Konten dari Pengguna

Sejarah dan Makna Tari Serimpi: Warisan Budaya Bangsawan Jawa

J

Jejak Sejarah

Artikel yang membahas seputar ilmu sejarah dalam maupun luar negeri.

·waktu baca 4 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Jejak Sejarah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi Tari Srimpi. Foto: Unsplash.
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Tari Srimpi. Foto: Unsplash.

Tari Serimpi merupakan salah satu bentuk seni tari tradisional yang berkembang di lingkungan keraton Jawa. Tarian ini dikenal memiliki keanggunan gerak dan sarat simbol budaya. Banyak orang mengapresiasi keindahan Tari Serimpi, baik dari segi sejarah maupun maknanya yang khas.

Definisi Tari Serimpi

Tari Serimpi identik dengan angka empat karena dibawakan oleh empat penari putri dengan perawakan serupa. Angka empat melambangkan empat penjuru mata angin dalam falsafah Jawa. Selain itu, kata srimpi juga dikaitkan dengan kata impi (mimpi), karena penyajiannya yang panjang memberi kesan membawa penonton ke suasana kontemplatif. Secara umum, Serimpi merupakan tari klasik putri gaya Yogyakarta dan Surakarta yang lebih muda dari Bedhaya dan biasanya bertema konflik atau peperangan simbolis.

Sejarah Tari Serimpi

Tari Serimpi memiliki akar sejarah yang kuat di lingkungan bangsawan Jawa. Menurut buku Tari Serimpi Ekspresi Budaya Para Bangsawan Jawa oleh Arif E. Suprihono, Tari Srimpi berkembang dalam lingkungan budaya Jawa, khususnya di kalangan bangsawan pada masa kejayaan kerajaan-kerajaan Jawa. Tarian ini menjadi ungkapan seni istana yang tidak terpisahkan dari kehidupan kosmis kerajaan serta pandangan budaya masing-masing istana.

Asal-Usul dan Perkembangan

Menurut tradisi sejarah, Tari Srimpi mulai dikenal pada masa pemerintahan Sultan Agung, sebagaimana tercatat dalam Serat Babat Nitik (1897). Srimpi dianggap sebagai bentuk ringkas dari tari bedhaya yang awalnya dibawakan oleh sembilan penari. Kedua tarian ini kemudian menjadi acuan bagi penciptaan tari-tarian istana berikutnya.

Konsep Penciptaan dalam Tradisi Jawa

Dalam tradisi budaya Jawa, karya tari istana sering dianggap sebagai hasil ciptaan bersama. Penciptaannya kerap dikaitkan dengan Kanjeng Ratu Kidul sebagai penguasa Laut Selatan, kemudian diserahkan kepada raja yang berkuasa. Pandangan ini menegaskan posisi raja sebagai pusat kehidupan budaya dan simbol kekuasaan dalam lingkungan kerajaan.

Makna Filosofis Tari Serimpi

Tari Serimpi mengandung makna filosofis yang berkaitan dengan simbolisasi kehidupan manusia dan pandangan kosmologis budaya Jawa, serta mencerminkan ekspresi budaya kalangan bangsawan istana.

Tari Srimpi di Keraton Yogyakarta

Ragam dan Jumlah Tari Srimpi

Di lingkungan Keraton Yogyakarta tercatat sekitar 37 judul tari Srimpi. Beberapa di antaranya memiliki kesamaan nama dengan Srimpi di Surakarta, yang diduga karena bentuk sajian atau iringan gending yang sama. Namun, kepastian mengenai persamaan tersebut masih memerlukan penelitian lebih lanjut, dan daftar ini masih mungkin berubah sesuai perkembangan sejarah.

Kedudukan Sakral dalam Tradisi Keraton

Di Keraton Yogyakarta, Tari Srimpi dianggap sebagai tarian sakral, sejajar dengan Bedhaya dan Wayang Wong. Pada masa pemerintahan raja-raja Yogyakarta, pementasannya diatur secara ketat dan biasanya berkaitan dengan upacara kenegaraan, seperti peringatan ulang tahun dan penobatan raja.

Unsur Pokok dan Struktur Penyajian

Tari Srimpi gaya Yogyakarta memiliki tiga unsur utama, yaitu gerak tari klasik gaya Yogyakarta, tata busana khas Srimpi, dan tema cerita yang diambil dari Mahabharata, cerita Menak, atau legenda Jawa. Struktur penyajiannya terdiri dari tiga bagian: maju gawang (masuk ke panggung), tarian pokok yang memuat inti cerita, dan mundur gawang (keluar panggung).

Tari Srimpi Gaya Surakarta

Ragam dan Persebaran

Di lingkungan Keraton Surakarta ditemukan sekitar 14 jenis Tari Srimpi, sementara di Pura Mangkunegaran terdapat dua jenis, dan di Pura Pakualaman juga ditemukan beberapa varian. Jumlah ini masih mungkin berubah karena keterbatasan sumber sejarah, namun menunjukkan bahwa Tari Srimpi pernah dilestarikan secara khusus di berbagai lingkungan istana Jawa.

Prinsip Dasar dan Perbedaan Gaya

Secara umum, Tari Srimpi gaya Surakarta memiliki prinsip dasar yang sama dengan gaya Yogyakarta, terutama dalam konsep, makna, dan fungsi simbolisnya. Perbedaan utama terletak pada aspek teknis penyajian, seperti gerak, iringan, dan detail koreografi, yang menjadi ciri khas masing-masing gaya.

Daftar Tari Srimpi Gaya Surakarta

Beberapa Tari Srimpi yang berkembang di lingkungan Surakarta antara lain Srimpi Anglirmendung, Bondan, Dhempel, Ganda Kusuma, Gambirsawit, Gendiyeng, Glondongpring, Jayaningsih, Lobong, Ludiromasu, Muncar, Sangupati, Sukarsih, dan Tamenggita.

Srimpi di Mangkunegaran dan Pakualaman

Di Pura Mangkunegaran dikenal Srimpi Anglirmendhung dan Mandrarini, sedangkan di Pura Pakualaman terdapat Srimpi Gandrungwinangun dan Mangungkung. Keberadaan berbagai varian ini menunjukkan kekayaan tradisi Srimpi di lingkungan istana Jawa serta upaya pelestariannya dari masa ke masa.

Peran Tari Serimpi dalam Kebudayaan Jawa

Tari Serimpi memiliki peran besar dalam pelestarian tradisi dan identitas budaya Jawa. Selain sebagai hiburan, tarian ini juga menjadi media pembelajaran nilai-nilai luhur yang diwariskan turun-temurun. Pertunjukan Tari Serimpi hingga kini masih sering digelar dalam acara adat maupun festival budaya.

Kesimpulan

Tari Serimpi merupakan salah satu warisan budaya yang memperlihatkan keanggunan seni dan filosofi hidup masyarakat Jawa. Dengan sejarah panjang, penggunaan properti yang khas, serta nilai simbolis yang mendalam, Tari Serimpi tetap menjadi bagian penting dalam kebudayaan Jawa. Pelestarian tari ini tidak hanya menjaga seni, tetapi juga menanamkan nilai-nilai luhur kepada generasi berikutnya.

Reviewed by Melody Aria Putri, S.Hum., Gr.

Baca Juga: Mengenal Budaya Indonesia sebagai Warisan Keragaman dan Identitas Nusantara