang pada awalnya dipahami sebagai budaya sakral dan digunakan dalam ritual pengorbanan kepada roh leluhur serta berfungsi sebagai sarana tolak bala.
Asal Usul dan Perkembangan
Asal-usulnya belum diketahui secara pasti, namun diduga telah ada sejak abad ke-17. Catatan sejarah menyebutkan adanya boneka raksasa dalam arak-arakan kerajaan di wilayah Banten dan Jayakarta. Pada masa awal kemunculannya, Ondel-Ondel diyakini sebagai perwujudan danyang desa atau penolak bala yang berfungsi mengusir roh jahat.
Pengaruh Budaya dan Akulturasi
Sebagai masyarakat pesisir, Betawi banyak dipengaruhi budaya Tionghoa, Arab, India, Portugis, Belanda, dan Bali. Beberapa ahli menduga adanya kemiripan antara Barongan Betawi dan Barong Bali akibat interaksi budaya pada masa lalu.
Akulturasi ini terlihat dalam busana, musik pengiring, dan ragam hias Ondel-Ondel. Perubahan tersebut memperkaya makna simbolik Ondel-Ondel dalam konteks sosial, politik, dan budaya masyarakat Jakarta.
Perubahan Fungsi Sosial
Pada awalnya, Ondel-Ondel memiliki fungsi sakral dan berkaitan dengan kepercayaan animisme serta dinamisme. Boneka ini dipercaya sebagai mediator roh leluhur dan pelindung masyarakat. Bentuknya pun lebih besar dan berwajah menyeramkan dibandingkan sekarang.
Seiring perkembangan zaman dan meningkatnya pemahaman agama masyarakat, unsur-unsur mistis seperti sesaji dan ritual mulai ditinggalkan. Ondel-Ondel kemudian mengalami perubahan fungsi menjadi kesenian hiburan rakyat yang tampil dalam festival, pernikahan, khitanan, dan berbagai acara adat Betawi.
Makna Ondel-Ondel bagi Masyarakat Betawi
Makna Ondel-Ondel bagi masyarakat Betawi pada awalnya berkaitan dengan kesakralan sebagai personifikasi roh leluhur yang dipercaya mampu melindungi masyarakat dari gangguan metafisik dan menangkal roh jahat.
Nilai Simbolis dan Filosofis
Nilai simbolis Ondel-Ondel tampak pada warna wajahnya, di mana boneka laki-laki berwarna merah melambangkan kejahatan dan boneka perempuan berwarna putih melambangkan kebaikan, sehingga keduanya merepresentasikan keseimbangan dua kekuatan yang selalu berpasangan.
Hiasan kepala berbentuk bunga kelapa mencerminkan identitas Jakarta sebagai kota pelabuhan Sunda Kelapa. Busana kebaya encim pada Ondel-Ondel perempuan menunjukkan pengaruh Tionghoa, sedangkan pakaian sadaria dan sarung cukin pada Ondel-Ondel laki-laki mencerminkan pengaruh Arab dan tradisi Betawi. Motif floral dan batik Betawi pada selendang melambangkan kesuburan dan kekayaan alam.
Ondel-Ondel sebagai Identitas Budaya
Ondel-Ondel dipilih sebagai citra seni tradisional yang mewakili kota Jakarta dan menjadi simbol budaya Betawi, bahkan diakui masyarakat sebagai objek wisata unggulan yang memperkuat identitas lokal.
Kesimpulan
Sejarah ondel-ondel menunjukkan perjalanan budaya Betawi yang dinamis dan penuh makna. Keberadaan ondel-ondel sebagai simbol perlindungan dan identitas budaya menjadikannya tetap relevan hingga kini. Melestarikan ondel-ondel berarti menjaga warisan budaya Betawi agar tetap hidup di tengah arus modernisasi.
Reviewed by Melody Aria Putri, S.Hum., Gr.
Baca Juga: Memahami Seni Tradisional Nusantara, Mulai dari Tari hingga Upacara Adat