Konten dari Pengguna

Sejarah dan Makna Reog Ponorogo: Mengungkap Warisan Budaya Nusantara

J

Jejak Sejarah

Artikel yang membahas seputar ilmu sejarah dalam maupun luar negeri.

·waktu baca 5 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Jejak Sejarah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi Reog Ponorogo. Foto: Unsplash.
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Reog Ponorogo. Foto: Unsplash.

Reog Ponorogo telah menjadi salah satu ikon seni pertunjukan tradisional di Indonesia. Pertunjukan ini tidak hanya memukau dengan kemegahan topeng dan gerakannya, namun juga menyimpan sejarah panjang serta filosofi mendalam. Melalui artikel ini, pembaca akan menemukan bagaimana Reog Ponorogo berkembang dan tetap lestari hingga saat ini.

Asal-Usul dan Perkembangan Reog Ponorogo

Membahas sejarah Reog Ponorogo tidak bisa dilepaskan dari kisah legenda dan perjalanan budaya masyarakat Jawa Timur. Menurut buku Reyog Ponorogo oleh Hartono, asal-usul kelahiran Reog Ponorogo belum dapat dipastikan secara jelas, sehingga penjelasan mengenai awal kemunculannya masih bersifat dugaan.

Bentuk Awal dan Perubahan Reog

Bentuk awal Reog belum diketahui secara pasti, namun diperkirakan mengalami perubahan. Salah satu perubahan terjadi sekitar tahun 1940, yaitu penghapusan penari pembentuk tubuh harimau demi meningkatkan kelincahan gerak pertunjukan.

Masa Kolonial Belanda

Pada masa Belanda, Reog tidak mendapat pembinaan sehingga perkembangannya lambat. Organisasi belum rapi dan sering terjadi konflik antarkelompok. Meski demikian, Reog tetap menumbuhkan semangat perjuangan masyarakat.

Masa Pendudukan Jepang

Kegiatan Reog hampir hilang, namun nilai kepahlawanan dan semangat perjuangan tetap hidup dalam masyarakat.

Masa Awal Kemerdekaan

Setelah 1945, Reog berkembang kembali dan hampir setiap desa memiliki kelompok Reog. Namun, kesenian ini sempat dimanfaatkan sebagai alat mobilisasi massa dan terpengaruh kepentingan politik, sehingga mutu seni menurun.

Krisis Tahun 1965

Organisasi Reyog terpecah karena pengaruh politik dan kehilangan fungsi seni. Setelah 1965, kegiatan Reyog sempat dihentikan sementara.

Kebangkitan dan Modernisasi

Reog bangkit kembali melalui dukungan budayawan dan pemerintah. Pertunjukan massal, inovasi seni, dan pengenalan kembali tokoh-tokoh seperti Klono Sewandono menjadi bagian dari perkembangan modern Reog.

Tokoh-Tokoh Penting dalam Reog Ponorogo

Tokoh yang tampil dalam pertunjukan Reog antara lain Bujangganong, Singo Barong, dan Warok yang berperan sebagai pemimpin sekaligus pemain utama. Peran dan karakter tokoh dalam Reog tercermin melalui gerak tari dan unsur pertunjukan yang menggambarkan nilai kepahlawanan serta keluhuran budi.

Ciri-ciri Khusus Reog Ponorogo

Disajikan dalam Bentuk Sendratari

Reog dipentaskan dalam bentuk sendratari empat babak yang menceritakan perjalanan prajurit berkuda dari Ponorogo menuju Kerajaan Kediri untuk meminang putra-putri raja. Perjalanan dipimpin Bujangganong dan berakhir dengan pertempuran melawan Singobarong yang dimenangkan oleh prajurit Ponorogo.

Sebagai Alat Penggerak Massa

Reyg memiliki daya tarik besar yang mampu mengumpulkan banyak penonton. Bunyi gamelan dan iramanya membangkitkan semangat serta sering digunakan dalam pawai atau acara besar sebagai hiburan sekaligus penggerak massa.

Memiliki Sugesti yang Kuat

Pertunjukan Reog tersusun dalam beberapa kelompok: pengawal, pendamping, penari, penabuh gamelan, dan pengiring. Susunan ini menciptakan suasana hidup, meriah, dan mampu mempengaruhi penonton hingga ikut menari dan bersorak.

Berkaitan dengan Unsur Mistik

Reog dahulu erat dengan praktik mistik, seperti kekebalan tubuh atau kemampuan luar biasa para pemain. Unsur ini dianggap sebagai kekuatan spiritual yang mendukung pertunjukan, meskipun kini mulai berkurang.

Memiliki Lagu-lagu Khas Ponoragan

Reog menggunakan lagu khas seperti Ijo-ijo, Potrojoyo, Sampak, dan Iring-iring. Walaupun pengaruh modern masuk, lagu-lagu khas tersebut tetap menjadi identitas utama Reog.

Dapat Dipentaskan di Mana Saja

Reog dapat dimainkan di berbagai tempat, baik di alun-alun, halaman rumah, panggung, maupun sambil berjalan, tanpa memerlukan tempat khusus.

Dapat Ditampilkan dalam Berbagai Upacara

Reog digunakan dalam berbagai acara seperti pernikahan, khitanan, pawai, rapat umum, maupun hiburan biasa.

Dapat Dipentaskan Kapan Saja

Pertunjukan Reog tidak terikat waktu; dapat dimainkan pagi, siang, sore, maupun malam hari.

Ciri-ciri Khas Reog Ponorogo

Pakaian Daerah Khas Ponorogo

Semua peserta menggunakan pakaian hitam khas Ponorogo yang terdiri dari:

  • Ikat kepala (udheng/blangkon)

  • Baju hitam tanpa kerah sebagai simbol keterbukaan

  • Celana hitam (panjang atau celana prajurit/dingkikan)

  • Kolor putih (usus-usus) di pinggang

Seluruh Pemain Tradisionalnya Pria

Secara tradisional semua pemain Reog adalah laki-laki karena berkaitan dengan kepercayaan mistik. Dalam perkembangan modern muncul perubahan, namun secara historis perempuan dianggap tabu dalam pertunjukan tertentu.

Penari Kuda Kepang Anak Laki-laki (Gemblakan)

Penari kuda kepang dahulu dimainkan oleh anak laki-laki yang disebut gemblakan, yang berperan menggantikan unsur feminin dalam pertunjukan.

Menggunakan Gamelan Khusus Reog

Instrumen pengiring terdiri dari angklung, ketipung, kendhang, kempul, ketuk-kenong, dan terompet. Gamelan lain tidak dapat menggantikan karena akan menghilangkan keserasian pertunjukan.

Jenis Penari Khas Reyg

Penari utama Reyog terdiri dari:

  • Penari kuda kepang (2 orang)

  • Penari barongan (1 orang)

  • Penari topeng/Bujangganong (1 orang)

Barongan berbentuk kepala harimau dengan mahkota burung merak dan memiliki ciri berbeda dari kesenian lain.

Makna Reog Ponorogo

Unsur pertunjukan Reog seperti gerak tari dan penyajiannya mencerminkan nilai kepahlawanan serta keluhuran budi yang menjadi bagian dari pandangan hidup masyarakat.

Nilai-Nilai Budaya yang Terkandung

Nilai gotong royong tercermin dalam kesenian Reog, dan kelestariannya dijaga oleh generasi penerus yang bertanggung jawab memelihara warisan budaya leluhur.

Perkembangan dan Pelestarian Reog Ponorogo

Di tengah perkembangan zaman, Reog Ponorogo tetap beradaptasi agar tidak kehilangan relevansi. Berbagai upaya pelestarian pun terus digalakkan.

Adaptasi Reog di Era Modern

Pelestarian Reog dilakukan melalui pendidikan, salah satunya dengan memperkenalkan kesenian ini di sekolah-sekolah.

Upaya Pelestarian

Pemerintah daerah memberikan dukungan dan fasilitas dalam upaya pengembangan serta pelestarian kesenian Reog.

Peran Generasi Muda dalam Mewariskan Tradisi

Kelestarian Reog Ponorogo bergantung pada peran generasi penerus dalam menjaga dan mengembangkan warisan budaya tersebut.

Kesimpulan

Reog Ponorogo merupakan warisan budaya yang tidak hanya kaya sejarah, namun juga sarat makna dan pesan moral. Tradisi ini tetap relevan berkat adaptasi dan pelestarian berkelanjutan, terutama peran generasi muda dalam menjaga keberlangsungannya. Dengan memahami sejarah dan makna Reog Ponorogo, masyarakat dapat semakin menghargai kekayaan budaya yang diwariskan leluhur.

Reviewed by Melody Aria Putri, S.Hum., Gr.

Baca Juga: Mengenal Budaya Indonesia sebagai Warisan Keragaman dan Identitas Nusantara