Sejarah dan Motif Kain Sasirangan Kalimantan
Artikel yang membahas seputar ilmu sejarah dalam maupun luar negeri.
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Jejak Sejarah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Kain sasirangan Kalimantan telah menjadi kebanggaan masyarakat Banjar dan dikenal luas di Indonesia. Kain ini tidak hanya memiliki nilai estetika, tetapi juga sarat dengan makna budaya dan sejarah yang panjang. Keberadaannya terus berkembang dari masa ke masa, mengikuti perubahan zaman tanpa kehilangan identitas aslinya.
Asal Usul Kain Sasirangan
Menurut artikel Pergeseran Fungsi dan Makna Simbolis Kain Sasirangan oleh Yunita Fitra Andriana, Asal-usul kain Sasirangan berawal dari cerita rakyat Kerajaan Negara Dipa di Kalimantan Selatan sekitar abad XII–XIV. Dalam kisah tersebut, Patih Lambung Mangkurat bertemu dengan Putri Junjung Buih yang bersedia muncul ke permukaan sungai dengan syarat dibuatkan istana dan sehelai kain berwarna kuning bermotif padiwaringin dalam satu hari.
Kain tersebut awalnya disebut kain Langgundi, yang kemudian dikenal sebagai kain Sasirangan. Motif padiwaringin dipercaya sebagai motif pertama dalam sejarah Sasirangan. Sejak saat itu, kain ini menjadi bagian penting dari budaya masyarakat Banjar.
Fungsi Kain Sasirangan
Seiring waktu, kain Sasirangan dipercaya memiliki khasiat penyembuhan dan dikenal sebagai kain Pamintan (kain permintaan). Kain ini dibuat berdasarkan permintaan seseorang yang sakit melalui perantara “orang pintar” yang mendiagnosis penyakit secara spiritual.
Sebelum digunakan, kain diasapi dupa dan dibacakan doa. Kain kemudian dikenakan sebagai sarung, bebat, selendang, atau ikat kepala sesuai jenis penyakit. Kain Pamintan dipandang sebagai media doa, sedangkan kesembuhan diyakini berasal dari Tuhan.
Proses pembuatannya bersifat tertutup dan tradisional, diwariskan secara turun-temurun, serta diawali dengan upacara selamatan dan sesaji khas Banjar.
Ragam Motif Sasirangan Kalimantan
Menurut Tugas Akhir Penciptaan Buku Ilustrasi Kain Sasirangan sebagai Upaya Promosi Seni Budaya Banjarmasin Kepada Remaja oleh Tonny Aries Wijaya, motif sasirangan Kalimantan sangat beragam. Setiap pola menyimpan arti tertentu yang berkaitan dengan filosofi hidup masyarakat Banjar.
Motif Hiris Pudak
Motif ini terinspirasi dari bunga pudak yang diiris atau dibelah. Pudak merupakan bunga yang harum dan bernilai simbolis dalam budaya Banjar. Motif ini melambangkan keharuman nama, kemuliaan, dan harapan akan kehidupan yang baik.
Motif Kambang Kacang
“Kambang” berarti bunga. Motif ini menggambarkan bunga kacang yang sederhana namun tumbuh subur. Maknanya berkaitan dengan kesederhanaan, kerendahan hati, dan kesuburan hidup.
Motif Bayam Raja
Terinspirasi dari tanaman bayam yang tumbuh kuat dan mudah berkembang. Kata “raja” memberi makna keagungan. Motif ini melambangkan kekuatan, ketahanan, dan martabat.
Motif Kulat Karikit
“Kulat” berarti jamur. Motif ini menggambarkan jamur kecil yang tumbuh berkelompok. Filosofinya berkaitan dengan kebersamaan, solidaritas, dan kehidupan yang saling mendukung.
Motif Ombak Sinapur Karang
Motif ini menyerupai gelombang laut yang menghantam karang. Maknanya melambangkan dinamika kehidupan, perjuangan, serta keteguhan dalam menghadapi rintangan.
Motif Bintang Bahambur
Motif ini menggambarkan bintang yang bertebaran (“bahambur”). Bintang sering dimaknai sebagai petunjuk arah dan harapan. Filosofinya berkaitan dengan cita-cita, harapan cerah, dan tuntunan hidup.
Motif Daun Jaruju
Jaruju adalah tanaman berduri yang tumbuh di daerah rawa atau pesisir. Motif ini melambangkan perlindungan diri, ketahanan, serta kemampuan bertahan dalam lingkungan yang keras.
Motif Gigi Haruan
Haruan (ikan gabus) dikenal kuat dan mampu bertahan hidup di berbagai kondisi air. Bentuk “gigi” pada motif ini menggambarkan ketegasan dan kekuatan. Maknanya berkaitan dengan ketangguhan dan daya juang.
Motif Kambang Sakaki
Motif bunga sakaki menggambarkan keindahan dan keanggunan. Biasanya dimaknai sebagai simbol kecantikan, kelembutan, dan keharmonisan.
Motif Hiris Gagatas
“Hiris” berarti irisan, sedangkan gagatas merujuk pada bentuk tertentu dalam simbol tradisional Banjar. Motif ini memiliki nilai simbolik yang dahulu dikaitkan dengan fungsi magis atau perlindungan dalam kain pamintan.
Motif Tampuk Manggis
Terinspirasi dari bagian atas buah manggis (tampuk). Motif ini melambangkan kejujuran dan keseimbangan, karena tampuk manggis dipercaya menunjukkan jumlah isi buahnya—simbol keterbukaan dan kebenaran.
Motif Kangkung Kaombakan
Motif ini menggambarkan tanaman kangkung yang terombang-ambing oleh air. Filosofinya berkaitan dengan keluwesan, kemampuan beradaptasi, dan tetap hidup meski mengikuti arus.
Warna Kain Sasirangan
Menurut artikel Pergeseran Fungsi dan Makna Simbolis Kain Sasirangan, selain motif, warna kain juga memiliki makna simbolis dalam konteks pengobatan, yaitu:
Kuning: untuk penyakit kuning.
Merah: untuk sakit kepala dan insomnia.
Hijau: untuk stroke atau kelumpuhan.
Hitam: untuk demam dan penyakit kulit.
Ungu: untuk penyakit perut seperti diare dan disentri.
Coklat: untuk gangguan tekanan jiwa atau stres.
Makna Budaya Kain Sasirangan
Kain Sasirangan tidak sekadar kain tradisional, tetapi memiliki nilai spiritual, simbolik, dan budaya yang kuat. Ia mencerminkan hubungan masyarakat Banjar dengan kepercayaan, tradisi leluhur, dan nilai religius. Hingga kini, Sasirangan tetap menjadi identitas budaya Kalimantan Selatan sekaligus warisan tradisi yang sarat makna.
Kesimpulan
Sasirangan Kalimantan bukan sekadar kain, melainkan warisan budaya yang terus hidup di tengah masyarakat. Sejarah dan motif kain sasirangan Kalimantan menunjukkan betapa kayanya tradisi lokal yang tetap relevan hingga kini. Melalui pelestarian dan inovasi, kain sasirangan Kalimantan akan terus menjadi identitas budaya yang membanggakan.
Reviewed by Melody Aria Putri, S.Hum., Gr.
Baca Juga: Mengenal Budaya Indonesia sebagai Warisan Keragaman dan Identitas Nusantara